
Begitu mendengar dari penjaga rumah Yudhistira bahwa pemuda tersebut mengalami kecelakaan dini hari tadi dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit Harapan, Maira yang kebetulan libur kuliah dan gadis itu sedang bermalas-malasan serta enggan keluar rumah, segera bersiap untuk pergi ke rumah sakit.
"Dad ... ayo, cepetan!" seru Maira setelah berganti pakaian dengan cepat, memanggil sang daddy yang masih berada di dalam kamar.
"Sabar, Mel," ucap Maida yang tidak ikut pergi karena ada janji dengan sang kekasih, untuk menghadiri pernikahan saudara sepupunya.
"Kak, tolong kabari Bang Kevin, ya," pinta Maira sambil berjalan menuju pintu keluar, setelah melihat sang daddy dan mommy-nya keluar dari kamar dan sudah siap untuk berangkat.
Maida tidak menjawab, tetapi langsung menelepon abang sulungnya itu sambil berjalan mengekor langkah Maira menuju teras.
"Enggak diangkat, Mel," ucap Maida setelah melakukan panggilan dua kali, tetapi nomor sang abang yang dihubungi tidak menerima panggilannya.
"Lagi di jalan, mungkin. Tadi abang kalian telepon daddy, katanya mau nyamperin Nak Yudhis ke rumah karena dia dari tadi tidak dapat dihubungi," sahut sang daddy.
Baru saja Daddy Rehan selesai berbicara, mobil Kevin nampak memasuki pintu gerbang yang tinggi menjulang.
"Panjang umur si abang," tutur Mommy Billa seraya tersenyum, menyambut kehadiran Kevin.
"Daddy sama Mommy, mau ke rumah sakit, kan?" tanya Kevin, begitu putra sulung Daddy Rehan tersebut baru saja turun dari mobil mewahnya.
Kevin kemudian menyalami kedua orang tuanya.
"Benar, Bang. Ayo, kita berangkat sekarang!" ajak sang daddy.
"Kita satu mobil saja, Dad," ajak Kevin yang kemudian membukakan pintu bagian belakang untuk sang daddy dan sang mommy.
"Baiklah. Daddy akan hubungi Om Alex, biar dia menyusul ke rumah sakit."
Sementara Maira duduk di bangku depan, di samping sang abang.
__ADS_1
Maida melepaskan kepergian mereka, dengan melambaikan tangan seraya teriring do'a untuk kesembuhan pemuda yang disayang oleh saudari kembarnya.
Setelah duduk dengan nyaman di bangku belakang bersama sang istri tercinta, daddy tampan itu segera menghubungi asisten abadinya.
"Lex, ke rumah sakit Harapan sekarang. Yudhis mengalami kecelakaan," pinta Daddy Rehan setelah panggilannya diterima oleh Om Alex dan tanpa menunggu persetujuan orang yang disuruh, Daddy Rehan segera menutup panggilan seperti kebiasaannya selama ini.
Kebiasaan yang membuat sang asisten seringkali dibuat keki dengan kelakuan daddy enam anak, yang semakin berumur semakin menawan tersebut.
Mobil Kevin terus melaju dengan kecepatan cukup tinggi, agar segera sampai rumah sakit tempat di mana Yudhistira dirawat.
Setelah Daddy Rehan mengakhiri panggilannya tadi, sepanjang perjalanan tersebut tidak terdengar lagi suara. Masing-masing diam dan sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Maira yang menyesali, kenapa malam itu dia tidak memberikan Yudhistira kesempatan untuk menjelaskan dan membuktikan pada dirinya bahwa Yudhistira tidak bersalah.
Bahkan, dia justru nge-judge pemuda tersebut sebagai berandal. Hingga membuat Yudhistira menjauh darinya beberapa waktu terakhir, setelah kepergian sang oma.
Sementara Kevin dengan pemikirannya sendiri yang menyayangkan, kenapa semalam Yudhistira menolak ketika dia ajak untuk pulang ke rumah.
Kakak sulung Maira itu juga menyesal, kenapa tidak dia saja yang menginap di kediaman keluarga Bisma. Sehingga dini hari tadi, dia akan dapat mencegah ketika Yudhistira hendak keluar dari rumah dan kembali kebut-kebutan di jalan yang mengakibatkan kecelakaan itu terjadi.
"Bang, nanti begitu sampai rumah sakit, Abang langsung urus administrasinya. Setelah itu, ajak Om Alex ke kantor polisi untuk mengusut tuntas kecelakaan yang menimpa dia," titah sang daddy, mengurai lamunan Kevin.
"Siap, Dad," balas putra sulung yang sudah menjadi hot daddy di usianya yang masih sangat muda kala itu.
Kevin saat ini, bahkan sering dikira sebagai sugar daddy-nya Vinsa oleh teman-teman sekolah putri sulungnya yang saat ini duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, ketika Kevin menjemput sang putri di sekolah.
Mobil yang dikendarai Kevin memasuki area parkir rumah sakit besar tersebut dan setelah menurunkan kedua orang tuanya serta sang adik yang wajahnya bergelayut mendung di depan lobi rumah sakit, Kevin segera memarkirkan mobilnya di tempat yang tersedia.
Daddy Rehan segera menggandeng sang istri di sisi kanan dan merangkul pundak sang putri di sisi kirinya, memasuki rumah sakit dan langsung menuju bagian informasi untuk menanyakan keberadaan Yudhistira.
__ADS_1
"Oh, pasien korban kecelakaan saat ini masih di IGD, Pak dan pihak kami memang menunggu kehadiran keluarga korban agar bisa segera dilakukan tindakan karena sepertinya kaki korban mengalami cidera serius," balas petugas di bagian informasi tersebut, dengan detail.
Mendengar penjelasan petugas cantik tersebut, air mata Maira yang sedari tadi sudah menggenang di pelupuk mata, langsung meluncur bebas, tak dapat lagi dia bendung.
Maira mendahului sang daddy dan sang mommy dengan berlari kecil, untuk menuju ruangan yang ditunjukkan oleh petugas di bagian informasi barusan.
Tepat di saat gadis cantik itu tiba di depan ruangan IGD, Maira melihat seorang dokter yang diikuti oleh perawat keluar dari ruangan yang bercat serba putih tersebut.
Langkah Maira sempat terasa lemas melihat ruangan yang pintunya tertutup rapat tersebut. Memorinya kembali ke masa beberapa minggu yang lalu, ketika sedang menjenguk omanya Yudhistira.
'Ya Rabb, selamatkan dia,' do'a Maira, penuh harap.
"Dok, bagaimana kondisi pasien kecelakaan atas nama Yudhistira?" tanya Maira setelah mendekati dokter jaga.
Dokter tersebut mengernyit, menatap Maira.
"Saya keluarganya, Dok. Saya datang bersama kedua orang tua saya," terang Maira, kemudian.
Tepat di saat yang sama, Daddy Rehan dan sang istri, berjalan mendekat.
"Saat ini korban masih tidak sadarkan diri dan mengenai luka yang dideritanya, memang sudah kami tangani. Hanya saja untuk patah kaki di kaki kanannya, kami belum mengambil tindakan dan masih menunggu persetujuan pihak keluarga," terang dokter tersebut.
"Memangnya, separah apa kondisi kakinya, Dok? Kalau memang patah dan harus diambil tindakan operasi, segera lakukan!" tegas Daddy Rehan.
Dokter tersebut menggeleng. "Cukup parah, Pak. Kemungkinan besar harus diambil tindakan amputasi karena lukanya terbuka dan sangat serius."
Maira langsung terduduk lemas di lantai rumah sakit yang dingin. Air matanya mengalir deras, seiring punggungnya yang berguncang. Gadis cantik itu menangis dalam diam.
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น
__ADS_1