
Keberadaan Yudhistira di kediaman keluarga Antonio, membuat rumah besar yang biasanya hanya terlihat ramai jika hari sabtu dan minggu atau kalau ada liburan panjang saja, kini berubah. Rumah luas tersebut senantiasa terdengar riuh dengan tawa dan canda dari anak-anak keluarga Alamsyah-Antonio. Ya, mereka selalu menyempatkan diri sepulang beraktifitas untuk sekadar menjenguk calon tunangan Maira dan memberi support pada pemuda berambut gondrong sebahu itu.
Perkembangan kesembuhan kaki Yudhistira tergolong cepat. Hanya dalam hitungan minggu, pemuda tampan itu sudah berani berjalan meskipun masih harus dengan menggunakan alat bantu kruk untuk menopang bobot tubuhnya yang tinggi tegap. Maira dan Iqbal dengan telaten mendampingi Yudhistira berlatih setiap harinya.
Yudhistira bahkan juga sudah mulai ke kantor perusahaan sang opa, sekadar untuk berkenalan dengan para petinggi perusahaan dan guna mengenal lebih jauh seluk beluk perusahaan. Pemuda tampan tersebut selalu didampingi oleh Om Alex dan tentu saja sang kekasih, jika berkunjung ke perusahaan. Yudhistira terlihat bersungguh-sungguh belajar banyak hal mengenai perusahaan, baik dari Om Alex dan Daddy Rehan secara pribadi maupun langsung dari lapangan, dengan melihat langsung para karyawan bekerja.
"Mel, Yud. Om balik dulu, ya. Tadi Bulek Nisa berpesan agar Om makan siang di rumah soalnya," pamit Om Alex ketika tengah menemani Yudhistira dan Maira ke perusahaan keluarga Bisma, siang itu.
"Oh, tidak makan siang bareng kita saja, Om? Tadi nenek bawain bekal banyak lho, Om, untuk kita bertiga." Maira menunjukkan bekal yang tadi dia bawa yang tersimpan di atas meja, di sudut ruangan.
"Tidak, Mel. Kasihan bulekmu, sudah repot-repot masak tidak ada yang makan. Kalian saja yang makan bekal dari nenek," tolak Om Alex dengan halus.
Laki-laki paruh baya bertubuh tinggi tegap itu segera berlalu, meninggalkan ruangan presiden direktur yang sudah lama kosong dan tidak ditempati. Meskipun demikian, ruangan tersebut tetap terjaga kebersihan dan kerapiannya. Semua barang-barang milik Oma Saidah juga masih tersimpan rapi di sana.
Yudhistira belum memiliki keinginan untuk merubah apapun yang ada di sana. Pemuda tampan itu masih ingin bernostalgia dengan memandangi barang-barang kesukaan sang oma, seperti bunga tulip dalam vas cantik yang tersimpan di atas meja tamu. Juga gucci besar oleh-oleh dari mamanya kala mereka berlibur ke China, di sudut ruangan.
"Mas, yuk makan!" Suara merdu Maira, mengurai lamunan Yudhistira.
Pemuda tampan itu tersenyum dan kemudian berjalan perlahan dengan menggunakan kruk menuju sofa, di mana sang kekasih hati telah duduk di sana dan sedang menyiapkan makan siang. Yudhistira memandangi Maira dengan bibir yang terus menyunggingkan senyuman. Dia merasa sangat bahagia karena setelah rasa kehilangan yang begitu mendalam dengan kepergian sang oma, Yudhistira mendapatkan seseorang yang bukan hanya memberinya perhatian, tetapi juga cinta.
__ADS_1
"Mas, apa nasinya segini cukup? Mau lauk apa?" tanya Maira tanpa menoleh ke arah sang kekasih.
"Mas. Kok, malah bengong," protes Maira seraya mengibaskan tangan di depan wajah tampan Yudhistira. Setelah beberapa saat gadis cantik itu menanti, tetapi Yudhistira tidak memberikan jawaban dan malah hanya memandangi wajahnya saja.
"Eh ... Iya, Sayang. Kamu tanya apa, tadi?" Yudhistira mencondongkan tubuh, lebih mendekat ke arah Maira. Pemuda itu tersenyum manis hingga membuat Maira gadis berhijab itu salah tingkah.
"Mas, mundur, ah!" Maira mendorong pelan dada sang kekasih, merasa risih berada sedekat itu dengan pemuda yang belum ada ikatan sah di antara keduanya.
"Tubuhmu ada magnetnya, Dik. Aku enggak bisa jauh-jauh dari kamu," rajuk Yudhistira yang kembali mendekat, bahkan lebih dekat lagi.
Jarak keduanya, hampir terkikis habis. Bahkan hembusan napas Yudhistira, terasa hangat menampar pipi Maira. Membuat gadis cantik itu berdebar.
"Eit! Jangan dekat-dekat! Kalian mau berbuat mesum, ya!" tuduh Iqbal yang baru saja datang.
"Ck ... Kamu itu, lho, Dik. Siapa yang mau mesum, sih? Orang kita mau makan siang, kok!" protes Maira salah tingkah.
Kakak sepupu Iqbal itu segera mengambilkan lauk untuk sang kekasih, mencoba mengalihkan perhatian pemuda tengil yang baru saja datang tersebut. Kemudian memberikan piring yang telah berisi nasi dan lauk, kepada Yudhistira. "Makan yang banyak, Mas. Biar kuat menghadapi ketengilan Iqbal," ucap Maira seraya melirik sang adik sepupu.
Iqbal menanggapinya hanya dengan mengedikkan bahu.
__ADS_1
"Terima kasih," balas Yudhistira, seraya tersenyum.
"Tuh, tadi Mas Yudhis mepet-mepet mau apa coba? Kalau enggak mau nyium Kak Mela," lanjut Iqbal, masih dengan tuduhannya.
"Aku cuma pengin pastiin, Dik, tadi Dik Mela tanya apa sama aku?" Yudhistira membela diri, pemuda tampan itu kemudian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Yudhistira merasa salah tingkah juga dibuatnya karena memang benar adanya tadi, terbersit keinginan di hati untuk meminta ijin pada Maira, ingin mencium pipi gadis cantik yang menggemaskan itu. Namun, belum sempat keinginan Yudhistira terucap, Iqbal keburu datang dan menghentikan semua meskipun jika dia sempat meminta belum tentu juga gadis berhijab di sampingnya mengijinkan.
"Baru ditinggal bentar, udah mau nyari-nyari kesempatan aja! Untung tadi Iqbal langsung ke sini, kalau tidak ...."
"Kalau tidak, apa? Nih, makan! Kamu pasti lapar, kan, Dik, makanya ngomongnya jadi ngaco!" Maira menyodorkan piring miliknya yang sudah berisi nasi dan penuh dengan lauk kepada sang adik sepupu.
Iqbal menerimanya dengan tersenyum, nyengir. "Benar-benar pengertian kakakku yang cantik ini. Tahu aja adiknya yang paling tampan sedunia, kelaparan.' Putra sulung Om Ilham itu kemudian segera duduk di kursi kebesaran sang presdir.
Yudhistira tersenyum lebar mendengar perkataan Iqbal. Sementara Maira mencebik. Iqbal cuek saja dan langsung menikmati makanannya di singgasana milik Yudhistira.
Ya, Iqbal yang juga sering ikut mendampingi jika Yudhistira dan Maira pergi ke perusahaan, sangat senang duduk di kursi empuk tersebut. Pemuda yang suka jahil itu selalu mendampingi Maira, atas permintaan Daddy Rehan yang tidak ingin terjadi fitnah dalam hubungan mereka berdua. Tentu semua demi kebaikan Maira dan juga Yudhistira hingga mereka berdua nantinya resmi menjadi kekasih yang halal.
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น
__ADS_1