
Yudhistira segera berlari masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh Awang.
Meskipun Yudhistira sudah mengatakan bahwa mereka bukan lagi sahabat, tetapi karena Awang sudah sangat dekat dengan sang oma, pemuda itu tetap ingin mengetahui apa yang telah terjadi pada omanya Yudhistira hingga bibi asisten yang memanggil terlihat sangat panik.
"Oma! Oma kenapa, Oma?" Yudhistira langsung memeluk sang oma yang tergeletak tak berdaya di lantai, dengan napas tersengal.
"Bi! Suruh sopir untuk menyiapkan mobil!" pinta pemuda berhidung mancung itu, panik.
"Biar Awang saja, Bi," sahut Awang yang langsung melesat untuk menyiapkan mobil tanpa menanyakan kunci mobil karena Awang paham betul, di mana kunci mobil milik sang oma tersimpan.
Yudhistira mengabaikan sejenak permusuhannya dengan Awang dan membiarkan saja, mantan sahabatnya itu menyiapkan mobil untuk membawa sang oma ke rumah sakit.
"Den, mari saya bantu untuk membopong Nyonya," ucap Pak Satpam yang ikut masuk ke dalam.
"Tidak perlu, Pak. Bapak tolong bantu Bibi untuk menyiapkan pakaian saya dan Oma," tolak Yudhistira.
Pemuda itu kemudian segera membopong tubuh sang oma dan membawanya ke luar.
Di halaman depan, Awang telah membukakan pintu bagian belakang untuk memudahkan Yudhistira membawa sang oma masuk ke dalam mobil.
"Bibi ikut ya, Den?" ijin bibi asisten yang tidak tega melihat tuan mudanya sedih dan kebingungan seperti ini.
Wanita berpakaian sederhana itu telah membawa satu tas besar yang berisi pakaian milik sang nyonya dan juga pakaian Yudhistira.
"Silakan, Bi," balas Yudhistira yang kemudian segera masuk ke bangku belakang, bersama sang oma yang sudah di tidurkan di sana.
Setelah semua menaiki mobil mewah omanya Yudhistira, Awang segera melajukan mobil tersebut menuju rumah sakit terdekat.
\=\=\=\=\=
Di kediaman keluarga Rehan Alamsyah. Maira yang tadi langsung pulang ke rumah, berlari kecil memasuki rumah megah tersebut masih dengan berurai air mata.
Gadis itu langsung menerobos masuk ke ruang kerja sang daddy karena di jam seperti ini, daddy-nya lebih sering berada di sana.
__ADS_1
"Daddy." Maira yang memang sangat dekat dengan sang daddy langsung menghambur memeluk daddy-nya yang sedang menelepon seseorang dan gadis itu menangis dalam dekapan hangat Daddy Rehan.
Gadis itu tak peduli jika apa yang dia lakukan akan mengganggu kerja sang daddy karena saat ini, dirinya butuh dukungan dan laki-laki yang masih terlihat sangat tampan di usianya yang sudah tidak lagi muda tersebut, senantiasa bisa membuat Maira cepat tenang jika sedang ada masalah.
"Lex, tunggu sebentar. Sepertinya putriku sedang ada masalah," ucap Daddy Rehan pada orang di ujung telepon.
"Hem, baiklah. Hiburlah Mela dan nina bobokkan dia, aku akan ikut mendengarkan," balas Om Alex seraya terkekeh yang dapat didengar oleh Maira karena sang daddy mengaktifkan mode load speaker.
"Mela tidak perlu dinina-bobokkan, Om! Mela bukan anak kecil lagi!" sahut Maira, di sela tangisnya.
"Kalau memang Mela sudah besar, kenapa masih mewek?" goda Om Alex.
"Mela patah hati, Om! Huwa ...." Tangis Maira makin pecah.
Ya, putri bungsu Daddy Rehan itu memang terkenal tegas, pemberani, cerdas dan pandai berbicara. Akan tetapi, jika dia memiliki masalah, Maira akan bersikap seperti anak kecil yang menunjukkan kekesalan hatinya tanpa ditutup-tutupi jika di hadapan sang daddy dan om-nya yang satu itu.
Daddy Rehan kemudian menyimpan ponselnya yang masih mode on di atas meja kerja. Ayah enam anak itu kemudian mendudukkan sang putri di atas meja kerjanya, persis seperti dulu jika Maira merajuk meminta sesuatu.
"Sekarang, ceritakan pada daddy. Ada apa, hem?" Daddy Rehan menatap putrinya dengan tatapan penuh kasih.
"Kenapa Yudhis? Apa dia menyakiti putri daddy yang cantik ini?" Daddy Rehan menyeka sisa air mata sang putri dengan ibu jarinya.
Maira kemudian menceritakan kejadian tadi ketika Yudhistira mengungkapkan perasaannya kepada Maira dan tiba-tiba ada teman-teman Yudhistira datang dan membuat segalanya menjadi kacau.
"Ternyata Mas Yudhis memang benar-benar brengsek, Dad!" pungkas Maira yang masih merasa sangat kecewa pada pemuda yang akhir-akhir ini sering menjadi topik perbincangan hangat di keluarga besarnya.
"Masak, sih, Mel? Om kok enggak percaya, ya?" Om Alex dari ujung telepon, bersuara.
Daddy Rehan mengangguk, menyetujui ucapan asisten abadi tersebut.
"Daddy juga memiliki pemikiran yang sama dengan Om Alex, Sayang."
"Tapi Mela melihat sendiri, sahabat Mas Yudhis membenarkan ucapan si Mili, Dad," ucap Maira.
__ADS_1
"Bisa saja 'kan, Mel, mereka konspirasi untuk membuat kalian jauh. Apakah selama ini, Yudhis pernah cerita kalau dia memiliki musuh?" tanya Om Alex kemudian.
Maira menggeleng, seolah om-nya itu dapat melihat gelengan kepalanya.
"Lex, selidiki teman-teman Yudhis! Aku mau, malam ini juga kamu mendapatkan hasilnya!" pinta Daddy Rehan.
"Ck! Selalu gue! Dan kenapa juga harus malam ini? Malas gue! Gua lagi momong cucu! Si Inez lagi enggak enak badan!" tolak Om Alex, beralasan.
"Huwa ... Mela enggak suka penolakan!" rajuk Maira, membuat sang daddy tersenyum lebar.
Ayah dan anak bungsu itu memang dari dulu, selalu kompak mengerjai sang asisten.
"Oke, Mela Sayang. Udah, jangan nangis lagi! Malu, ih, udah perawan juga nangisnya masih kenceng." Mau tak mau, Om Alex menyetujui keinginan Daddy Rehan dan Maira untuk menyelidiki semua.
"Gue enggak mau sendiri, Rey. Gua mau minta bantuan Kevin," pungkasnya.
Menghilangnya suara Om Alex, diikuti oleh suara ketukan pintu ruang kerja Daddy Rehan.
Terlihat Mommy Billa masuk ke dalam ruang kerja tersebut dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Mel, apa ketika kamu ke rumah Yudhis tadi, omanya baik-baik saja?" cecar Mommy Billa, membuat Maira mengerutkan dahi.
"Baik, kok, Mom. Kami sempat ngobrol juga tadi," balas Maira, jujur.
"Memangnya kenapa, Mom?" Maira tiba-tiba saja merasa cemas. Gadis itu teringat dengan Yudhistira.
'Apa oma, tadi mendengar pembicaraan teman-teman Mas Yudhis?' batin Maira, bertanya.
"Di luar ada seorang pemuda. Katanya, dia adalah sahabat Yudhis. Dia mengabarkan ...."
Belum selesai Mommy Billa menjelaskan, Maira sudah berlari keluar dari ruang kerja sang daddy dengan pikiran kalut.
'Semoga oma baik-baik, saja.'
__ADS_1
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น