Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Ngebet Pengin Nikah


__ADS_3

Kevin langsung memanggil dokter jaga melalui sambungan telepon yang tersedia dan hanya dalam hitungan detik dokter yang memang bersiaga di area paviliun tersebut datang, untuk memeriksa keadaan Yudhistira.


Rupanya, pemuda tersebut mengalami demam tinggi dan tubuhnya menggigil karena sistem imunitas tubuh Yudhistira sedang menurun. Hal itu terjadi karena beberapa minggu ini dia selalu begadang, sehingga istirahatnya kurang dan asupan makannya pun tidak diperhatikan.


Setelah dokter memberikan obat dan vitamin yang disuntikkan dalam infus dan menyarankan agar tubuh Yudhistira diselimuti dengan selimut yang hangat, kondisi pemuda tersebut berangsur membaik meskipun dia tetap belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius.


"Bisa dibantu dengan dikompres menggunakan air hangat ya, Mbak, agar demamnya cepat turun," saran sang dokter jaga.


Maira yang sedari tadi mendampingi dokter memeriksa keadaan pemuda yang diam-diam dia sayang, bernapas dengan lega setelah mengetahui bahwa Yudhistira tidak mengalami masalah yang serius. Gadis cantik itu pun mengangguk, mengiyakan saran dokter.


"Dik, kamu mandilah dulu. Biar abang yang jaga Yudhis," suruh Kevin pada sang adik, setelah dokter keluar dari ruang perawatan Yudhistira.


"Mela mau mengompres Mas Yudhis dulu, Bang. Abang aja yang mandi duluan," tolak Maira yang masih ingin merawat Yudhistira.


"Baiklah, abang ke kamar sebelah dulu," pamit Kevin yang tidak ingin berdebat dengan sang adik.


Sepeninggal Kevin, Maira yang ditemani bi Ina kemudian mengompres dahi Yudhistira dengan penuh perhatian. Dia bahkan menolak, ketika bibi asisten di kediaman keluarga Bisma tersebut hendak menggantikan dirinya untuk mengompres pemuda yang saat ini masih terbaring lemah dan belum sadarkan diri.


Suara adzan maghrib yang berkumandang di masjid rumah sakit dekat paviliun, memaksa Maira untuk sejenak meninggalkan Yudhistira.


"Non, sudah adzan maghrib. Sebaiknya Non bersih-bersih dan sholat dulu, biar bibi yang menjaga Den Yudhis," saran bi Ina yang kemudian diikuti oleh Maira.


Gadis itu segera ke kamar yang ada di samping ruang rawat Yudhistira, untuk membersihkan diri dan kemudian menunaikan ibadah sholat maghrib. Kebetulan, tadi sang abang berinisiatif mengambilkan pakaian ganti untuknya, usai mengurus kasus kecelakaan yang menimpa Yudhistira di kantor polisi.


Kevin yang sudah selesai mandi dan sholat maghrib, kembali ke ruang rawat Yudhistira untuk menggantikan bi Ina, agar bibi asisten yang setia pada majikannya itu bisa segera menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah.

__ADS_1


"Bi, Kevin sudah selesai. Bibi kalau mau sholat dulu, silakan," ucap Kevin yang saat ini nampak lebih segar.


Patuh, bi Ina mengangguk. "Baik, Den." Asisten rumah tangga itu pun segera berlalu menuju kamar yang diperuntukkan bagi dirinya, selama menjaga Yudhistira.


\=\=\=\=\=


Menjelang isya', saudara-saudara Maira datang berkunjung ke paviliun tempat Yudhistira dirawat. Mereka datang dengan membawakan banyak makanan, untuk Maira, Kevin dan juga bi Ina.


"Belum sadar juga, si Yudhis?" tanya Mirza yang datang bersama sang istri tercinta.


"Belum, Bang. Tadi sore, Mas Yudhis sempat demam tinggi dan menggigil. Alhamdulillah sekarang panasnya sudah turun," terang Maira.


"Kamu juga harus istirahat dan makan yang banyak, Dik, biar enggak gampang sakit," nasehat Lila, kakak ipar Maira yang saat ini tengah mengandung anak kedua.


"Kita ngobrol di luar aja, yuk!" ajak Kevin.


Agar tidak mengganggu kenyamanan Yudhistira meski pemuda tersebut masih belum sadarkan diri, Kevin kemudian mengajak adik-adiknya untuk ngobrol di ruang tamu.


Mereka berbincang sambil menikmati makanan yang dibawa oleh Lila dan juga Salma. Ya, istri Kevin yang masih terlihat seperti gadis meski telah memiliki anak yang sudah menginjak remaja itu juga datang, bersama kedua putra-putrinya.


Salma, Vinza dan Prince Kevin Junior, dijemput oleh Bayu dan Devi di kediaman mereka yang megah. Rumah bak istana yang dibangun oleh Kevin untuk keluarga kecilnya, yang berada di dekat gedung perkantoran perusahaan E-commers milik putra sulung Daddy Rehan tersebut. Perusahaan yang dibangun oleh Kevin dan sahabat-sahabatnya, ketika mereka masih duduk di bangku sekolah dulu.


Bi Ina pun ikut makan bersama keluarga yang penuh kehangatan tersebut. Sebenarnya, bibi asisten merasa canggung berkumpul bersama anak-anak orang kaya, tetapi Maira dan saudara-saudaranya terus mengajak bi Ina becanda, hingga lama-lama wanita sederhana itu menjadi terbiasa.


"Nambah lagi, Bi. Biar cepat gede," canda Iqbal yang sudah akrab dengan bi Ina karena sering ikut Maira, main ke kediaman keluarga Bisma.

__ADS_1


"Den Iqbal ini ada-ada saja. Bibi 'kan sudah tua, Den, bukan kanak-kanak atau remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan seperti Den Iqbal dan Non Maira," balas bi Ina seraya tersenyum.


Semakin malam suasana di paviliun yang memiliki keistimewaan tanpa terikat dengan adanya peraturan rumah sakit tentang batasan berkunjung, semakin ramai dengan hadirnya sanak saudara Maira.


Abang iparnya, Rahman, juga kemudian datang bersama Dion dan istri cantiknya, Fira. Attar yang masih betah membujang juga hadir, bersama kekasihnya yang manja.


Putra menantu Om Alex yang juga suka becanda, Faris, pun ikut hadir bersama sang abang ipar, Abraham, yang kemudian disusul oleh Damian dan Akbar. Keempat pemuda itu datang tanpa membawa istri karena mereka memiliki anak yang masih balita, bahkan ada yang masih bayi.


Hanya Malik dan Doni, salah satu putra menantu Om Devan, yang belum terlihat karena Malik sedang sibuk mempersiapkan pembukaan kantor barunya di kota Yogyakarta. Sementara Doni sedangkan meninjau pabriknya yang berada di kota Semarang, kota yang penuh dengan kenangan bersama sang mantan.


"Sudah jam sepuluh lewat, nih. Pulang, yuk!" ajak Akbar. "Biar yang jagain Yudhis juga bisa istirahat," lanjutnya.


Mereka semua kemudian beranjak dan berpamitan pada Maira, Kevin dan juga bi Ina. Belum sempat mereka keluar dari ruang tamu paviliun, saudara kembar Maira datang bersama sang kekasih. Mereka berdua masih mengenakan busana couple, usai menghadiri pernikahan adik sepupu dari kekasihnya Maida.


"Oh, jadi ini si Abang yang sering kamu ceritakan itu, Mai?" tanya Akbar pada sang keponakan. Putra sulung Opa Alvian itu tersenyum hangat, pada kekasih Maida yang seusia dengannya.


"Kapan Mai cerita sama Om Akbar?" bantah Maida dengan wajah merona, malu pada sang kekasih karena ketahuan sering menceritakan tentang kekasihnya itu pada saudara-saudaranya.


"Cerita apa aja, Bang? Semoga ceritanya yang baik-baik." Kekasih Maida itu tersenyum dan kemudian menyalami serta memperkenalkan dirinya pada semua orang yang belum pernah dia temui.


"Banyak, Bang. Mai bilang, Bang Er ini udah ngebet pengin nikah, tapi dianya pura-pura jual mahal biar Bang Er berjuang," sahut Attar yang membuat Maida mendaratkan cubitan di lengan omnya tersebut.


"Enggak-enggak! Itu enggak benar, Bang! Adik enggak pernah ngomong seperti itu! Om Attar-nya aja yang mengada-ngada!" Maida cemberut dan semakin malu pada sang kekasih yang tengah menatap dirinya dengan tatapan penuh arti dan tanya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน bersambung ... ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2