
"Sudah pulang, Nak? Kak Mai, mana?" tanya Mommy Billa seraya melihat ke arah pintu ketika Maira mencium punggung tangan wanita cantik itu.
"Kak Mai dan Dik Iqbal mau makan siang dulu sama Bang Er, Mom. Nanti mereka mau ke sini," balas Maira. Gadis berhijab itu kemudian menyalami sang daddy dan mencium punggung tangan daddy tampan tersebut.
"Dik. Enggak salim sama aku?" protes Yudhistira ketika uluran tangannya diabaikan oleh Maira.
"Ck ...." Maira membalasnya hanya dengan decakan, tetapi bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman manis.
"Mas Yudhis udah minum obatnya?" tanya Maira, kemudian. Gadis itu berdiri tepat di samping ranjang pasien, di sisi kiri sang daddy yang duduk di kursi.
Yudhistira tersenyum menatap Maira yang siang ini tampil casual, tetapi tetap sopan dan tertutup auratnya. Pemuda itu juga terlihat sangat senang dengan perhatian kecil yang gadis cantik tersebut berikan barusan.
"Dik, nanti kalau kita udah menikah, kamu harus salim sama aku, ya, setiap mau pergi dan selepas dari bepergian?" pinta Yudhistira mengabaikan pertanyaan Maira dan melupakan kalau di sana ada mommy serta daddy-nya Maira.
"Mas! Ngomong apa, sih?" protes Maira seraya menunjuk sang mommy dan sang daddy dengan lirikan matanya.
Daddy Rehan dan Mommy Billa saling pandang. Kedua orang tua Maira itu nampak terkejut mendengar perkataan Yudhistira. Sementara pemuda yang saat ini duduk dengan bersandar pada sandaran ranjang pasien, tersenyum kikuk.
"Maaf, Om, Tante. Tadi itu Yudhis, em ...." Pemuda tampan itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung harus memulai berbicara dari mana.
Daddy Rehan dan Mommy Billa menatap pemuda yang kakinya masih terbalut perban tersebut, dengan tatapan penuh tanya. Beliau berdua menanti, apa yang akan disampaikan oleh Yudhistira.
"Oh, ya. Tadi, Om Rehan mau menyampaikan pesan dari oma apa?" tanya Yudhistira kemudian, mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Maira bernapas dengan lega karena sejujurnya gadis cantik itu pun masih belum siap dengan jawaban dari kedua orang tuanya jika ternyata nanti, daddy dan mommy-nya tidak setuju dirinya menjalin hubungan dengan Yudhistira.
"Oh, iya. Yang tadi itu, ya," balas Daddy Rehan.
"Jadi, beberapa minggu sebelum Tante Saidah meninggal, beliau pernah menemui om dan berpesan agar om membimbing kamu untuk mulai belajar memegang kendali perusahaan peninggalan Om Bisma setelah kamu menyelesaikan studi. Dan selama kamu masih kuliah, om yang diminta untuk mengawasi jalannya perusahaan," terang Daddy Rehan.
"Hanya saja, om ini sudah tua, Nak Yudhis. Om saja sudah pensiun dari perusahaan dan menyerahkan semua pada anak-anak. Sebaiknya, kamu mulai belajar untuk mengelola perusahaan itu dari sekarang, Nak Yudhis. Tentunya, setelah kaki kamu sehat," lanjutnya.
"Tapi, Om. Jujur, Yudhis nol besar tentang dunia bisnis karena selama ini Yudhis tidak pernah mau jika diajak oma ke kantornya," sesal Yudhistira.
"Yudhis juga selalu menghindar jika oma membicarakan tentang perusahaan dan segala macam yang berkaitan dengan hal itu," lanjutnya.
"Yudhis khawatir jika perusahaan itu dipegang Yudhis, nantinya malah jatuh pailit dan bisa-bisa gulung tikar, Om." Yudhistira rupanya teringat dengan perkataan sang papa tadi.
"Jangan khawatir, Nak. Om tidak akan melepasmu sebelum kamu benar-benar mampu. Belajar dari sedikit, nanti lama-lama kamu juga akan terbiasa dan bisa," tutur Daddy Rehan.
"Yang penting, cintai dulu pekerjaan itu, Nak Yudhis. Kalau kamu sudah cinta, maka kamu pasti akan semangat untuk mempelajari dan menjalankannya," imbuh Mommy Billa.
Yudhistira mengangguk-angguk, mengerti nasehat Daddy Rehan dan Mommy Billa.
Keheningan sejenak menyapa ruang rawat Yudhistira yang cukup luas.
"Ya sudah, tante sama om pulang dulu, ya. Nanti, biar kakak-kakaknya Mela yang ke sini untuk menemani kalian," pamit Mommy Billa, mengurai keheningan.
__ADS_1
"Om, Tante, tunggu!" seru Yudhistira ketika Daddy Rehan hendak beranjak dari tempatnya duduk.
"Ya, kenapa?" tanya Daddy Rehan, semakin membuat Yudhistira kikuk dan deg-degan.
"Maaf, Om, Tante, jika Yudhis tidak sopan," ucap Yudhistira, gugup. Keringat dingin bahkan mulai membasahi telapak tangannya.
"Katakan saja, Nak. Jangan buat kami menduga-duga!" pinta Mommy Billa seraya tersenyum hangat.
Di tempatnya berdiri, Maira pun berdebar-debar. Menanti, gerangan apakah yang akan disampaikan oleh Yudhistira pada daddy dan mommy-nya.
"Yudhis mencintai putri Om dan Tante. Apakah Om dan Tante, merestui Yudhis?" Yudhistira dengan segenap keberanian yang dimiliki, mengutarakan isi hatinya pada kedua orang tua Maira.
"Yudhis sadar, Om, Tante, kalau Yudhis bukan pemuda yang baik. Tetapi Yudhis berjanji akan belajar untuk memperbaiki diri dan belajar untuk bertanggungjawab pada putri Om dan Tante," lanjutnya. Pemuda itu kemudian bernapas sedikit lega setelah menyampaikan unek-uneknya.
Kini, hanya tinggal menunggu bagaimana jawaban dari Daddy Rehan dan Mommy Billa. Apapun itu, Yudhistira sudah berpikir dari semalaman akan menerima dengan ikhlas. Jika memang kedua orang tua Maira tidak merestui, itu artinya dirinya belum layak untuk menjadi pendamping hidup gadis cantik tersebut dan dia berjanji akan memperbaiki diri.
Pemuda tampan itu menanti jawaban dengan perasaan berdebar, tetapi dia tidak sendirian. Jantung Maira yang ikut menanti pun semakin berdegup kencang. Putri bungsu Daddy Rehan tersebut nampak sudah tidak sabar, ingin segera mendengar jawaban dari sang daddy dan juga sang mommy.
"Nak Yudhis, sebenarnya Om dan tante tidak masalah jika kalian berdua menjalin hubungan. Tetapi saat ini, om ingin kalian berdua fokus dulu dengan cita-cita kalian," balas Daddy Rehan, kemudian.
"Biar sajalah, Rey, mereka menjalin kedekatan. Mereka 'kan sudah besar." Suara Om Alex yang baru saja masuk bersama Om Devan dan Opa Alvian, mengalihkan perhatian mereka semua.
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น
__ADS_1