
Keluarga Alamsyah dan Antonio bergerak cepat untuk mempersiapkan pesta resepsi pernikahan si kembar bungsu, Maira dan Maida. Semua ikut terlibat dan saling bahu-membahu agar acara berlangsung seperti yang diinginkan. Tidak ada yang berdiam diri saja, mulai dari abang-abang si kembar, sepupu, serta om-omnya.
Tanpa terasa, hari yang dinanti itupun tiba. Kini semua keluarga telah berkumpul di kediaman luas Antonio yang saat ini telah disulap menjadi tempat pesta yang sangat mewah. Termasuk keluarga dari Singapura dan dari Paris yang datang tanpa Oma Carla karena adik kandung Opa Sultan itu telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, tepat sebulan setelah datang ke pernikahan Mirza dan Lila.
Sambil menunggu datangnya malam, mereka sudah mempersiapkan diri untuk menyambut para tamu yang sudah mulai berdatangan. Tepatnya para besan dari geng tampan yang sengaja hadir lebih awal agar dapat bersilaturahim terlebih dahulu dengan keluarga besar tersebut. Mereka datang dari jauh untuk menghadiri resepsi pernikahan Maira dan Maida.
Seperti papa dan mamanya Dion yang datang dari Singapura karena saat ini kedua mertua Fira itu tinggal di negeri Singa. Orang tua Rahman yang datang dari Malaysia karena mertua Malika itu diminta untuk kembali ke Malaysia melanjutkan perusahaan orang tua yang hampir bangkrut, kebangkrutan itu disebabkan perebutan harta yang dilakukan oleh saudara-saudaranya. Selebihnya, mereka datang dari berbagai kota di Pulau Jawa.
"Kak Icha, mertua Kakak udah datang, tuh!" teriak Iqbal pada sang kakak sepupu yang masih asyik bercengkrama dengan saudara-saudaranya yang lain.
Mendengar teriakan Iqbal, Malika dan sang suami segera beranjak lalu berlari kecil menuju ruang keluarga untuk menemui kedua orang tua Rahman. Saudaranya yang lain pun ikut bubar untuk menemui keluarga masing-masing. Meninggalkan Iqbal yang cemberut karena belum memiliki mertua.
"Sabar, kamu 'kan cowok, jangan buru-buru mikir nikah. Belajar dulu yang benar dan kemudian bekerja. Setelah itu baru mikir pernikahan," nasehat Mirza yang paling akhir meninggalkan tempat tersebut.
Mirza segera berlalu meninggalkan tempat itu meskipun bukan untuk menemui mertuanya. Sebab, hampir setiap hari dia bisa bertemu dengan sang mertua yang merupakan sahabat sang daddy dan sudah dianggap sebagai keluarga oleh keluarga besar Alamsyah dan Antonio. Iqbal pun kemudian ikut meninggalkan tempat itu menuju ke paviliun yang ditempati Maira untuk menjahili kakak sepupunya.
__ADS_1
Sementara di dalam kamarnya, Maira tengah menjalani serangkaian perawatan diri dengan ditemani oleh sang suami. Tatapan Yudhistira terus tertuju ke arah sang istri yang sedang dipijat oleh terapis. Pemuda berambut panjang sebahu itu menelan saliva melihat kulit putih seputih susu milik sang istri yang kemerahan karena pijatan.
"Mbak. Mbak istirahat di luar dulu ya. Biar saya yang lanjutin," pinta Yudhistira yang tiba-tiba sudah mendekat ke ranjang.
Terapis itu sempat mengerutkan dahi, tetapi sedetik kemudian tersenyum mengerti. "Baiklah, Mas," ucapnya. Wanita berusia sekitar tiga puluh tahun itu lalu meninggalkan kamar pengantin tersebut.
"Mas Yudhis malu-maluin aja, deh," protes Maira yang mengerti keinginan sang suami.
Pemuda berambut gondrong itu tersenyum. "Habisnya, kamu menggodaku, Sayang. Salah sendiri kenapa hanya memakai kain seperti ini," balas Yudhistira seraya melepaskan kain yang tadinya menutupi tubuh mulus Maira.
Maira nampak masih ingin melanjutkan protesnya, tetapi bibir Yudhistira langsung membungkam bibir istrinya itu agar tidak lagi bersuara. Awalnya Maira hanya pasrah saja. Namun, Yudhistira yang pandai membangkitkan gairahnya membuat Maira membalas ciuman sang suami.
Ciuman yang awalnya lembut tersebut, kini semakin menuntut. Tidak sabar, Yudhis segera menyudahi penyatuan bibir dan segera bergerak turun menyusuri kulit halus dan mulus istrinya. Baru saja Yudhistira menemukan bukit kembar nan kenyal kesukaan, terdengar suara pintu kamar diketuk.
Yudhistira buru-buru beringsut lalu segera mengenakan pakaiannya kembali karena teringat bahwa pintu kamarnya belum dikunci. Setelah mengenakan celana, pemuda tampan itu kemudian menutupi tubuh polos sang istri dengan kain. Sambil menggerutu, suami Maira mengenakan kaos seraya berjalan menuju pintu.
__ADS_1
"Lama banget, sih, bukain pintunya! Kalian berdua ngapain aja?" protes Iqbal lali bertanya ketika Yudhistira baru saja sedikit membuka pintu kamar.
Yudhistira berdecak kesal setelah melihat adik sepupu Maira di hadapan. "Memangnya ada apa, Dik? Ganggu orang lagi senang-senang aja!" protesnya dengan wajah ditekuk.
"Yaelah, kayak enggak ada waktu lain aja. Noh, di luar sana lagi rame tamu. Malah asyik-asyikan di dalam kamar. Keluar, yuk!" ajak Iqbal hendak menyeret tangan Yudhistira.
"Eh, bentar, Dik. Lagi tanggung tau!" tolak Yudhistira blak-blakan, membuat terapis yang berdiri di samping Iqbal tersenyum malu sendiri.
Yudhistira hendak kembali ke dalam kamar, tetapi Iqbal mencegah dengan ancaman. "Kalau Mas Yudhis kembali masuk, Iqbal akan ceritakan sama saudara-saudara yang lain." Pemuda tengil itu lalu terkekeh.
Yudhistira menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menoleh ke arah sang istri yang sudah duduk di tepi ranjang dengan tubuh yang terbungkus selimut. "Ya udah, lah, Mas. Mas Yudhis keluar aja, temui saudara-saudara yang udah pada datang."
Yudhistira masih terdiam. Hasratnya belum sepenuhnya redam. Maira yang mengerti kegelisahan sang suami lalu berkata tanpa bersuara, "aku janji, nanti malam akan berikan yang terbaik untuk Mas Yudhis." Maira memainkan kedua alisnya, menggoda sang suami.
Yudhistira tersenyum senang, mendengar janji sang istri. Dia bertekad akan menagihnya meski mungkin istrinya akan kelelahan karena menemui dan menyalami para tamu undangan yang akan datang nanti malam.
__ADS_1
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น