Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Menanti Jawab


__ADS_3

Bi Ina kemudian membetulkan kembali selimut tuan mudanya dan di saat yang sama, Kevin masuk ke ruangan tersebut.


"Bi, apa semua baik-baik saja?" tanya Kevin, sambil menyimpan kantong keresek di atas meja.


"Iya, Den," balas Bi Ina, sedikit gugup.


"Terima kasih sudah menemani mereka, Bi," ucap Kevin dengan tulus. "Silakan kalau Bibi mau kembali beristirahat, biar besok ketika saya tinggal kerja Bibi bisa menjaga Yudhis," lanjutnya.


"Beneran, tidak apa-apa Bibi tinggal lagi, Den?" tanya Bi Ina, memastikan.


"Iya, Bi. Kalau saya ngantuk, gampang, nanti saya bisa tidur di sini," balas Kevin.


Bi Ina kemudian berlalu dari ruang rawat tuan mudanya untuk kembali ke kamar. Sementara Kevin langsung membangunkan sang adik agar Maira segera meminum obat yang sudah dia belikan.


"Dik, bangun." Kevin menepuk lembut pipi sang adik bungsu. Pemuda itu membangunkan adiknya dengan pelan.


Maira menggeliat dan perlahan membuka matanya. "Mela ketiduran ya, Bang?" tanya Maira yang kemudian beringsut. Gadis itu kemudian duduk sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.


"Nih, makan dulu sebelum obatnya diminum," suruh Kevin sambil membukakan bungkusan nasi uduk yang masih mengepulkan asap.


Aroma wangi rempah menguar, membangkitkan selera makan. Namun, Maira tetap tidak berselera untuk melihat makanan tersebut.


"Mela enggak lapar, Bang. Tadi 'kan udah makan," tolak Maira.


"Makan meskipun sedikit, Dik. Setelah ini minum obatnya agar demamnya segera turun," suruh Kevin kembali seraya meraba dahi sang adik.


"Tuh, kan, masih panas." Ayah dua anak itu terlihat sangat khawatir.


"Abang suapin, ya," paksa Kevin sambil mengambil bungkusan nasi uduk dan membawanya ke sofa.


"Nanti ajalah, Bang. Mela bisa makan sendiri, kok. Mela mau lihat kondisi Mas Yudhis dulu," tolak Maira yang segera beranjak.


Maira segera melangkah menuju bed pasien dan kemudian duduk di kursi di samping ranjang tersebut. Kevin mengekor langkah sang adik, masih sambil membawa nasi uduk di tangan. Kakak sulung Maira itu sepertinya kekeuh ingin menyuapi Maira agar gadis cantik tersebut bisa segera meminum obatnya.


"Abang, ih! Udah dibilangin Mela bisa makan sendiri, masih saja ngeyel!" Maira cemberut ketika sendok yang berisi nasi uduk, tiba-tiba menyentuh bibirnya.

__ADS_1


Meskipun cemberut, Maira tetap membuka mulut dan menerima suapan tersebut. Kevin tersenyum dan kembali menyuapi sang adik.


"Udah. Cukup, Bang!" tolak Maira pada suapan ketiga. Gadis itu kemudian menyembunyikan wajah di bed pasien, di sisi tubuh Yudhistira.


"Mel, dikit lagi, Sayang," bujuk Kevin.


Maira menggelengkan kepala masih dengan menyembunyikan wajah. "Mela enggak mau, Bang."


Percakapan kakak beradik tersebut membuat Yudhistira yang pura-pura masih belum sadar, merasa semakin bersalah pada Maira. Gadis yang dia sayang sampai sakit, gara-gara menunggui dirinya yang terbaring lemah karena kecelakaan akibat balapan liar.


Yudhistira membuka matanya dan kemudian menyenggol lengan Kevin seraya memberikan isyarat. Kevin kemudian mendekatkan telinganya dan Yudhistira membisikkan sesuatu. Kakak sulung Maira itu mengangguk, mengerti dan tersenyum pada pemuda yang disayang oleh sang adik.


"Oke, kamu bujuk Dik Mela agar mau makan lagi dan kemudian meminum obatnya," pinta Kevin, berbisik. Dia simpan nasi bungkus itu di atas nakas, di sisi ranjang pasien.


"Makasih, Bang," balas Yudhistira tanpa mengeluarkan suara. Hanya gerakan bibirnya saja yang dapat terbaca oleh Kevin.


Hot daddy dengan dua anak itu berjalan perlahan, meninggalkan ruang rawat Yudhistira. Kevin sengaja memberikan kesempatan pada kedua sejoli untuk berbicara dari hati ke hati. Dia kemudian menuju teras paviliun untuk mencari angin segar, sambil menghubungi sang istri yang malam ini terpaksa tidur sendirian.


Sepeninggal Kevin, Yudhistira kemudian mengusap puncak kepala Maira yang tertutup hijab, dengan lembut.


"Abang jangan mencoba membujuk Mela lagi, ya. Mela pokoknya enggak mau makan!" Maira mengira bahwa yang mengusap kepalanya adalah sang abang.


Mendengar bahwa yang baru saja berbicara bukan suara sang abang, Maira mendongak dan gadis cantik itu membulatkan mata tidak percaya dengan apa yang dilihat. "Mas Yudhis sudah sadar? Sejak kapan? Dimana Bang Kevin?" Maira mengedarkan Pandangan, mencari sosok sang abang.


"Mas Yudhis bersekongkol ya, dengan Bang Kevin?" tuduh Maira.


"Makan, ya. Aku suapi," tawar Yudhistira, mengabaikan pertanyaan Maira. Pemuda itu kemudian meraba kening Maira, membuat gadis berhijab tersebut berdebar.


"Kamu demam, Dik." Yudhistira nampak sangat khawatir.


Pemuda berambut gondrong itu kemudian beringsut, mencoba untuk duduk. Namun, dia mengalami sedikit kesulitan. Yudhistira terus berusaha karena tidak ingin terlihat lemah di hadapan Maira.


"Aku bisa makan sendiri, Mas. Mas enggak perlu bangun," cegah Maira yang tidak tega melihat pemuda itu meringis seperti menahan rasa sakit.


"Baiklah, tapi beneran kamu harus makan, ya. Terus kamu minum obatnya." Yudhistira menatap dalam manik hitam Maira. Sorot matanya menunjukkan kekhawatiran.

__ADS_1


"Iya, aku pasti minum obatnya," balas Maira seraya tersenyum manis. Gadis itu merasa bahagia hanya dengan mendapatkan perhatian seperti itu dari Yudhistira.


"Dik, bisa tolong naikkan ranjangnya? Badanku rasanya pegal semua," pinta Yudhistira kemudian, sebelum Maira meraih nasi uduk di atas nakas.


Gadis itu mengangguk dan kemudian memenuhi permintaan Yudhistira. Setelah itu, Maira mulai memakan nasinya kembali. Yudhistira memperhatikan dengan bibir yang terus menyunggingkan senyuman.


"Mas juga harus makan, ya." Tanpa menunggu persetujuan Yudhistira, Maira telah menyodorkan sendok berisi nasi uduk yang masih hangat ke depan bibir pemuda yang diam-diam telah menyelinap masuk ke dalam hatinya.


Tentu saja pemuda tampan itu tidak menolak. Yudhistira segera menerima suapan dari gadis yang telah mengisi hatinya itu. Suapan demi suapan, dia terima dengan senang hati hingga nasi uduk tersebut tandas tanpa sisa.


"Mas Yudhis lapar, apa doyan?" canda Maira seraya menyodorkan jahe hangat miliknya. Setelah makan dengan sendok yang sama, kini mereka pun minum di gelas yang sama pula.


"Lapar, Sayang," balas Yudhistira, jujur. Tentu saja pemuda berhidung mancung tersebut kelaparan karena dari kemarin sore sebelum kecelakaan itu terjadi, perutnya belum terisi makanan.


Pipi putih Maira merona, mendengar jawaban Yudhistira.


"Dik, apa kamu mau memaafkan aku?" pinta Yudhistira, setelah Maira meminum obat dan kembali duduk di tempatnya semula, di samping ranjang pasien.


Maira mengangguk.


"Meskipun kemarin, aku kembali melakukan balapan liar, Dik?" lanjutnya, bertanya.


Jujur, Yudhistira khawatir jika Maira marah padanya karena dia pernah berjanji tidak akan kembali melakukan balap liar yang tidak ada faedahnya tersebut.


Maira kembali mengangguk.


"Lalu apakah kamu juga mau menerima pernyataan cintaku kala itu?"


Lagi-lagi, Maira mengangguk. Namun, sedetik kemudian gadis cantik itu menggelengkan kepala. Hal tersebut membuat Yudhistira bingung dan bertanya-tanya.


"Kenapa, Dik?" tanya Yudhistira, menanti jawab dari Maira dengan hati berdebar.


🌹🌹🌹bersambung ... 🌹🌹🌹


Tidak semudah itu, Pelguso!!! 🤭

__ADS_1


Yuk, yang belum kasih ulasan bintang lima, aku tungguin, yah 🥰


Biar aku semangat untuk double up 😊🙏


__ADS_2