
Awang yang langsung meninggalkan kediaman orang tua Maira setelah mendapatkan telepon dari temannya, segera melakukan mobilnya untuk menuju ke tempat tongkrongan.
Sahabat yang telah mengkhianati Yudhistira itu sama sekali tidak curiga, ketika temannya tadi menelepon dan mengatakan bahwa Icha mengalami kecelakaan, dan saat ini gadis berkulit hitam manis itu sedang bersama mereka di base camp.
Meskipun telah dihina dan dimanfaatkan oleh Icha, tetapi begitu mendengar bahwa gadis yang beberapa minggu terakhir selalu menghangatkan malam-malamnya mengalami kecelakaan, pemuda tersebut tetap peduli dengan Icha dan langsung meluncur meninggalkan kediaman keluarga Daddy Rehan, serta melupakan tujuannya datang ke sana untuk menemui Maira.
"Semoga kamu tidak apa-apa, Cha," gumamnya. Awang semakin dalam menginjak gas karena ingin segera sampai ke base camp dan melihat sendiri keadaan Icha.
Setelah berjibaku dengan pengguna jalan lain, Awang akhirnya tiba juga di base camp dan pemuda tersebut segera memarkirkan mobilnya dengan sembarang karena tergesa ingin segera bertemu Icha.
Awang segera turun dari mobil tanpa memperhatikan sekitar dan tanpa rasa curiga, meskipun lampu-lampu penerangan di halaman base camp padam sehingga keadaan di sekitar tempat tersebut gelap gulita.
Baru saja menginjakkan kaki ke tanah, pemuda tersebut langsung tersungkur, ketika balok besar menghantam tengkuk Awang.
"Cepat, bawa kembali dia ke dalam mobil dan lakukan seperti rencana kita tadi!" titah Icha, pada dua teman laki-lakinya yang berbadan besar.
Gadis itu meng-execusi sendiri Awang dengan balok besar yang masih berada di tangan kanannya.
Awang dimasukkan kembali ke dalam mobilnya dan salah seorang teman Icha kemudian naik ke bangku pengemudi. Laki-laki bertato itu mengendarai mobil Awang menjauh dari base camp, diikuti oleh temannya yang membawa mobil lain.
Entah apa yang telah mereka rencanakan untuk Awang, hanya Icha, Mili dan kedua teman laki-lakinya itu yang mengetahui.
"Cha, kamu yakin rencana kita ini berhasil?" tanya Mili yang mulai khawatir, setelah kedua mobil tersebut menjauh dari pandangan matanya.
"Keluarga Mela itu katanya bukan keluarga sembarangan, lho, Cha?" lanjutnya seraya menatap Icha.
__ADS_1
"Itu kita pikirkan nanti lagi, Mil. Yang jelas, sekarang Awang sudah tidak dapat lagi membocorkan pada si Mela itu, bahwa kehamilan kamu hanyalah bualan dan rencana kita semata untuk menjauhkan mereka berdua," balas Icha.
"Kalaupun Yudhis mencoba untuk meyakinkan Mela, bahwa dia difitnah. Aku yakin, si Mela tidak akan semudah itu percaya pada Yudhis," lanjutnya, seraya tersenyum seringai.
\=\=\=\=\=
Di rumah sakit.
Melihat kondisi Yudhistira yang terpuruk seperti itu, Daddy Rehan kemudian memberikan isyarat pada Mommy Billa agar menghibur teman dekat Maira tersebut.
Sementara dirinya akan memberikan pengertian pada sang putri, agar Maira bersikap biasa saja pada Yudhistira sebelum semua terbukti benar adanya.
Mommy Billa kemudian berjalan perlahan mendekati Yudhistira yang masih bersimpuh, sambil menundukkan kepala.
Wanita paruh baya tersebut menepuk pelan pundak Yudhistira.
Mendengar suara lembut tersebut, serta mendapati ada yang menepuk pundaknya dengan pelan, Yudhistira mendongak dan pemuda berambut gondrong itu tersenyum pada Mommy Billa.
Senyuman yang sedikit dipaksakan karena hati Yudhistira saat ini, sedang tidak baik-baik saja.
"Tante. Dari mana Tante tahu, kalau oma dirawat di sini?" tanya Yudhistira seraya menyeka bulir bening yang menggenang di pelupuk mata.
"Tadi ada seorang pemuda yang mengaku sebagai sahabat kamu datang ke rumah, untuk mencari Maira. Pemuda itu yang mengatakan pada tante, kalau oma kamu tiba-tiba terkena serangan jantung," balas Mommy Billa.
Yudhistira mengerutkan dahi. 'Awang? Buat apa Awang mengabarkan ini pada Mela? Bukankah, dia juga menginginkan agar aku dan Mela menjadi jauh?'
__ADS_1
"Ayo, Nak, kita duduk di sana!" ulang Mommy Billa, mengajak Yudhistira untuk duduk di bangku ruang tunggu.
Yudhistira menurut. Pemuda yang masih mengenakan kain sarung tersebut segera beranjak dan kemudian mengikuti langkah Mommy Billa, menuju ke sebuah bangku panjang yang tidak jauh dari tempat duduk Maira dan daddy-nya.
"Tante, Maaf. Apa, teman saya tadi, sempat bertemu dengan Dik Mela?" tanya Yudhistira pelan, setelah beberapa saat mereka duduk.
"Sepertinya tidak, Nak. Tadi, setelah teman kamu itu menyampaikan pada tante, dia kemudian menerima telepon. Tante lantas masuk ke dalam untuk mencari Maira," terang Mommy Billa, detail.
Yudhistira mengangguk-angguk. Pemuda yang wajahnya terlihat kusut tersebut masih menyimpan tanya dalam hati, untuk apa Awang mencari Maira?
'Apa Awang mau menceritakan yang sebenarnya pada Mela? Tapi, apa semudah itu Mela akan percaya, setelah apa yang dia dengar dan lihat, tadi?' Yudhistira geleng-geleng kepala sendiri.
'Sudahlah, aku tidak mau berharap banyak. Benar apa kata Mela. Aku ini berandal dan seorang berandal sepertiku, tidak pantas bersanding dengan gadis baik-baik seperti Mela.' Rahang Yudhistira tiba-tiba mengeras, amarah kembali menguasai dirinya.
Yudhistira marah pada dirinya sendiri. Dia kecewa pada diri sendiri karena begitu percaya pada seseorang yang selama ini dianggap teman dan sahabat, tetapi ternyata menusuknya dari belakang.
Yudhistira tidak menyalahkan Maira, jika gadis cantik itu kemudian menjauh darinya.
'Aku memang pantas untuk kamu jauhi, Mela.' bisik Yudhistira dalam hati, seraya melirik Maira yang tengah duduk bersandar di bahu sang daddy.
Nampak beberapa orang berseragam putih berlarian masuk ke ruang ICU, membuat Yudhistira langsung beranjak dan mendekat ke arah pintu yang kembali ditutup rapat.
'Kenapa dengan oma?' Yudhistira menebak apa yang terjadi di dalam sana, dengan perasaan yang tak karuan.
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น
__ADS_1