Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Calon Imamku


__ADS_3

Satu per satu pesawat pribadi yang membawa rombongan keluarga besar Alamsyah, Antonio, dan besan-besannya telah mendarat di pulau pribadi keluarga AA. Semua pelayan yang sudah bersiap segera menunjukkan kamar masing-masing tamu dan membawakan barang-barang mereka. Setelah menyimpan barang di kamar masing-masing, mereka kemudian berkumpul di hall untuk ngopi bareng, hall yang sudah didekorasi dengan sangat cantik oleh Om Devan untuk acara pertunangan kembar Maira dan Maida.


Keakraban dan kemeriahan tercipta di sana. Semua anggota keluarga geng tampan, berikut para besan, hadir dan terlihat saling akrab. Nampak pula sahabat Kevin, keluarga Angga dan Diandra yang juga sudah kenal dekat dengan mereka semua. Juga adik sepupu Daddy Rehan yang berdomisili di Bali, tetapi memiliki usaha kafe resto di ibukota, Adam dan Melati.


Mereka menikmati minuman hangat dan makanan ringan yang sudah disediakan oleh para pelayan yang bekerja di pulau pribadi tersebut. Ada juga yang makan malam karena sewaktu berangkat bakda maghrib tadi, belum sempat mengisi perut. Semuanya terlihat sangat berbahagia, seperti kebahagiaan yang dirasakan oleh kedua putri kembar Daddy Rehan dan Mommy Billa.


"Mai, tidak lihat adik kamu, Nak?" tanya Mommy Billa yang tidak menemukan sosok si bungsu di antara putra putrinya.


"Tadi ada, kok, Mom. Tidak tahu ya, sekarang dia kemana?" balas Maida seraya mengedarkan pandangan.


"Kak Mela sudah balik ke kamar Budhe, mau istirahat katanya," sahut Iqbal yang baru saja mendekat ke meja tersebut.


"Tapi Iqbal berani pastikan, sih, Budhe. Kak Mela tidak bakalan langsung tidur, dia pasti telponan dulu sama yayangnya," lanjut Iqbal, terkekeh.


Mommy Billa tersenyum seraya geleng-geleng kepala. "Oh, ya sudah. Biarkan saja dia di kamar," tuturnya kemudian, penuh pengertian.


"Kamu juga sebaiknya istirahat Mai, agar besok wajah kamu terlihat segar," lanjutnya menyuruh sang putri.


"Iya, Mom," balas Maida, patuh dan kemudian segera beranjak. Gadis cantik saudari kembar Maira itu segera berlalu dari sana, meninggalkan kemeriahan dan kehangatan di hall tersebut yang dihadirkan oleh saudara-saudaranya.


Sementara di balkon kamar Maira, gadis cantik itu tengah memandangi layar ponselnya. "Telepon enggak, ya?" gumamnya bertanya pada diri sendiri.

__ADS_1


"Mau telepon duluan tapi aku malu. Kalau nanti Mas Yudhis nanya kenapa aku nelepon, aku jawab apa coba? Tapi aku kangen meskipun tadi sore udah jalan sama dia," monolognya dengan bibir mengerucut.


Maira nampak masih menimbang-nimbang. Ragu, tapi dia benar-benar rindu. Baru saja gadis cantik itu membuka layar ponsel, gambar sang pangeran pujaan hati muncul di layar tersebut yang menandakan bahwa ada panggilan masuk dari pemuda tampan yang fotonya memenuhi layar ponsel Maira.


Buru-buru Maira menerima


telepon dari sang kekasih. "Halo, Mas. Assalamu'alaikum," sapa Maira, mendahului. Hatinya berbunga-bunga saat ini.


"Wa'alaikumsalam, Sayang. Kamu lagi apa, Dik? Belum tidur, hem?" balas dan tanya Yudhistira dengan suaranya yang terdengar begitu seksi, membuat Maira tersenyum di hati.


"Enggak lagi ngapa-ngapain, Mas. Mau tidur, tapi belum ngantuk," balas Maira, jujur. "Mas sendiri, kenapa belum tidur? Besok pagi 'kan harus berangkat ke sini, Mas?" lanjutnya, bertanya.


Pemuda di seberang sana tidak menjawab pertanyaan Maira, tetapi malah meminta untuk beralih ke panggilan video. Maira tersenyum kemudian. Buru-buru dia menyambar hijab yang barusan di lepas begitu masuk ke dalam kamar dan segera mengenakannya kembali.


"Dik, aku kangen sama kamu," ucap Yudhistira pelan, memecah kesunyian.


Maira tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang rapi dan putih bersih. Senyuman yang membuat wajahnya terlihat semakin menggemaskan di mata Yudhistira.


"Hai, kenapa senyum-senyum? Apa kamu tidak kangen padaku, Sayang?" tanya Yudhistira sambil terus memandangi wajah cantik yang memenuhi layar ponselnya itu.


"Enggak," balas Maira seraya mengalihkan pandangan dan menutup mulutnya, menyembunyikan senyumnya.

__ADS_1


"Coba kamu katakan sekali lagi, Dik, kalau kamu enggak kangen sama aku," pinta Yudhistira dengan dahi berkerut dan bibir cemberut.


Maira kembali menatap layar ponsel dan memandangi wajah tampan sang kekasih. Gadis cantik itu kemudian tersenyum. "Enggak salah, Mas. Aku juga kangen, kok, sama Mas Yudis," balasnya kemudian dengan suara yang terdengar begitu merdu, membuat Yudhistira berdebar dan melayang-layang.


Yudhistira tersenyum, bahagia. Netranya sama sekali tidak berkedip, menatap dalam netra indah sang kekasih. Untuk beberapa saat, keduanya kembali terdiam dan hanya saling pandang dengan dada yang sama-sama berdebar kencang.


"Dik Mela, Sayang. Kalau aku kembali meminta pada kedua orang tuamu, meminta restu untuk menikahimu secepatnya, apakah kamu benar-benar siap dan bersedia, Sayang?" tanya Yudhistira sekali lag, hendak meyakinkan hati.


Gadis berhijab itu hanya mampu menganggukkan kepala dengan perasaan yang membuncah bahagia. Ini adalah cinta pertamanya. Cinta yang datang begitu tiba-tiba dan dia benar-benar sangat mencintai pemuda yang wajahnya memenuhi layar ponselnya.


Maira menatap netra elang sang kekasih dan kemudian kembali menganggukkan kepala dengan pasti, memberikan jawaban untuk sang kekasih hati.


Yudhistira tersenyum lega, kemudian. Kekuatan cinta mereka berdua, memang tidak perlu diragukan. Keduanya sudah melewati ujian yang cukup berat untuk bisa bersama seperti sekarang.


Kini, mereka hendak melangkah menuju ke jenjang yang lebih serius, yaitu pertunangan. Tentu, ini sangat membahagiakan bagi mereka berdua yang tengah dimabuk kepayang. Akankah restu juga akan mereka dapatkan untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan?


Pertanyaan itulah yang sangat mengganggu pikiran Yudhistira dan untuk mengurai keraguannya, pemuda tampan itu harus mendapatkan jawaban sekali lagi dengan pasti dari sang kekasih hati bahwa Maira juga bersedia menikah dengannya. Sekarang, Yudhistira dapat bernapas dengan lega setelah mendapatkan jawaban tanpa keraguan dari Maira.


"Besok, aku akan meminta langsung pada daddy dan mommymu, Dik. Bersiaplah untuk menjadi istriku. I love you, Sayangku," pungkas Yudhistira, mengakhiri panggilan videonya.


Maira segera berlari menuju ranjang dan kemudian mendekap erat ponsel di dada dengan hati yang membuncah bahagia. Gadis cantik itu memejamkan mata dengan bibir yang terus saja menyunggingkan senyuman indahnya. "I love you, too, calon imamku," gumamnya, pelan.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน bersambung ... ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2