
Yudhistira masih sempat sadar ketika kecelakaan itu terjadi dan dia sempat merintih, merasakan sakit di kakinya.
Dia juga sempat mendengar suara motor teman-temannya yang menjauh dan tidak ada yang peduli dengannya, hingga membuat pemuda itu menyadari satu hal, bahwa teman-teman yang dia miliki selama ini tidak ada yang benar-benar tulus.
Awang yang merupakan teman baik saja, bisa berkhianat. Bagaimana dengan Willy dan yang lain? Mereka juga pasti akan tega meninggalkan Yudhistira yang mengalami kecelakaan, untuk mencari aman.
Yudhistira juga sempat teringat, bagaimana teman-temannya itu hanya datang di pagi hari ketika sang oma akan dimakamkan dan hanya sekadarnya saja memberikan ucapan bela sungkawa, dan setelah itu mereka tidak terlihat lagi batang hidungnya.
Tidak seperti keluarga besar Maira yang selalu ada untuknya, bahkan mengkhawatirkan Yudhistira ketika pemuda itu menjauh dari keluarga yang hangat tersebut.
'Maafkan aku, Bang. Abang benar harusnya tadi aku ikut abang pulang ke rumah abang,' sesal Yudhistira di antara kesadarannya yang mulai menghilang.
Beberapa detik kemudian, Yudhistira tidak sadarkan diri. Rasa sakit karena tubuhnya sempat terbanting dan menyentuh aspal yang dingin, serta kondisi tubuh yang kurang asupan serta kurang istirahat, membuat kondisi fisik Yudhistira sangat lemah.
Tubuh Yudhistira yang penuh luka dan bersimbah darah, tergeletak hingga berjam-jam di pinggir trotoar jalan komplek yang sepi karena perumahan baru tersebut belum dihuni.
Barulah di jam kerja, beberapa orang pekerja bangunan yang mulai berdatangan di komplek tersebut, melihat tubuh Yudhistira dan mereka segera membawanya ke rumah sakit terdekat.
\=\=\=\=\=
Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika bibi asisten yang bekerja di kediaman keluarga Bisma, berjalan mondar-mandir keluar masuk pintu gerbang.
"Memangnya, Bapak tadi pagi tidak mencegah Den Yudhis ketika mau keluar?" tanya wanita berusia sekitar empat puluh tahun tersebut, penuh kekhawatiran.
Sebab dia tahu bahwa tuan mudanya belum makan dari kemarin sore dan kondisi psikis Yudhistira juga sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Bibi asisten yang telah dikasih amanah oleh almarhum omanya Yudhistira tersebut khawatir, sesuatu yang buruk terjadi pada tuan mudanya di luar sana.
"Sudah, Bi. Tapi Den Yudhis maksa dan kelihatannya sangat buru-buru," balas pak satpam.
"Mana Den Yudhis tidak bisa dihubungi lagi." Bibi asisten melihat ke arah layar ponselnya, berharap Yudhistira menelepon balik.
"Pak, coba Bapak ke pemakaman nyonya. Barangkali Den Yudhis berada di sana. Kasihan kalau sampai Den Yudhis pingsan di pemakaman," pintanya pada satpam yang berjaga.
Dalam pikiran bibi asisten tersebut, bisa saja tuan mudanya itu tiba-tiba pingsan karena kondisi fisiknya yang lemah.
Apalagi semalam, wanita itu juga mendengar Yudhistira sering batuk-batuk, dan meskipun sudah terbatuk-batuk hingga dadanya terasa sesak seperti semalam, tuan mudanya tetap saja masih merokok dengan kuat.
"Baik, Bi. Aku akan cek ke sana." Pak Satpam segera ke garasi untuk mengambil motor, tetapi baru saja motornya dituntun keluar dari garasi, datang mobil polisi yang membuat dua orang kepercayaan di kediaman Bisma tersebut, terkejut.
"Duh, Dn Yudhis kenapa?" gumam bibi asisten yang langsung teringat pada Yudhistira.
"Se-selamat pagi, Pak," balas asisten rumah tangga itu, gugup.
"Apa benar di sini kediaman Saudara Yudhistira?" tanya polisi yang berusia sekitar tiga puluh tahun itu, seraya menatap bibi asisten dan pak satpam bergantian .
"Den Yudhis. Iya, benar Pak Polisi. Ada apa dengan Den Yudhis, Pak?" tanya bibi asisten, tidak sabar ingin segera mengetahui berita apakah yang dibawa oleh Pak Polisi mengenai tuan mudanya.
"Bisa kami bertemu dengan orang tuanya?"
"Maat, Pak. Orang tua Den Yudhis sudah meninggal," balas bibi asisten, melupakan Pandu sebagai ayah kandung Yudhistira.
__ADS_1
"Papanya masih ada, Pak, tetapi tinggal di luar kota," ralat pak satpam.
"Oh, iya. Tinggal di Surabaya, Pak," timpal asisten tersebut, meralat keterangannya.
"Baik, saya sampaikan hal ini pada kalian saja, ya. Nanti tolong sampaikan pada orang tuanya."
Bibi asisten tersebut mengangguk. "Iya, Pak. Katakan saja, ada apa?" tanyanya dengan tidak sabar.
"Saudara Yudhistira kemungkinan dini hari tadi mengalami kecelakaan dan sekarang di rawat di rumah sakit Harapan. Pihak rumah sakit masih menunggu kehadiran keluarga korban untuk melakukan tindakan medis. Usahakan, agar secepatnya keluarga korban ke rumah sakit karena kondisi korban cukup kritis."
"Pak Pol, Pak Pol. Tolong katakan pada pihak rumah sakit, agar memberikan pengobatan yang terbaik untuk tuan muda kami. Kami akan pastikan, setelah ini keluarga Den Yudhis akan segera ke rumah sakit untuk mengurus administrasinya," sergah sang asisten, cepat.
Dia tidak ingin hal buruk terjadi pada Yudhistira, jika sedikit saja tuan mudanya itu telat mendapatkan pertolongan dari tim medis.
Seperti selama ini yang sering asisten rumah tangga itu dengar dari cerita asisten lain di kompleks tersebut, kasus adanya kematian atau korban akhirnya mengalami cacat seumur hidup karena terlambat mendapatkan pertolongan, sebab tidak adanya uang untuk mengurus administrasi rumah sakit.
"Baik, akan kami sampaikan," pungkas petugas berseragam cokelat tersebut yang kemudian segera masuk ke dalam mobil patroli dan menjauh dari kediaman Bisma.
Petugas jaga di kediaman megah tersebut, menatap bibi asisten tak habis pikir.
"Bi, perjalanan dari Surabaya ke sini itu jauh dan lama. Kenapa tadi Bibi bilang sama pak polisi itu kalau keluarga Den Yudhis akan segera datang ke rumah sakit?"
"Lagipula, kata Nyonya Saidah Pak Pandu itu 'kan takut pada istrinya. Ya, kalau istrinya yang katanya judes dan sombong itu mengijinkan beliau terbang ke sini. Kalau tidak, bagaimana Bi?"
"Bapak ini kebanyakan ngomong! Bapak lupa, ada keluarga Tuan Rehan yang sayang sama Den Yudhis? Sudah cepat, Bapak kabarkan keadaan Den Yudhis kepada mereka!" suruh bibi asisten dan satpam tersebut menepuk dahinya sendiri karena melupakan orang-orang yang ramah padanya seperti keluarga besar Maira.
__ADS_1
"Oh, iya. Den Yudhis 'kan, calon suami Non Maira, ya?" Satpam itu tersenyum dan kemudian segera memacu motornya, untuk menuju kediaman keluarga Daddy Rehan.
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น