Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Kita Bukan Lagi Sahabat!


__ADS_3

Maira kemudian beranjak. Tatapannya yang biasanya hangat dan penuh kelembutan, kini menatap Yudhistira dengan penuh amarah.


"Lupakan tentang kedekatan kita, Mas! Lupakan, bahwa kita pernah saling bertemu dan mengenal!" Maira segera berlalu, meninggalkan Yudhistira yang masih belum mengerti dengan apa yang terjadi.


Setelah tersadar kalau Maira meninggalkan ruangan tersebut, Yudhistira berlari kecil mengejar langkah cepat Maira. "Dik, tunggu, Dik! Aku bisa menjelaskan semua!"


"Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan, Mas! Bukti dan saksi sudah ada dan Mas Awang, sahabat kamu juga membenarkan perkataan gadis itu!"


Maira segera masuk ke dalam mobil, tetapi Yudhistira tidak menyerah.


Yudhistira menggedor pintu mobil Maira, agar gadis itu memberinya kesempatan untuk menjelaskan.


Usaha pemuda berambut gondrong tersebut membuahkan hasil. Maira mau membuka kaca jendela mobilnya.


"Penjelasan apalagi, Mas? Memangnya, Mas memiliki bukti kalau malam itu Mas Yudhis tidak mabuk dan melakukan hal bodoh?" cecar Maira, marah.


Yudhistira menggeleng lemah. Satu-satunya bukti adalah Awang, tetapi sahabatnya itu malah ikut membenarkan perkataan Mili tadi.


Gelengan kepala Yudhistira, sudah cukup memberikan jawaban bagi Maira, jika pemuda itu memang bersalah.


Maira tertawa kecil, tawa yang terdengar penuh luka dan kecewa.


"Bodoh! Aku memang bodoh! Kenapa aku membiarkan hatiku berlabuh pada seorang berandal? Sekalinya berandal, akan tetap menjadi berandal!"


Gadis cantik itu segera tancap gas, tanpa menutup jendela kaca mobilnya, meninggalkan kediaman Bisma.


Bulir bening berjatuhan, membasahi pipi putih bersih Maira. Hatinya benar-benar terluka.


Pertama kali jatuh cinta dan disaat dirinya hendak mulai merajut kisah cinta tersebut, kabar yang melukai hatinya datang dengan tiba-tiba hingga membuat dirinya menjadi sangat kecewa.

__ADS_1


Sementara Yudhistira hanya bisa menatap nanar kepergian Maira.


'Aku memang berandal, Dik, tapi aku masih punya hati.' Yudhistira menghela napas berat, dadanya terasa sangat sesak mendengar gadis yang dia sayangi, memaki dirinya dengan sebutan berandal.


Yudhistira tahu kalau dirinya difitnah, tetapi sayangnya, untuk saat ini pemuda itu tidak dapat membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.


Suara tepuk tangan menggema, memenuhi halaman luas keluarga Bisma.


Yudhistira kemudian menoleh ke belakang, ke arah tiga orang yang baru saja datang dan mengacaukan segalanya.


"Jika aku tidak bisa mendapatkan kamu, maka tidak ada seorang gadis pun yang boleh mendapatkan kamu, Yudhis!" Gadis yang selalu bersama Awang, tersenyum seringai.


"Apa maksud kamu, Icha?" tanya Yudhistira, tak mengerti.


"Jadi, semua ini memang sudah kamu rencanakan, Cha?" lanjutnya bertanya, seraya menatap Icha. Gadis berkulit hitam manis dan berambut seksi, dari timur.


"Benar, Yudhis! Aku lelah mengejar kamu dan aku tidak suka kamu dekat dengan gadis tadi. Makanya, aku meminta bantuan Mili, untuk menjauhkan kamu dari gadis yang sok suci itu!" Icha tersenyum puas.


"Aku juga capek ngejar kamu, Yudhis! Sementara kamu tidak pernah memperdulikan aku! Makanya, begitu Icha melontarkan idenya untuk menjauhkan kamu dengan si Mela itu, aku setuju!" timpal Mili, masih dengan senyuman puasnya.


Yudhistira menggeleng-gelengkan kepala, tidak percaya jika dua gadis yang selama ini dia anggap teman, nyatanya adalah ular berbisa.


"Bukankah kamu sudah jadian sama Awang, Icha? Lantas, kenapa kamu menyimpan dendam padaku dan membuat aku kehilangan gadisku?" Yudhistira menatap Icha dengan tatapan tajam.


"Hahaha ...." Gadis manis itu tertawa keras.


"Aku mau jadian sama dia, hanya untuk memanfaatkan dirinya saja, Yud. Agar Awang mau memberikan kesaksian yang akan membuat rencanaku ini berhasil dan kamu lihat, Yud. Rencanaku sukses besar, bukan?"


Awang langsung menatap Icha tak percaya, setelah mendengar pengakuan kekasihnya itu. "Cha, apa yang kamu katakan itu tidak benar, kan?"

__ADS_1


"Yang kamu dengar itu benar adanya, Wang! Apa kamu pikir, aku sudi pacaran sama kamu? Cih, najis!" Icha berdecih dan kemudian membuang ludah di depan sahabat Yudhistira tersebut.


"Cha, jadi benar kamu menerima cintaku hanya karena ingin memanfaatkan aku?" Awang bertanya sekali lagi, untuk memastikan.


"Lantas, apa arti hubungan yang telah kita lakukan beberapa minggu ini, Cha? Kamu bilang, kamu siap jika harus mengandung anakku, kan?" Pemuda itu menatap Icha, dengan tatapan tak mengerti.


Awang geleng-geleng kepala sendiri mengingat semuanya. Hubungan yang mereka berdua lakukan, sudah sangat jauh dan di luar batas.


Dia pikir, selama ini Icha benar-benar mencintainya, hingga gadis itu rela menyerahkan diri sepenuhnya pada Awang.


Ternyata pemikiran sahabat Yudhistira tersebut keliru. Icha menerima Awang hanya untuk membalas sakit hatinya pada Yudhistira karena selama ini, ketua geng motor itu pernah melirik Icha.


"Hubungan? Kamu pikir, aku melibatkan perasaan di setiap hubungan yang kita lakukan, Wang? Hahahaha ... big no, Awang!" Icha kembali tergelak.


"Aku bisa melakukan itu dengan siapapun yang aku mau dan tanpa harus melibatkan perasaan, Wang. Yang penting, sama-sama senang dan tujuanku tercapai," lanjutnya tanpa beban.


Awang mengepalkan kedua tangan, dia menatap Icha dengan mata berkilat penuh amarah. Kemarahan telah benar-benar menguasai hati pemuda tersebut karena merasa telah dipermainkan oleh Icha.


Dia korbankan persahabatannya dengan memberikan kesaksian palsu, tetapi ternyata kekasih yang dia sangka benar-benar mencintainya, hanya memanfaatkan Awang semata.


"Yuk, Mil! Kita cabut!" ajak Icha yang langsung melenggang menuju mobilnya, diikuti oleh Mili.


Awang masih terdiam. Pemuda itu kemudian menatap Yudhistira dengan perasaan bersalah. "Yud, maafkan ...."


"Aku sama sekali enggak nyangka, Wang! Kamu setega itu padaku!" sergah Yudhistira, sebelum Awang menyelesaikan ucapannya.


"Mulai sekarang kita bukan lagi sahabat!" Yudhistira kemudian mengepalkan kedua tangannya, siap memberikan bogem mentah kepada Awang.


Suara bibi asisten yang berseru memanggil namanya, mengurungkan niat Yudhistira untuk memberikan pelajaran pada mantan sahabatnya tersebut.

__ADS_1


"Den Yudhis! Oma, Den!"


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2