Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Papa Harus Sehat


__ADS_3

Pak Pandu langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat dan segera mendapatkan penanganan terbaik. Tidak lama kemudian papanya Yudhistira tersebut siuman. Atas bujukan Maira, sang papa mertua akhirnya bersedia di bawa untuk berobat ke Singapura. Sore itu juga, Pak Pandu di bawa terbang ke negeri Singa dengan menggunakan pesawat pribadi milik Daddy Rehan.


Beliau di dampingi oleh tim dokter terbaik. Sang putra beserta istri tercinta, juga ikut mendampingi. Di negeri singa sana, Zaki, kakak sepupu Maira sudah menyiapkan semua untuk menyambut Pak Pandu.


Pak Pandu dibawa ke rumah sakit terbesar dan ditangani oleh tim dokter hebat. Zaki telah memastikan bahwa papanya Yudhistira itu akan mendapatkan penanganan yang paling bagus di sana. Apalagi pemilik rumah sakit tersebut adalah sahabat Ayah Yusuf yang sekaligus om dari Fira.


"Dik, kalian mau menginap di apartemen atau di rumah Bunda?" tawar Zaki setelah mereka bertiga berada di teras paviliun rumah sakit.


"Di sini aja, Bang, biar bisa menemani papa," balas Maira yang tidak ingin meninggalkan sang papa mertua hanya berdua dengan Bi Ina yang juga diajak ke sana.


"Benar, Bang. Di paviliun ini 'kan, ada dua kamar lain selain kamar rawat papa. Yang satu bisa kami tempati," timpal Yudhistira seraya melirik sang istri. Pemuda tampan itu sangat senang karena Maira lebih mengutamakan sang papa ketimbang kepentingan mereka berdua, yang masih pengantin baru dan pastinya pengin selalu berduaan.


"Ya sudah jika itu mau kalian. Nanti Bunda sama Ning Laila biar ke sini untuk menemani. Abang tinggal dulu, ya. Ada dinner dengan klien," pamit Zaki kemudian.


"Makasih, Bang," balas Maira dan Zaki mengangguk sambil berlalu dari paviliun tempat Pak Pandu dirawat secara intensif.


"Sayang. Terima kasih ya, kamu udah mau mengorbankan waktu kita untuk menemani papa," ucap Yudhistira setelah punggung Zaki tidak lagi terlihat.


"Enggak perlu berterima kasih, Mas. Beliau 'kan papa kita. Sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk berbakti pada orang tua, bukan?" Maira menatap sang suami lalu bergelayut manja di lengan suaminya.

__ADS_1


"Lagian, kita masih punya banyak kesempatan di lain waktu jika ingin berduaan. Atau, kalau mau di sini juga bisa, kok," lanjut Maira yang kemudian melabuhkan ciuman di pipi sang suami.


Yudhistira tersenyum dan kemudian memeluk mesra pinggang sang istri. "Kamu menggodaku, Yang. Ayo, kita lakukan di kamar," ajak Yudhistira hendak menuntun sang istri menuju kamar.


"Mas, jangan sekarang, ah! Sebentar lagi Bunda sama Kak Laila 'kan mau ke sini. Nanti kalau tanggung enggak enak, loh," tolak Maira beralasan. "Lagipula, engga enak sama Bi Ina kali, Mas. Masak dia harus jagain papa sendirian. Mana papa belum tidur lagi," lanjutnya, membuat Yudhistira mengangguk mengerti.


Yudhistira lalu melabuhkan ciuman di puncak kepala sang istri. Ciuman yang lama dan dalam seraya mengucap syukur dalam hati karena memiliki istri yang berhati lembut dan pengertian pada orang-orang di sekitar. "I love you, Honey," ucapnya mesra di telinga sang istri.


Maira tersenyum lalu mendongakkan kepala. "Love you too, My hubby," balas Maira seraya mengusap rahang kokoh sang suami.


Mereka berdua lalu masuk ke dalam ruang rawat sang papa. Di sana, nampak Bi Ina sedang duduk di sofa sambil nonton televisi yang volume suaranya hampir tidak terdengar. Sementara Pak Pandu yang terbaring lemah di atas ranjang pasien, memejamkan mata.


"Sepertinya belum, Non," balas Bi Ina.


Maira mengangguk lalu berjalan mendekati ranjang pasien. Istri Yudhistira itu kemudian duduk di tepi ranjang pasien. Dia pijat dengan pelan kaki sang papa mertua.


Yudhistira yang berdiri tepat di samping sang istri, tersenyum. Semakin jatuh hati dengan sikap istrinya yang ternyata sangat lembut. Jauh berbeda dengan sikap keseharian Maira yang centil dan suka ceplas-ceplos.


"Apa abangmu sudah pulang, Nak Mela?" tanya Pak Pandu yang tiba-tiba membuka matanya. Suara laki-laki paruh baya tersebut terdengar sangat lemah.

__ADS_1


"Sudah, Pa. Baru saja," balas Maira. "Apa Papa mau sesuatu?," lanjutnya, bertanya.


Pak Pandu menggeleng lemah. "Nak, apa kata dokter tadi?" tanyanya yang ingin mengetahui tindakan apa yang akan dilakukan oleh tim dokter di rumah sakit ini.


"Bukan apa-apa, Pa. Paling mereka cuma menyarankan agar papa menjaga pola hidup sehat, agar jantung papa tetap sehat meski sudah terpasang dua ring di sana," balas Yudhistira.


"Pa. Kenapa Papa tidak pernah cerita sama Yudhis kalau Papa sudah pernah operasi pasang ring?" tanya Yudhistira seraya menatap sang papa, menuntut jawab.


"Maafkan papa, Yud. Papa cuma tidak mau membuat kamu khawatir. Sudah hampir setahun yang lalu jantung papa dipasang ring dan saat itu hubungan kamu sama mantan istri papa sedang buruk-buruknya," balas Pak Pandu.


Yudhistira masih hendak protes, tetapi sang istri menggeleng. "Udah, Mas, udah berlalu lama juga. Jangan buat papa menjadi merasa bersalah sama Mas Yudhis. Jangan bebani pikiran papa," bisik Maira dan pemuda tampan itu mengangguk, mengerti.


"Papa mengerti jika kamu marah sama papa, Yud, karena ini memang salah papa yang tidak terbuka padamu," lanjut Pak Pandu.


"Oke, Pa. Tidak masalah karena memang itu sudah berlalu. Mulai saat ini, Yudhis mohon Papa nurut dengan dokter, ya? Papa harus sehat. Papa harus lihat Yudhis memiliki anak dan menyaksikan tumbuh kembang mereka," pinta Yudhistira, membuat netra abu-abu sang papa berkaca-kaca.


Pak Pandu berjanji dalam hati, akan mulai hidup dengan cara yang sehat. Tidak seperti kemarin-kemarin yang sengaja memakan apa saja yang menjadi pantangan baginya karena merasa malu hidup dengan menanggung beban kesalahan yang telah diperbuatnya sendiri. Kesalahan yang sudah dimaafkan oleh sang putra, tetapi tetap saja Pak Pandu merasa malu dan ingin segera dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, menyusul almarhumah istri pertama, mama dari Yudhistira.


Karena itulah, Pak Pandu memaksa Daddy Rehan untuk mempercepat pernikahan putri bungsunya dengan Yudhistira. Namun, sekarang cara pandang Pak Pandu mulai berubah. Laki-laki paruh baya itu ingin bisa terus mendampingi sang putra tunggal bersama keluarga kecilnya.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน bersambung ... ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2