
Waktu terus berlalu. Selama Pak Pandu menjalani terapi, Yudhistira dan Maira harus rela bolak-balik Jakarta-Singapura karena mereka juga tetap harus kuliah. Sementara untuk urusan perusahaan milik Bisma, saat ini dipegang oleh Om Alex sampai kondisi Pak Pandu benar-benar sehat dan dapat membantu Yudhistira di perusahaan.
Selama itu pula, hubungan Yudhistira dan Maira semakin mesra. Mereka layaknya sepasang muda-mudi yang sedang berpacaran. Usia yang memang masih tergolong belia, serta masa pendekatan yang cukup singkat sebelum akhirnya menikah, membuat mereka berdua memanfaatkan momen ini untuk saling mengenal lebih dekat.
"Mas, kita bawain papa oleh-oleh apa, ya, dari sini?" tanya Maira ketika mereka berdua hendak kembali berangkat ke Singapura karena libur weekend.
"Apa aja, terserah kamu, Yang. Kamu yang lebih tahu tentang selera papa karena selama hampir sebulan ini, kalian berdua nampak sangat akrab bahkan papa lebih dekat sama kamu dibanding aku," balas Yudhistira seraya memeluk sang istri dari belakang.
"Aku buatkan kue kering aja, ya. Aku ingat, papa suka banget kue nastar. Katanya, kalau papa makan nastar jadi keinget sama almarhumah mama," ucap Maira, seraya membalikkan badan menatap sang suami.
"Apa enggak repot, Yang. Kalau sekiranya ribet, kita beli aja," saran Yudhistira lalu menciumi pipi sang istri.
"Enggak apa-apa, Mas. Repot sedikit tidak mengapa, demi papa," balas Maira, membuat Yudhistira semakin gemas pada sang istri yang selalu bisa membuatnya kagum karena perhatian Maira pada papanya.
Yudhistira berkali-kali dibuat jatuh cinta pada sang istri, begitu mengetahui sifat asli Maira yang tidak bawel seperti tutur katanya. Begitu pula dengan Maira. Wanita cantik itu juga dibuat kagum dengan sikap sang suami yang sangat dewasa. Berbeda jauh dengan Yudhistira di masa kemarin di mana pemuda tampan itu masih sering terbawa emosi dan menuruti kemauannya sendiri tanpa berpikir panjang.
Kejadian-demi kejadian yang beruntun dia alami, rupanya telah menempa Yudhistira menjadi sosok yang lebih dewasa dan bijak dalam berpikir dan bertindak. Apalagi saat ini dia telah memiliki tanggung jawab baru, yaitu sebagai suami. Yudhistira berjanji akan menjadi suami yang baik untuk sang istri tercinta dan ayah yang baik bagi anak-anak, seperti sang ayah mertua.
Ya, Yudhistira mengagumi keluarga mertuanya yang tetap romantis pada istri meski usia mereka berdua tidak lagi muda, dan memiliki anak-anak yang penurut dan santun. Diam-diam, Yudhistira selalu mengamati bagaimana cara Daddy Rehan berinteraksi dengan istri dan juga anak-anaknya. Dia juga mengamati, bagaimana ayah mertuanya itu memperlakukan para sahabat.
__ADS_1
"Apa yang bisa aku bantu, Yang?" tanya Yudhistira ketika mereka berdua sudah berada di dapur.
Maira pun meminta sang suami untuk memblender telor dan semua bahan yang sudah dicampur dalam wadah. Istri cantik Yudhistira itu mulai usil. Dia sengaja menempelkan telapak tangannya yang terkena tepung, ke pipi sang suami.
"Biar kelihatan kalau Mas ini benar-benar bantuin aku bikin kue," ucap Maira sambil terkekeh.
"Jahil ya, kamu." Yudhistira pun membalas.
Mereka berdua membuat kue sambil bercanda. Wajah keduanya telah sama-sama memutih. Begitu pula dengan rambut dan pakaian. Kejahilan dan keusilan keduanya, sukses membuat dapur menjadi berantakan.
"Udah selesai, kan? Mandi bareng, yuk!" ajak Yudhistira kemudian, setelah mereka berdua bekerja sama membersihkan dapur.
"Baiklah. Aku isi bathup dulu, ya," ucap Yudhistira seraya tersenyum dan mengerlingkan mata.
Maira tersenyum lalu menganggukkan kepala. Dia paham betul apa yang dimaui oleh sang suami jika sudah menyiapkan bathup. Istri cantik Yudhistira itu pun segera melanjutkan pekerjaannya agar cepat selesai.
Setelah beberapa saat, Maira yang telah selesai menyimpan kue nastar ke dalam toples kedap udara lalu menyusul sang suami ke kamar. Dia lihat suaminya sedang duduk santai di balkon sambil memainkan ponsel. Maira kemudian mendekati Yudhistira.
"Mas, udah selesai. Jadi mandi bareng atau aku mandi duluan?" tawar Maira.
__ADS_1
Yudhistira langsung beranjak. Melempar dengan asal ponsel di atas ranjang lalu mengangkat tubuh sang istri. Membuat Maira yang tidak siap, menjerit kecil karena terkejut.
"Mas Yudhis sukanya gitu, deh, bikin kaget aja," protes Maira seraya memukul pelan dada sang suami.
Yudhistira terkekeh kecil. "Tapi kamu suka, kan?"
Suami tampan Maira itu segera mendudukkan sang istri di atas closet lalu mulai melepaskan satu persatu pakaian yang melekat di tubuh istrinya. Dia lempar pakaian sang istri di keranjang baju kotor. Setelah Yudhistira juga melepaskan seluruh pakaiannya, dia kembali membopong Maira dan membawanya ke dalam bathup.
"Mau berapa ronde, Yang? Hem?" tanya Yudhistira yang mulai mencumbui istrinya di dalam bak mandi besar yang muat dua orang dewasa tersebut.
"Satu aja, Mas. Nanti kita kemaleman, loh, sampai sana kalau kita kelamaan mandinya," balas Maira dengan mata terpejam, menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh sang suami.
"Tidak mengapa kemaleman, Yang. Pokoknya aku akan terus mencetak gol sampai benihku ada yang tumbuh di sini," ucap Yudhistira seraya meraba perut rata sang istri lalu tangannya terus ke bawah sana.
"Kamu tidak keberatan 'kan jika langsung mengandung anakku?" lanjutnya, memastikan.
"Tidak, lah, Mas. Aku malah senang jika kita langsung dikasih momongan. Rumah kita akan ramai dengan suara anak-anak," balas Maira.
Perkataan sang istri membuat Yudhistira semakin bersemangat mencumbui istrinya. Pemuda tampan itu tersenyum kala menemukan lembah favoritnya, surga dunia miliknya. "Aku mulai ronde pertama, ya," bisiknya lembut di telinga sang istri dan Maira hanya bisa mengangguk, pasrah.
__ADS_1
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น