
Di tempat lain, tepatnya di jalanan yang sepi, Yudhistira tengah duduk merenung di atas seonggok batu besar sambil menghisap rokok. Asap dari benda yang dia hisap itu mengepul, membumbung tinggi dan menghilang di udara.
Ya, pemuda itu berharap seperti itulah masalah yang dia hadapi saat ini. Akan menguap dan menghilang begitu saja dari kehidupannya. Namun, ketika dia tersadar dari lamunan, semua masih saja sama.
Yudhistira telah kehilangan semuanya. Kehilangan sang oma, satu-satunya keluarga yang peduli dengan dirinya. Kehilangan teman baik yang demi seorang wanita telah tega memberikan kesaksian palsu, hingga menyebabkan sang oma meninggal dunia.
Pemuda itu juga merasa telah kehilangan cintanya, cinta yang baru saja bersemi dan kini dia anggap tidak mungkin lagi untuk dapat diraih. Meski sekuat apapun Yudhistira memperjuangkan karena dia hanyalah seorang berandalan.
"Percuma aku jadi orang baik, semua enggak ada gunanya!" Yudhistira kemudian mematikan rokok, dengan menginjak puntung rokok tersebut.
Pemuda berambut gondrong yang rambutnya dibiarkan tergerai dan tertiup angin malam itu segera beranjak, menghidupkan kembali mesin motor sport-nya dan segera melajukan motor kesayangannya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan beraspal.
Yudhistira berkendara tanpa mengenakan helm, tanpa jaket, dan tanpa kaos tangan. Dia abaikan keselamatan dirinya sendiri karena bagi Yudhistira, nyawanya kini sudah tidak ada lagi artinya.
Dia merasa, hanya memiliki raga, tetapi tidak dengan jiwa. Jiwanya telah mati, ikut terkubur bersama kematian sang oma.
Pemuda itu terus melajukan motornya, tak tentu arah dan tanpa tujuan. Dia akan menepikan motor, jika dirinya tiba-tiba ingin berhenti. Tidak peduli itu di mana, dan tidak jelas juga untuk apa dia berhenti di sana.
Seperti kali ini, Yudhistira tiba-tiba menghentikan laju motornya di tepi sungai di jalan yang sepi. Pemuda yang memiliki tatapan tajam seperti burung elang tersebut kemudian turun dari motor sport-nya dan duduk di atas rumput liar di tepian sungai.
Baru beberapa saat duduk, terdengar ponsel di dalam sakunya berdering. Dia ambil ponselnya dan kemudian dia lihat siapa yang menghubunginya.
"Mela ...." Yudhistira menghela napas panjang seraya menatap layar ponsel yang terus berdering.
"Buat apa kamu masih menghubungiku? Lupakan aku, Mel ... lupakan kalau kita pernah saling bertemu dan saling mengenal," gumamnya.
__ADS_1
Dia abaikan ponsel yang terus berdering, hingga di panggilan ketiga, dering ponsel Yudhistira berhenti dengan sendirinya.
Setelah suasana kembali sunyi, Yudhistira menyulut rokok yang beberapa hari ini sudah menjadi teman setianya. Dalam satu hari, dia dapat menghabiskan hingga dua bungkus rokok.
Yudhistira tetap saja menghisap rokoknya meskipun pemuda itu mulai terbatuk-batuk. Pemuda tampan tersebut mengabaikan dadanya yang terasa sesak, dia benar-benar sudah tidak peduli dengan kesehatannya.
Asap rokok dan angin malam, kini sudah menjadi makanan keseharian Yudhistira. Menjadi teman setianya, dikala gundah begitu mendera.
Ya, benda yang selama ini tidak pernah disentuhnya, kini menjadi teman setia Yudhistira.
Tepat pukul satu dini hari, Yudhistira beranjak dari rerumputan yang telah basah karena embun. Dia segera kembali ke motornya, menghidupkan mesin motor ber-CC besar tersebut dan kemudian melajukannya dengan kecepatan tinggi untuk pulang ke rumah.
\=\=\=\=\=
Di kediaman Bisma, Kevin yang menunggu kedatangan Yudhistira bersama Bayu, mulai terkantuk-kantuk di ruang tamu rumah megah tersebut. Mereka berdua berada di rumah itu sejak pukul sembilan malam.
Putra sulung keluarga Rehan Alamsyah itu menepati janjinya pada sang adik, juga pada kedua orang tuanya untuk menemui Yudhistira dan berbicara dari hati ke hati dengan pemuda yang kini seperti kehilangan arah tersebut.
"Bay, bangun, woy!" seru Kevin pada asisten pribadinya yang sudah cukup lama tertidur sambil duduk di sofa.
"Gantian, lu udah lama tidur." Kevin meninju lengan sang sahabat yang sudah cukup lama terlelap itu.
"Gue masih ngantuk banget, Bos," protes Bayu yang masih saja betah memejamkan mata. Sahabat dan sekaligus asisten pribadi Kevin itu malah merebahkan tubuh di sofa, mencari posisi ternyaman.
"Ck ... lu, Bay. Udah kayak kebo aja kalau tidur," gerutu Kevin. "Suara dengkuranmu juga keras, berisik tahu enggak, sih," imbuhnya yang cukup terganggu dengan suara tidak nyaman.
__ADS_1
"Enggak usah menggerutu, lah, Bos. Lu 'kan udah paham gue sejak lama," balas Bayu tanpa dosa, masih dengan mata yang terpejam.
"Sekarang, biarkan gue tidur. Gue janji, besok akan meng-handle semua kerjaan di kantor dan lu enggak perlu berangkat bekerja," lanjut Bayu.
"Halah, gaya lu mau meng-handle semua. Paling juga dikit-dikit lu telepon dan bertanya macam-macam," cibir Kevin, hingga membuat Bayu tergelak dan membuka matanya.
Ayah dua anak itu kemudian beringsut dan duduk kembali dengan benar di samping Kevin. "Daripada gue salah dan kena omelan lu, lebih baik bertanya, kan?" balas Bayu membela diri.
"Jam berapa sekarang, Bos?" tanyanya kemudian.
"Udah jam satu lebih, nih. Kok Yudhis belum juga pulang, ya?" Kevin yang sudah sangat lama menunggu, mulai resah.
Putra pertama Daddy Rehan itu kemudian beranjak dan meregangkan otot-otot di tubuhnya yang terasa kaku. Setelah merasa enakan, Kevin hendak kembali duduk, tetapi dia urungkan ketika mendengar suara motor datang.
"Itu pasti Yudhis," ucapnya sambil menuju pintu utama dan langsung keluar dari rumah megah keluarga Bisma, untuk menyambut kedatangan Yudhistira.
Sementara Yudhistira yang mengenali mobil Kevin, langsung memutar motornya dan hendak kembali keluar, tetapi laju motornya terhenti ketika mendengar suara Kevin berseru dan menyentil sisi keangkuhan pemuda tersebut
"Yud! Mau sampai kapan kamu akan menghindar dan menjadi pecundang?"
Yudhistira nampak geram, mendengar Kevin mengata-ngatai dirinya pecundang.
"Oma tidak akan suka melihat kamu seperti ini, Yud. Secara tidak langsung, kamu telah mengecewakan Oma. Mengecewakan dua wanita yang sangat mencintai kamu, Yud," imbuh Kevin seraya berjalan mendekati Yudhistira.
Kata-kata Kevin membuat dahi pemuda berambut gondrong tersebut, berkerut dalam.
__ADS_1
'Mengecewakan dua wanita yang sangat mencintaiku? Siapa? Apakah mungkin Mela? Apa benar dia masih mencintai pemuda berandalan sepertiku?'
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น