Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Meninggalkan Yudhistira Seorang Diri


__ADS_3

Di kediaman keluarga Alamsyah, tepatnya di dalam kamar salah satu putri kembar Daddy Rehan. Maira sedari tadi nampak gelisah.


Gadis itu tidak juga dapat memejamkan mata, meskipun tadi sang abang sudah mengabarkan bahwa Kevin sudah bertemu dengan Yudhistira dan abangnya tersebut juga sudah berbicara banyak hal pada pemuda yang dicintai oleh Maira.


Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari ketika Maira memutuskan untuk keluar dan menuruni anak tangga, hendak menuju kamar kedua orang tuanya. Begitulah gadis centil itu, yang terbiasa mengadu kepada sang daddy dan sang mommy, jika sedang gelisah seperti sekarang ini.


Maira tidak ragu mengetuk pintu kamar yang masih tertutup rapat tersebut, sebab dia tahu bahwa kedua orang tuanya pasti sudah terbangun untuk bersujud kepada Yang Maha Kuasa di sepertiga malam.


Tak lama setelah Maira mengetuk pintu, terlihat sang daddy membuka pintu kamarnya. Daddy tampan tersebut terlihat semakin berwibawa dengan koko dan sarung yang beliau kenakan, lengkap dengan peci hitam yang bertengger di kepala.


"Ada apa, Nak?" tanya Daddy Rehan, penuh perhatian dan tanpa sang putri minta, beliau langsung memeluk Maira.


Ayah enam anak tersebut sudah hafal betul dengan kebiasaan sang putri yang selalu akan mencari dirinya, jika sedang ada masalah.


"Ayo, masuklah!" ajak sang daddy kemudian seraya menuntun Maira masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam kamar, sang mommy terlihat sedang tadarus Al-qur'an dan tak lama kemudian begitu mengetahui putri bungsunya datang, mommy berusia paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dan awet muda itu mengakhiri tadarus dan menutup kitab sucinya.


"Ada apa, Nak?" tanya Mommy Billa setelah menyimpan Al-qur'an di tempatnya semula.


Maira yang sudah duduk di sofa, di samping sang daddy tidak langsung menjawab, tetapi gadis cantik itu menghela napas panjang seolah ingin membuang rasa sesak yang tiba-tiba saja menghimpit di dada.


"Mela juga tidak tahu, Mom. Tiba-tiba saja, Mela merasa gelisah dan ...." Sejenak gadis yang saat ini masih mengenakan piyama tidur itu, menjeda ucapannya.


Maira kemudian memainkan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya, dengan perasaan tidak menentu.


"Dan, kenapa?" cecar sang mommy yang sudah tidak sabar ingin mengetahui apa yang terjadi dengan sang putri.

__ADS_1


Berbeda dengan Daddy Rehan yang cenderung akan membiarkan dulu putri bungsu itu bermanja-manja dengannya dan setelah itu barulah Maira akan bercerita dengan sendirinya.


"Mela kepikiran sama Mas Yudhis terus, Mom," balas Maira, jujur.


Pipi putih itu merona, rasanya malu juga mengatakan hal demikian pada orang tuanya. Sedangkan beberapa waktu yang lalu, mereka telah sama-sama tahu jika Kevin malam ini sudah mencoba untuk menemui Yudhistira.


Mommy Billa yang baru saja menyimpan mukena di atas sajadah, kemudian mendudukkan diri di samping sang putri dan penuh kasih, wanita lembut itu mengusap puncak kepala Maira dengan sayang.


"Ambil air wudlu, sholat dan berdo'alah agar Allah membukakan pintu hati Nak Yudhis supaya dia bisa menerima semua takdir hidup yang harus dijalani. Jangan lupa, do'akan juga, agar dia senantiasa dalam lindungan Allah," tuturnya dengan sangat bijak.


Maira mengangguk, mengerti ucapan sang mommy. "Iya, Mom."


Daddy Rehan tersenyum lebar, senyum yang menunjukkan betapa bersyukur dirinya memiliki pendamping hidup yang menyejukkan hati, mempunyai anak-anak yang penurut dan mudah dinasehati, hingga hidupnya terasa sangat sempurna.


\=\=\=\=\=


Bukan hanya teman satu geng Yudhistira, pemuda-pemuda lain dari geng motor yang menantang pun sudah bersiap di atas motor mereka masing-masing.


Suara bising dadi knalpot motor sport yang ber-CC tinggi, terdengar memekakkan telinga di pagi buta tersebut.


"Selamat datang kembali, Bos," sapa Willy yang langsung mendekati motor Yudhistira yang telah bersiap di garis terdepan.


"Apa anak-anak yang lain, sudah siap semua, Will?" tanya Yudhistira pada pemuda yang mengendarai motor sport berwarna hijau tersebut.


"Sudah, Bos. Di tim kita, ada tujuh orang dan Aaron juga menyiapkan tujuh anak buahnya," balas Willy.


Sementara di atas motor sport-nya, Aaron tersenyum seringai ke arah Yudhistira. Aaron kemudian menggeber-geber knalpot motor, hingga menimbulkan suara yang sangat berisik. Di susul oleh teman-temannya yang lain, seolah menantang pihak lawan.

__ADS_1


Teman-teman Yudhistira mulai terpancing dan mereka nampak tidak sabar ingin segera adu cepat di jalanan untuk menunjukkan siapa di antara mereka yang terdepan.


"Will! Apa ketua kalian yang melo sudah siap? Atau, menyerah karena masih menangisi orang yang sudah mati!" Seruan Aaron yang dapat didengar dengan jelas oleh Yudhistira, di antara bising suara knalpot motor, membuat pemuda tersebut meradang.


Pemuda yang masih marah dan kecewa dengan keadaan tersebut, semakin marah karena Aaron meledek dirinya dan kemarahan Yudhistira semakin memuncak sebab pemuda dari geng motor lawan itu membawa-bawa almarhumah sang oma.


Yudhistira menjawab dengan isyarat tangan, bahwa dirinya telah bersiap. Pemuda yang memiliki tatapan tajam itu segera mengenakan helm full face yang tadi sempat dia sambar, ketika hendak keluar.


Dua orang gadis yang membawa bendera kecil, segera berjalan berlenggak-lenggok di depan para pemuda yang sudah bersiap di atas motor masing-masing. Mereka menghitung mundur, mulai dari angka sepuluh.


Tepat ketika angka dua selesai diserukan, bendera itu di arahkan ke atas dan dua gadis berpakaian seksi tersebut kemudian berseru. "Go!"


Para pemuda beratribut layaknya pembalap profesional itu langsung melajukan motor sport dengan kecepatan penuh. Termasuk Yudhistira yang langsung melesat jauh, meninggalkan teman-temannya.


Ya, kemampuan pemuda berambut gondrong sebahu itu memang tidak diragukan lagi dalam menguasai jalanan. Meski di jalan yang ramai sekalipun, Yudhistira begitu lihai membaca dan memperhitungkan kondisi di jalan raya. Itu sebabnya, dia dipilih menjadi ketua geng motor oleh teman-teman di komunitasnya.


Setelah beberapa saat melaju. 'Astaghfirullah, apa itu?'


Belum sempat Yudhistira menghentikan laju motornya, motor sport yang dia kendarai tergelincir setelah melintasi tikungan yang sepertinya jalan tersebut sengaja dibasahi oleh seseorang dengan oli.


Motor dan pengendaranya berguling, kemudian menghantam apa saja yang ada di sekitar tempat tersebut, termasuk drum berisi bahan bakar minyak. Drum yang entah kenapa bisa berada di sana dan drum itu langsung meledak.


Suara ledakan tersebut terdengar begitu keras. Hingga membubarkan mereka semua yang sedang balapan dan langsung kabur untuk menyelamatkan diri karena tidak mau berurusan dengan polisi, termasuk Willy.


Mereka semua meninggalkan Yudhistira seorang diri, tanpa peduli bagaimana nasib dan kondisi pemuda itu.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน bersambung ... ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2