
Ajakan sang istri untuk pulang ke Surabaya dengan tiba-tiba, membuat Pak Pandu semakin penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh sang putra. "Ada apa, Yud? Apa, ada yang tidak papa ketahui tentang Mama Leni?" cecar Pak Pandu dengan tidak sabar.
"Sebelum menikah dengan Papa, dia sudah menjalin hubungan dengan Refan, kakak sepupu Tante Zahira," terang Yudhistira, seraya menunjuk ke arah Leni yang wajahnya semakin pucat pasi.
"Yudhis, aku bisa melaporkan kamu atas tuduhan pencemaran ...."
"Diamlah dulu, Ma! Biarkan Yudhis mengatakan, apa yang dia ketahui!" sergah Pak Pandu, memotong perkataan istrinya.
"Tante Zahira? Istri Om Ratno, asisten almarhumah mama?" tanya Pak Pandu dengan dahi berkerut dalam dan Yudhistira menganggukkan kepala, memberi jawaban.
"Hubungan mereka berdua, masih terus berlanjut sampai sekarang, Pa. Dan kedua anak itu, anak kecil itu anaknya Om Refan!" Yudhistira menunjuk ke arah dua anak laki-laki yang berada dalam pelukan Leni.
"Itu tidak benar, Pa! Yudhis memfitnahku! Dia mencoba menghancurkan kebahagiaan kita, Pa!" seru Leni mencoba membela diri.
Yudhistira tersenyum, smirk. "Tidakkah Papa melihat wajah mereka berdua yang sangat mirip dengan Om Refan?" tanyanya seraya menoleh ke arah sang papa.
__ADS_1
"Mereka masih kecil, Yudhis! Wajah mereka masih saja bisa berubah-ubah!" sangkal Leni yang semakin emosi.
Sepertinya, Yudhistira memang sengaja ingin memancing emosi wanita muda istri dari sang papa itu terlebih dahulu. Pemuda tampan tersebut kemudian terkekeh, melihat kemarahan Leni. Dia terlihat sangat senang karena berhasil memancing di air yang keruh.
Sementara Pak Pandu, terlihat mulai ragu. Dia amati wajah kedua bocah kecil yang selama ini disayang-sayang. 'Apa yang dikatakan Yudhis, benar?' batinnya bertanya.
"Puas kamu, Yud! Jika kamu memiliki dendam padaku, tidak perlu kamu bawa-bawa anakku dan menyebar fitnah bahwa mereka bukan anak papamu!" geram Leni, setelah menyadari kedua putranya sangat ketakutan ditatap sedemikian rupa oleh sang papa. Putranya yang kecil bahkan mulai terisak.
"Pa, jangan menatap Feri seperti itu! Dia anak Papa! Mereka berdua anak-anak Papa, darah daging Papa! Percayalah padaku, Pa!" lanjutnya, seraya menatap Pak Pandu dengan tatapan protes karena sang suami telah membuat Fero dan Feri ketakutan.
Pak Pandu menerima ponsel dari tangan sang putra dengan tangan bergetar, setelah melihat gambar istri cantiknya dengan seorang laki-laki di sebuah kamar hotel. Pak Pandu menggeser layar ponsel milik Yudhistira untuk melihat gambar yang lain. Rahangnya mulai mengeras, menunjukkan kemarahan.
Satu persatu foto-foto kemesraan sang istri dengan laki-laki bernama Refan, tertangkap oleh indera penglihatannya. Begitu pula dengan foto-foto kebersamaan laki-laki tersebut dengan Fero dan Feri yang sedang berlibur ke luar negeri. Semua itu membuat dada Pak Pandu terasa sesak. Dia merasa telah ditipu habis-habisan oleh sang istri. "Laknat!" geram Pak Pandu.
Kemarahan Pak Pandu memuncak, ketika menemukan bukti rekaman video dimana Leni dan Refan sedang bermesraan. Didalam video, istrinya itu menunjukkan pada sang kekasih gelap, bukti tes DNA yang menunjukkan bahwa kedua putranya adalah anak kandung laki-laki tersebut. Pak Pandu kemudian menatap tajam pada Leni yang masih berdiri di tempatnya dengan ketakutan,
__ADS_1
Wanita itu teringat dengan perbincangannya bersama sang kekasih yang sengaja mereka rekam sebagai kenang-kenangan. 'Apa jangan-jangan, Yudhis mendapatkan bukti rekaman percakapan kami? Bodoh-bodoh! Bisa-bisanya kami dulu merekam obrolan itu!' monolog Leni, memaki kebodohan kecerobohonnya sendiri.
Ya, Refan pernah menyangsikan bahwa kedua anak laki-laki Leni adalah anaknya. Untuk meyakinkan Refan, mereka kemudian melakukan tes DNA dan laki-laki tersebut merasa sangat senang mengetahui kenyataan bahwa dialah yang berhasil menabur benih di rahim Leni. Mereka berdua nampak sangat bahagia dalam rekaman video tersebut.
"Aku sama sekali tidak menyangka, kamu tega melakukan ini padaku, Leni! Aku sudah memberikan semua yang kamu minta dan inikah balasanmu padaku!" geram Pak Pandu dengan mata berkilat penuh amarah.
Dada laki-laki paruh baya tersebut naik-turun, dengan napas memburu cepat. Kedua tangannya mengepal sempurna, siap meninju wajah sok suci sang istri. Melihat kemarahan sang suami, Leni langsung bersimpuh di tempatnya. Memohon maaf pada Pandu dan mengharap pengertian dari suaminya itu.
"Maafkan mama, Pa. Maaf ... mama khilaf," mohonnya, mulai terisak penuh drama. Leni kemudian memeluk kedua putranya yang juga berurai air mata, berharap sang suami luluh dengan tangis mereka bertiga.
Melihat drama rumah tangga sang papa, pemuda berambut gondrong tersebut tiba-tiba merasa lapar. Dia lewati papanya begitu saja, tanpa ingin ikut campur urusan mereka. Yudhistira segera berlalu hendak menuju ruang makan.
"Bi, tolong buatkan Yudhis mie instan dengan cabe setan karena setannya sudah kalah sekarang," pinta Yudhistira seraya terkekeh.
Membuat Bi Ani yang masih berdiri termangu dan melihat semuanya dengan tatapan bingung, semakin bingung mendengar permintaan tuan mudanya. "Apa, Den? Mie setan?"
__ADS_1
🌹🌹🌹bersambung ... 🌹🌹🌹