Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Rumah Impianku


__ADS_3

Tengah berbahagia menanti hari pertunangan, pagi ini Yudhistira dikejutkan dengan kedatangan Awang dan dua orang wanita paruh baya. Pemuda itu mengerutkan dahi kala mengenali salah satu dari dua wanita tersebut. Dia adalah mamanya Willy, teman yang juga telah mengkhianatinya sama seperti Awang.


"Ada apa, Wang?" tanya Yudhistira yang kini sudah berada di kediamannya sendiri untuk mempersiapkan acara pertunangan, dengan dingin.


"Tante Nita dan Tante Ratih mau bicara sama kamu, Yud," balas Awang.


"Silakan duduk, Tante." Yudhistira yang enggan membawa tamunya masuk ke dalam rumah, mempersilakan mereka untuk duduk di teras.


Mereka semua kemudian duduk di kursi yang terbuat dari rotan dengan saling berhadapan. Yudhistira, berhadapan dengan Awang dan kedua wanita paruh baya tersebut juga duduk berhadapan. Mereka berempat tidak ada yang langsung membuka suara sehingga keheningan sejenak tercipta.


"Nak Yudhis, maaf jika kedatangan tante mengganggu istirahat Nak Yudhis," ucap salah seorang wanita paruh baya tersebut.


"Tidak mengganggu sama sekali, Tante. Kalau boleh Yudhis tahu, ada apa Tante Nita menemui Yudhis?" balas dan tanya Yudhistira, kemudian.


"Ini tentang Willy dan Aaron putra Tante Ratna, Nak Yudhis." Tante Nita menunjuk wanita seusia dirinya yang duduk di hadapannya.


"Oh, tante mamanya Aaron?" tanya Yudhistira yang baru pertama kali melihat wanita paruh baya tersebut.


Wanita yang terlihat angkuh itu hanya menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Tujuan kami kemari, untuk minta tolong pada Nak Yudhis agar Nak Yudhis mau memaafkan putra kami dan mengusahakan supaya mereka mendapatkan keringanan hukuman," pintar Tante Nita dengan memelas.


"Maaf, Tante. Yudhis tidak pernah menuntut untuk memberatkan hukuman mereka. Hukuman yang diterima oleh Willy dan Aaron saat ini, sesuai dengan pasal yang berlaku. Jadi, maaf banget, Tan. Yudhis benar-benar tidak dapat membantu seperti yang pernah Yudhis katakan pada Tante Nita sewaktu di rumah sakit," balas Yudhistira, tegas.


Ya, mamanya Willy dan papanya Aaron sudah pernah mendatangi Yudhistira di rumah sakit ketika hendak sidang yang pertama. Kala itu, Tante Nita juga meminta hal yang sama pada Yudhistira agar tidak memberatkan putranya atau jika pemuda itu bersedia, membebaskan Willy. Begitu pula dengan papanya Aaron. Bahkan kedua orang tua tersebut bersedia memberikan ganti rugi, apapun yang diminta oleh Yudhistira.


Atas saran Daddy Rehan, Yudhistira membiarkan begitu saja kasusnya berjalan dan diurus oleh pihak yang berwajib. Dia tidak menuntut, tetapi juga tidak membebaskan. Biarlah, hukum yang berlaku yang berbicara. Kabarnya, Willy dan Aaron selalu otak dari sabotase yang menyebabkan Yudhistira mengalami kecelakaan, mendapatkan hukuman yang berat.


"Tante pikir, kamu adalah temannya Willy yang baik, tapi ternyata Tante salah." Mamanya Willy nampak sangat kecewa.


"Apa Tante pikir, putra Tante juga teman yang baik bagi Yudhis? Mana ada, Tan, teman baik yang tega mencelakai temannya sendiri? Beruntung, Yudhis cuma mengalami patah kaki, Tan. Bagaimana coba, kalau sampai Yudhis cacat atau lebih fatal lagi, sampai Yudhis meninggal?" Yudhistira yang tidak mengerti dengan jalan pikiran mamanya Willy, segera beranjak.


"Maaf, masih banyak pekerjaan yang harus Yudhis selesaikan." Yudhistira mengusir tamunya dengan cara halus.


"Oke, Yud. Kami permisi," pamit Awang, mewakili kedua wanita paruh baya yang terlihat kesal tersebut karena merasa apa yang dilakukan pagi ini, sia-sia belaka. "Sekali lagi, maafkan aku, Yud," pinta Awang sebelum berlalu.


Yudhistira hanya membalas dengan anggukan kepala. Pemuda itu segera masuk ke dalam setelah ketiga tamunya, menghilang di dalam mobil. Baru saja Yudhistira hendak menutup pintu, pemuda itu melihat ada mobil taksi yang masuk ke halaman rumah.


Pemuda berambut gondrong tersebut mengerutkan dahi ketika melihat siapa yang datang. Papanya bersama seorang wanita yang berdandan seperti badut dan memakai perhiasan seperti toko mas berjalan, baru saja turun dari taksi. Diikuti oleh dua anak laki-laki yang langsung berlarian di halaman yang luas kediaman Bisma.

__ADS_1


"Huh ... gangguan apalagi, ini," gerutu Yudhistira setelah membuang kasar napasnya. Dia urungkan menutup pintu tersebut dan membiarkannya terbuka sedikit. Yudhistira tidak langsung masuk ke dalam, tetapi masih menanti di balik pintu.


"Kenapa papa mengajak dia segala, sih?" protes Yudhistira seraya mengintip keluar dari balik pintu yang terbuka sedikit.


Ya, Yudhistira memang memberi kabar pada sang papa tentang rencana pertunangannya karena bagaimanapun, Pandu adalah papanya dan saat ini masih ada. Yudhistira tidak mau dianggap sebagai anak yang durhaka jika tidak memberitahu sang papa kabar bahagia ini. Namun, setelah sang papa datang, dia malah terlihat menyesal karena papanya mengajak serta wanita yang sangat membenci Yudhistira.


"Wah, rumahnya super besar dan mewah ya, Pa!" seru istri sang papa yang nampak mengagumi bangunan rumah peninggalan Oma Bisma.


Pak Pandu hanya mengangguk dan tersenyum, kikuk.


"Mama juga mau kalau Papa ajak pindah ke sini. Tidak apa-apa mama jauh dari keluarga, tidak masalah juga jika anak-anak harus pindah sekolah, yang penting kita semua bisa berkumpul bersama Yudhis." Wanita ambisius itu mulai melancarkan aksinya, merayu sang suami agar membujuk Yudhistira supaya mereka diperbolehkan untuk tinggal dan menetap di Jakarta.


Yudhis yang masih berada di balik pintu dan dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh istri muda sang papa, hanya bisa mengelus dada. "Benar-benar wanita yang serakah!"


Bergegas, Yudhistira masuk ke dalam dan kemudian menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya. Dia enggan untuk menemui sang papa, terutama mama tirinya yang kelakuannya semakin memuakkan.


Pak Pandu segera mengajak istri dan anaknya masuk ke dalam. Wanita itu semakin berdecak, kagum. "Pa, rumah ini benar-benar rumah impianku, Pa. Kita pindah ke sini, ya?" rajuknya, manja.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน bersambung ... ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2