
Hari-hari selanjutnya, Yudhistira lalui dengan penuh semangat. Keinginannya untuk cepat sembuh dan bisa pulih seperti sediakala, begitu besar. Hal itulah yang membuat Yudhistira diperbolehkan untuk pulang lebih cepat dari perkiraan dokter.
Atas saran keluarga besar Daddy Rehan, Yudhistira akhirnya pulang ke kediaman keluarga Antonio. Hal ini untuk menghindari adanya fitnah jika pemuda itu pulang ke kediaman keluarga Daddy Rehan. Sebab, antara dirinya dan Maira belum ada ikatan yang sah.
Tawaran dari Kevin yang ingin mengajak kekasih adiknya itu untuk pulang ke kediamannya, juga di tolak oleh keluarga besar karena pasti akan merepotkan Salma jika Yudhistira berada di sana. Permintaan Yudhistira yang ingin pulang ke rumah sendiri, juga ditolak karena kasihan jika dia hanya ditemani oleh para asisten rumah tangga. Akhirnya, jalan tengah pun diambil dan Opa Alvian yang meminta langsung agar Yudhistira pulang ke kediaman keluarga Antonio.
"Nah, di sini 'kan ada banyak perawat cantik, Nak Yudhis. Ada Oma Susan, Nenek Lin, dan Mommy Billa serta Maira juga pasti akan sering berkunjung kemari. Kamu pasti akan kerasan tinggal di sini," tutur Opa Alvian ketika mereka baru saja tiba di rumah yang super luas tersebut.
"Yang paling cantik ini namanya Nenek Lin, beliau neneknya Mela, Nak Yudhis." Setelah mereka memasuki ruang keluarga, Opa Alvian kemudian memperkenalkan Nenek Lin yang baru saja muncul bersama Kakek Ilyas.
Yudhistira segera menyalami wanita berusia lanjut yang sisa kecantikannya masih terlihat dengan jelas. Pemuda itu mencium punggung tangan Nenek Lin dan kemudian memperkenalkan diri dengan tersenyum sopan. "Saya Yudhis, Nek."
Nenek Lin menganggukkan kepala dan kemudian mengusap pundak Yudhistira dengan sayang. "Anggap saja rumah sendiri ya, Nak. Kita ini keluarga," tuturnya, membuat Yudhistira menjadi terharu. Pemuda tampan tersebut teringat dengan sang oma yang telah pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
Setelah menyalami semua orang yang menyambut kehadiran Yudhistira, termasuk keluarga kecil Akbar yang juga berada di sana, pemuda itu kemudian diajak ke rumah belakang. Maira dengan penuh perhatian mendorong kursi roda sang kekasih. Gadis cantik itu tak henti menjelaskan apa saja yang mereka lewati.
"Di salah satu paviliun itu nanti, Mas Yudhis akan tinggal." Maira menunjuk salah satu bangunan rumah kecil yang banyak berjajar di sana, ketika mereka berdua baru melintasi kolam renang yang luas.
Bangunan-bangunan kecil yang artistik tersebut dari tahun ke tahun, jumlahnya semakin banyak. Menyesuaikan dengan jumlah anggota keluarga baru yang juga terus bertambah. Tiga putra-putri Daddy Rehan, kedua putra-putri Om Alex, kedua putra-putri Om Devan dan putra sulung Opa Alvian, Akbar. Bahkan, kedua putra-putri Bunda Fatima dan Ayah Yusuf, serta Bayu, sahabat Kevin, juga mendapat jatah.
Ya, anak-anak dari keluarga Alamsyah-Antonio yang sudah menikah dibuatkan paviliun baru sehingga jumlahnya kini tidak hanya tujuh seperti ketika pertama kali rumah itu dibangun hampir tiga puluh tahun yang lalu. Jumlah paviliun tersebut kini ada delapan belas. Tujuh bangunan pertama di bagian depan dan sisanya yang dibangun secara bertahap, ada di bagian belakang.
__ADS_1
"Itu dihuni semua, kah, Dik?" tanya Yudhistira, penasaran. Pasti akan sangat ramai hari-harinya nanti jika semua bangunan indah itu dihuni, begitulah batin Yudhistira.
"Tidak, Mas. Kami berkumpul hanya di hari sabtu dan minggu. Selebihnya, paviliun itu kosong. Hanya dua saja yang dihuni, punya Nenek dan Opa Al," terang Maira.
"Lalu, itu punya siapa aja, Dik? Apa, keluarga kamu, banyak yang diluar kota?" selidik Yudhistira, penuh rasa penasaran.
Maira kemudian menjelaskan dengan detail, bagaimana kebiasaan di keluarganya di setiap weekend berkumpul di kediaman Antonio tersebut. Yudhistira nampak mendengarkan dengan seksama. Bibir pemuda itu mengulas sebuah senyuman kebahagiaan mendengar kehangatan keluarga besar Maira.
'Pantas saja, Maira tidak pernah main ke rumah jika malam minggu. Ternyata, mereka semua berkumpul di sini. Aku pikir itu karena dia ada yang ngapelin,' batin Yudhistira.
"Ayo, silakan masuk Nak Yudhis! Lihat-lihat dulu ke dalam," Oma Susan yang membukakan pintu paviliun yang dulu ditempati oleh nenek dan bibinya, mempersilakan. "Oma tinggal dulu ya, mau nyiapin makan siang," pamitnya, kemudian.
"Memangnya, suka ada kejadian ganjil gitu, ya, Dik?" Yudhistira menjadi penasaran.
"Ck! Jangan dengerin Iqbal, Mas! Dia kalau ngomong suka ngaco!" sahut Maira.
Iqbal terkekeh. "Udah, ah. Iqbal mau ke sana dulu, ngumpul sama yang lain yang udah datang," pamitnya. Putra sulung Om Ilham itu kemudian berlalu, membiarkan Maira dan Yudhistira masuk ke dalam paviliun yang akan ditempati oleh pemuda yang duduk di kursi roda tersebut, untuk sementara waktu.
Kebetulan, hari ini adalah hari sabtu dan satu persatu keluarga mulai berdatangan. Iqbal segera bergabung dengan saudara-saudaranya di ruang keluarga, di rumah utama. Sementara di dalam paviliun, Maira masih menjelaskan pada Yudhistira tentang kebiasaan keluarganya.
"Senengnya ya, Dik, memiliki keluarga besar yang hangat seperti keluargamu," ucap Yudhistira.
__ADS_1
"Andai aku terlahir dari keluarga yang harmonis seperti kamu, Dik, mungkin aku tidak akan pernah tersesat," lanjutnya, penuh penyesalan.
Yudhistira mengingat teman-temannya di jalanan dulu yang memiliki pergaulan bebas, seperti Awang, Icha dan Mili. Kabarnya, setelah Awang sadar dari komanya, pemuda itu kemudian memberikan kesaksian sehingga Icha dan Mili dijatuhi hukuman berat karena telah melakukan pembunuhan berencana terhadap Awang.
Awang juga sudah meminta maaf kepada Yudhistira dengan mendatangi ruang perawatan kekasih Maira tersebut, dua hari sebelum Yudhistira dinyatakan diperbolehkan pulang. Yudhistira memaafkan Awang, tetapi untuk kembali berteman seperti dulu, rasanya sulit bagi kekasih Maira itu untuk kembali percaya pada pemuda yang telah mengkhianati pertemanan mereka berdua hanya demi seorang wanita.
"Tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi, Mas, karena pasti ada hikmah dibalik setiap kejadian," hibur Maira yang membuat Yudhistira tersenyum lebar.
"Kamu benar, Dik, dan karena aku ugal-ugalan nyetir mobil malam itu, aku jadi kenal sama kamu," ucapnya seraya menggenggam tangan Maira.
"Aku pengin cepat bisa jalan, Dik. Belajar di perusahaan dan kemudian kita segera menikah," lanjutnya seraya hendak beranjak.
"Mas Yudhis mau ngapain?" tanya Maira, panik.
"Aku mau latihan berdiri dulu, Dik."
"Jadi, punya Mas Yudhis belum bisa berdiri? Kok, udah mau tunangan?" Suara Iqbal yang kembali masuk ke paviliun, membuat Yudhistira kembali terduduk di kursi roda.
Yudhistira yang mengerti maksud pertanyaan Iqbal, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sementara Maira, menahan tawa sambil menutup mulutnya.
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น
__ADS_1