Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Calon Menantu


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang dari pusat perbelanjaan, tidak henti Mommy Billa menasehati sang putri. Sementara Daddy Rehan hanya diam saja dan menjadi pendengar setia dari ceramah istrinya. "Jangan hanya diam saja, dong, Dad! Bantu mommy untuk memberikan pencerahan pada putri kita," bisik Mommy Billa yang duduk di bangku belakang, di samping sang suami.


"Lantas, daddy harus bagaimana, Mommy Sayang? Semua sudah Mommy ungkapkan, bukan?" Daddy Rehan menatap hangat netra teduh sang istri.


"Semua yang Mommy katakan itu memang benar, Mom. Hanya saja menurut daddy, ketakutan mommy itu berlebihan. Cobalah sedikit saja memberikan kebebasan pada Mela untuk berpikir dan menentukan sikap tentang masa depannya. Putri kita itu sudah cukup dewasa, Mommy Sayang. Dia bukan lagi kanak-kanak seperti belasan tahun silam," lanjut Daddy Rehan yang juga berbisik, sambil merangkul pundak sang istri dan mengusap lembut pundak wanita yang sangat dicintainya itu.


Mommy Billa menghela napas panjang. "Entahlah, Dad. Rasanya, baru kemarin mommy melahirkan mereka berdua dan menyusui si kembar. Tahu-tahu mereka sudah besar saja dan harus jadi milik orang lain," tutur Mommy Billa yang tiba-tiba wajahnya menjadi sendu.


"Bukankah tugas orang tua memang seperti itu, Mom? Mengasuh dan membesarkan anak-anak untuk dimiliki oleh orang lain? Dulu, Mommy juga seperti itu, bukan? Dibesarkan oleh ibu dan ayah dengan penuh kasih, tetapi setelah mommy dewasa, daddylah yang memiliki mommy seutuhnya dan tidak seorang pun boleh menyentuh mommy." Daddy Rehan tersenyum penuh arti pada sang istri.


"Iya, Daddy benar. Baiklah, Dad. Mommy akan belajar untuk bisa menerima kalau mereka berdua memang sudah cukup dewasa untuk menentukan masa depan," tutur Mommy Billa kemudian dan Daddy Rehan langsung melabuhkan kecupan di kening istrinya.


Maira yang duduk di bangku depan, di samping sopir keluarga, nampak tengah berpikir. Gadis berhijab itu mencoba mencerna, apa yang sudah disampaikan oleh sang mommy sedari di kafe tadi ketika mereka masih bersama Yudhistira dan sang papa. 'Apa yang mommy katakan memang benar. Menjalani kehidupan berumah tangga memang tidak mudah, tapi jika tidak dijalani bukankah itu hanya akan menjadi ketakutan selamanya?' batin Maira bertanya pada diri sendiri.


"Non Mela, ini langsung pulang atau mau kemana lagi, Non?" tanya pak sopir dengan pelan, mengurai lamunan Maira. Sopir tersebut tidak berani bertanya pada tuannya yang tengah bermesraan di bangku belakang.


"Langsung pulang saja, Pak. Sebentar lagi maghrib dan rencananya kami mau berangkat setelah sholat maghrib," balas Maira.


"Baik, Nona." Sopir setia keluarga Daddy Rehan itu terus melajukan kendaraannya menuju kediaman keluarga Alamsyah.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Tepat bakda maghrib, semua keluarga berkumpul di kediaman Antonio karena pesawat pribadi milik Daddy Rehan, keluarga Antonio, dan milik Ayah Yusuf, yang akan membawa mereka semua menuju ke pulau keluarga AA, sudah siap di landasan baru yang terletak di belakang kediaman Antonio.


Ya, beberapa tahun yang lalu, Oppa Alvian berinisiatif untuk membebaskan dan membeli lahan yang berada di belakang kediaman keluarga Antonio. Lahan luas tersebut kemudian dijadikan sebagai landasan pacu sekaligus tempat parkir pesawat pribadi milik keluarganya. Hal ini untuk memudahkan jika mereka hendak bepergian sehingga tidak perlu repot ke bandara yang hanya akan membuang banyak waktu karena jalanan di ibukota yang padat merayap bahkan sering terjadi kemacetan di sana-sini.


Para orang tua yang akan berangkat lebih awal, telah bersiap. Termasuk Opa Sultan beserta sang istri yang sudah tiba sejak kemarin sore. Rencananya, mereka akan berangkat dalam dua tahap karena banyaknya anggota keluarga, sementara tempat duduk masing-masing pesawat pribadi tersebut, terbatas.


Di tengah kesibukan dan kemeriahan keluarga besar tersebut, ada pemandangan baru di salah satu sofa di ruang keluarga. Nampak putra bungsu Ayah Yusuf sedang asyik bercanda ria bersama dengan seorang gadis belia. Iqbal tiba-tiba mendekat dan kemudian duduk di antara keduanya.


"Bang Annas. Segeralah dihalalin, tuh, si Bunga. Udah lengket gitu, nunggu apalagi?" celoteh Iqbal, membuat gadis cantik yang merupakan kekasih Annas itu tersipu, malu.


"Aku, sih, mau-mau aja, Dik. Tapi dianya yang masih pengin fokus sama studi," balas Annas seraya menatap sang kekasih dengan tatapan penuh arti.


"Eh, ada siapa, ini?" tanya Tante Nisa yang baru saja datang.


"Dia calon istrinya Bang Annas, Budhe," sahut Iqbal, mewakili Annas.


"Oh, kuliah di Singapura?" tanya Tante Nisa.


"Bukan, Dik," sahut Bunda Fatima yang tiba-tiba muncul. "Mereka kenal ketika Nak Bunga ikut olimpiade sains di kampusnya Annas dan kebetulan Annas salah satu juri tamu," lanjut wanita yang masih terlihat cantik meskipun telah memiliki empat cucu itu.


"Kuliah dimana, Dik?" tanya Tante Jihan yang ikut nimbrung.

__ADS_1


"Di UI, Tante," balas Bunga.


"Dia dapat beasiswa prestasi, Dik, jurusan kedokteran. Ibunya 'kan dokter dan ayahnya dosen di kampus ternama di Jawa Timur," timpal Bunda Fatima yang nampak sangat menyukai sosok kekasih Annas.


Putra bungsu Bunda Fatima hanya senyum-senyum saja melihat sang bunda begitu antusias mengenalkan sang kekasih pada keluarga besarnya. Sementara Bunga, tersenyum tersipu malu. Sebenernya, Bunga kurang percaya diri berada di antara keluarga besar sang kekasih mengingat dirinya berasal dari kalangan biasa, tetapi Annas terus saja memberikan dukungan hingga Bunga bisa merasa nyaman.


"Oh, asli Jawa Timur?" tanya Tante Lusi yang juga ikut bergabung,


"Ayah dan bundanya asli dari Jawa Tengah, Tante. Masih satu wilayah malah, sama mertuanya Bang Zaki. Tetapi karena dulu ayahnya Dik Bunga nyantri di Jawa Timur dan kemudian diangkat menjadi dosen di kampusnya sana, makanya mereka sekarang berdomisili di Jawa Timur," terang Annas.


"Bang Umar juga kenal, kok, sama ayahnya Dik Bunga," lanjut Annas ketika melihat Gus Umar mendekat.


Rupanya, Daddy Rehan mengundang semua besan dan saudara dari keluarga besarnya. Termasuk Kyai Abdullah yang diwakili putra sulungnya beserta sang istri, Gus Umar dan Aida.


"Kenal sama siapa, Dik?" tanya Gus Umar.


"Ayah Jaka, Bang. Calon ayah mertuaku," balas Annas dengan penuh percaya diri.


"Oh, Professor Jaka dan Bu Dokter Dara. Iya, beliau berdua donatur tetap di yayasan sekolah untuk anak-anak tidak mampu yang bernaung di bawah yayasan pesantren," pungkas Gus Umar karena para orang tua kemudian membubarkan diri ketika Opa Alvian memberikan komando jika kloter pertama harus segera bersiap.


"Nak Bunga, bunda duluan, ya. Nanti Nak Bunga bareng sama Annas dan yang lain." Bunda Fatima berlalu seraya melambaikan tangan pada calon menantu bungsunya.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน bersambung ... ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2