Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Dua Garis Merah


__ADS_3

Kehadiran putri bungsu Daddy Rehan ke kediaman keluarga Bisma tersebut, tentu saja disambut hangat oleh omanya Yudhistira.


Sang oma yang sedang duduk santai sambil menonton acara talk show di salah satu channel televisi itu langsung beranjak, untuk menyambut Maira.


"Kenapa tidak menghubungi Yudhis dahulu, Nak, biar dia jemput kamu," protes sang oma, setelah memeluk Maira.


"Tidak apa-apa, Oma. 'Kan cuma ke sini," balas Maira seraya menyimpan kotak kue di atas meja.


"Ini juga dadakan, kok, Oma. Mommy baru saja bikin kue, terus mommy nyuruh Maira agar mengantarkan kuenya untuk oma," lanjutnya.


"Berarti hanya untuk Oma saja, Dik? Buat aku, enggak ada?" protes Yudhistira, bertanya.


Pemuda yang kini telah berganti celana dengan kain sarung tersebut, kemudian duduk di samping Maira.


"Ya 'kan, bisa barengan, Mas. Enggak mungkin juga, Oma bisa menghabiskan semuanya. Lagipula rasanya manis, enggak baik kalau Oma makan banyak-banyak," balas Maira.


"Benar 'kan, Oma?" Maira kemudian menoleh ke arah wanita tua yang sedang membuka kotak kue dari Mommy Billa.


"Benar, Yudhis. Oma nyicip dikit saja, nanti sisanya kalian saja yang habiskan sambil ngobrol," balas sang oma.


"Kamu tidak buru-buru pulang 'kan, Nak?" lanjutnya, bertanya.


"Maaf, Oma. Ini sudah malam, Maira ke sini hanya mengantarkan kue saja, kok," sanggah Maira yang tidak ingin berlama-lama di sini seperti biasanya, jika siang hari sepulang kuliah.


Ya, jika Maida tidak ikut satu mobil dengan Maira dan Yudhistira, maka pemuda itu akan langsung membawa Maira pulang ke rumahnya dan bungsu keluarga Rehan Alamsyah tersebut kemudian akan menghabiskan waktu hingga sore di sana.


Maira akan bercengkrama dengan omanya Yudhistira sambil membantu wanita tua itu memasak aneka kue. Hal itulah yang membuat Yudhistira diam-diam semakin jatuh hati pada gadis periang dan cerdas tersebut.


"Kesininya sengaja malam, ya, biar cuma sebentar?" Yudhistira melirik gadis yang malam ini memakai gaun berwarna pastel, dipadukan dengan pasmina motif batik cantik, hingga membuat Maira terlihat lebih dewasa dari usianya.


Maira hanya tersenyum, tidak menanggapi pertanyaan Yudhistira yang terdengar tidak suka jika dirinya hanya di sana sebentar saja.


"Sudah, ini kalian makan, ya. Oma sudah makan sedikit, oma mau istirahat," pamit sang oma seraya menggeser kotak kue yang sudah terbuka, ke hadapan Maira dan Yudhistira.


Wanita tua itu kemudian beranjak.

__ADS_1


"Kalau begitu, Maira juga mohon pamit, Oma." Maira ikut beranjak, tetapi Yudhistira segera menahan lengan gadis cantik itu.


"Nanti saja, Dik, nanti aku antar."


"Benar, Nak. Kalian silakan ngobrol dulu, nanti pulangnya kamu diantarkan Yudhis," timpal sang oma, menyetujui keinginan sang cucu yang masih ingin berlama-lama dengan Maira.


Gadis berhijab pasmina itu kembali duduk, setelah salim dengan omanya Yudhistira.


"Dik, ada yang mau aku bicarakan," ucap Yudhistira, setelah punggung sang oma menghilang di balik dinding.


"Tentang apa, Mas?" tanya Maira, berdebar.


Sesungguhnya, gadis itu pun mulai merasa nyaman berdekatan dengan Yudhistira. Meskipun Maira seringkali menyangkal, jika saudari kembarnya menggoda menjodohkan dirinya dengan pemuda berambut gondrong tersebut.


"Tentang kedekatan kita, Dik," balas Yudhistira dengan suara bergetar.


Pemuda itu pun berdebar-debar, berada sedekat ini dengan gadis yang telah berhasil meyakinkan dirinya bahwa tidak semua wanita sama seperti mama tirinya.


Apalagi yang akan dia bahas adalah tentang dirinya dan Maira, hingga membuat pemuda itu sedikit nervous.


"Memangnya, apa ada yang marah dengan kedekatan kita?" Maira mencoba mengorek informasi dari pemuda di sampingnya, mengenai kemungkinan adanya seorang gadis yang telah dekat dengan Yudhistira.


Selama ini, Yudhistira tidak pernah menyinggung soal gadis lain, jika mereka sedang bersama. Termasuk para gadis penggembira di arena balapan motor yang mengejar-ngejar dirinya.


"Tidak, Dik. Tidak akan ada yang marah," balas Yudhistira, cepat. Pemuda berkulit putih bersih itu tidak ingin, Maira memiliki pemikiran bahwa dirinya sedang dekat dengan gadis lain.


"Aku mau membicarakan tentang ...." Yudhistira menjeda ucapannya sejenak dan kemudian menghela napas panjang.


Pemuda yang memakai kain sarung itu mencoba menenangkan diri yang semakin nervous saja, menghadapi gadis yang penuh percaya diri seperti Maira.


Bahkan, telapak tangan Yudhistira sedikit berkeringat karena rasa grogi yang menyambangi.


"Dik, aku sayang sama kamu. Maukah kamu menjadi kekasihku?" tanya Yudhistira yang akhirnya dapat mengungkapkan perasaan dengan lancar.


Kini Yudhistira dapat bernapas dengan lega, setelah berhasil menyatakan perasannya pada Maira. Meskipun itu hanya sebentar karena setelah itu, dirinya kembali berdebar menanti jawaban dari sang gadis.

__ADS_1


Maira terdiam, tidak menyangka secepat ini Yudhistira berani menembak dirinya. Meski yang sebenarnya, gadis itu pun mulai berharap.


"Dik. Apakah aku diterima?" tanya Yudhistira pelan, hampir tidak terdengar.


Maira menoleh ke arah Yudhistira dan hendak memberikan jawaban. Namun urung, ketika terdengar seseorang memanggil nama Yudhistira.


"Yudhis! Kamu ada di dalam, kan?"


Mengenali suara tersebut, Yudhistira nampak kebingungan.


Seorang gadis muncul yang diikuti oleh Awang dan seorang gadis yang lain.


"Yud, kamu harus bertanggung jawab!" Mili memeluk kaki Yudhistira dan menangis di sana.


"Ada apa ini? Mili, bangun! Jelaskan padaku, jangan membuatku bingung! Aku harus bertanggung jawab atas apa?" Yudhistira nampak kebingungan sendiri.


"Aku positif, Yud. Aku mengandung anak kita," terang Mili seraya menunjukkan hasil test pack, dengan dua garis berwarna merah.


Yudhistira mengambil alat tersebut dengan tangan gemetar. "Apa maksudmu, Mili? Kamu jangan mengada-ada?"


Pemuda itu menyingkirkan tubuh Mili dari kakinya.


"Ini benar, Yud. Kamu ingat 'kan, malam di mana kita mengadakan pesta ulang tahun si Icha. Kamu mabuk berat, Yud, dan malam itu, kita ...." Mili kembali menangis.


Yudhistira menggelengkan kepala berkali-kali. "Itu tidak benar, Mili! Jangan memfitnahku!" hardiknya, kasar.


"Aku tidak memfitnah kamu, Yud! Banyak saksinya, termasuk Awang!" Mili histeris seraya menunjuk Awang.


Sahabat Yudhistira itu mengangguk, pasti.


Maira yang sedari tadi diam mendengarkan, kemudian beranjak.


"Jadi, maksud kata-kata manis Mas Yudhis barusan apa?" tanya Maira pelan, dengan menyimpan kemarahan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน bersambung ... ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2