
Maira dan saudari kembarnya telah selesai dirias oleh MUA professional langganan keluarga besar. Keduanya sama-sama terlihat sangat cantik dan anggun dengan balutan gaun pengantin yang panjang menjuntai, pilihan masing-masing. Gaun pengantin yang sesuai warnanya dengan tuxedo yang dikenakan oleh pasangan mereka berdua.
Maira mengenakan gaun berwarna gold yang terlihat mewah, begitu pula dengan Yudhistira yang mengenakan stelan tuxedo warna senada. Pasangan muda itu nampak sangat berbahagia. Pancaran netra keduanya menyiratkan cinta yang begitu besar, penuh kasih dan sayang.
Begitu pula dengan pasangan saudari kembarnya, yang malam ini mengenakan gaun pengantin berwarna silver. Maida yang menikah dengan pemuda yang usianya jauh lebih dewasa, terlihat sangat anggun. Suami dewasanya yang mengenakan tuxedo warna senada, juga terlihat sangat tampan dan matang. Mereka berdua benar-benar pasangan yang serasi, yang mampu membuat iri semua mata yang memandang.
Mengulas senyuman lebar, kedua pasangan pengantin itu memasuki tempat resepsi dengan diiringi oleh kedua orang tua di kembar dan juga orang tua Yudhistira dan Erlan. Wajah-wajah mereka nampak berseri, terlihat jelas kebahagiaan yang terpancar dari hati. Sesekali Daddy Rehan nampak mengusap air mata haru, melepas kedua putri bungsu yang selalu manja padanya.
"Mommy tahu ini pasti berat buat Daddy, tapi kita harus merelakan mereka untuk meraih kebahagiannya, Dad," bisik Mommy Billa yang lebih tegar meski sebenarnya hatinya pun diliputi rasa haru.
Daddy Rehan menganggukkan kepala lalu kembali tersenyum. Laki-laki paruh baya itu menyapa ramah satu per satu tamu undangan yang sudah hadir dan dilewati sepanjang menuju pelaminan. Pelaminan megah untuk dua pasang pengantin yang akan ditempati kedua putrinya dan pasangan.
Yudhistira menuntun sang istri dengan penuh perhatian menaiki anak tangga menuju pelaminan. Keduanya lalu duduk di singgasana mewah bak permaisuri dan raja. Sang mempelai laki-laki nampak sangat gagah dan tampan rupawan. Mempelai wanita terlihat sangat cantik nan mempesona.
"Terima kasih sudah mau menerimaku yang berandalan ini untuk menjadi suami kamu, Sayang," bisik Yudhistira, membuat Maira mengerucutkan bibir.
__ADS_1
"Kenapa, sih harus ingat istilah berandalan itu?" tanya Maira yang juga berbisik dengan nada protes.
"Karena masa itu yang menyatukan kita, Sayang," balas Yudhistira sambil mengeratkan pelukan di pinggang sang istri tercinta.
Maira lalu tersenyum, teringat akan masa perkenalannya yang tidak terduga dengan Yudhistira. Perkenalan paksa oleh almarhumah Oma Saidah yang ternyata teman lama Opa Sultan. Perkenalan yang berujung perjodohan meski tidak diutarakan langsung oleh sang oma maupun kedua orang tuanya.
Kecupan di pipi Maira, menyadarkan pengantin wanita itu dari lamunan. Pipi putih Maira merona, mendapatkan kecupan yang tidak terduga dari sang suami di hadapan banyaknya tamu undangan. Mereka bahkan ada yang bertepuk tangan dan ada juga yang geleng-geleng kepala.
Akan tetapi, sang mempelai laki-laki nampak tidak peduli dengan tatapan iri mereka semua. Yudhistira tetap saja bersikap sangat mesra pada sang istri tercintanya. Sesekali mengecup punggung tangan dan terkadang membelai pipi Maira dengan mesra.
"Mas, sudah, ah! Hentikan!" protes Maira dengan bisikan.
"Sabar, dong, Mas. Baru juga mulai," bujuk Maira mencoba menghibur sang suami.
"Aku sudah tidak sabar, Yang, ingin menyirami benih yang sudah aku tanam," bisik Yudhistira kembali, membuat Maira mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Memangnya, benih Mas Yudhis sudah tumbuh di sini?" tanya Maira seraya mengusap perutnya sendiri.
Yudhistira tidak menjawab, tetapi malah tersenyum. Hal itu membuat Maira bingung karena dia tidak merasa ada yang aneh pada dirinya. "Aku belum hamil, deh, Mas, kayaknya?" Dahi pengantin wanita itu berkerut dalam.
Maira nampak masih ingin melanjutkan bicaranya, tetapi dia urungkan ketika satu per satu tamu undangan mulai naik ke pelaminan untuk menyalami dua pasangan pengantin. Wanita cantik itu lalu tersenyum, menyambut jabat tangan para tamu undangan. Acara tersebut berlangsung cukup lama karena banyaknya tamu undangan yang datang, membuat Maira merasakan pening di kepalanya.
"Yang, kalau enggak kuat, sambil duduk aja," saran Yudhistira dengan berbisik.
Maira menggeleng pelan. "Enggak apa-apa, kok, Mas. Cuma sedikit pening. Mungkin karena kecapekan."
Yudhistira hanya dapat membiarkan saja, tetapi tetap siaga untuk berjaga. Dia tidak mau hal yang buruk terjadi pada sang istri tercinta. Sambil menyalami tamu, ekor mata pemuda tampan itu senantiasa melirik sang istri dengan penuh kekhawatiran karena melihat wajah cantik istrinya terlihat semakin pucat.
"Yang. Ayo, kita turun. Tidak mengapa kita turun duluan dan pamit pada daddy dan mommy, beliau berdua pasti bisa mengerti. Wajah kamu pucat, Yang. Aku tidak mau kalian berdua kenapa-napa," paksa Yudhistira, tetapi Maira kekeuh menolak.
"Aku akan duduk, Mas. Mas Yudhis tidak perlu khawatir. Tolong, ambilkan saja aku minum. Setelah minum, pasti aku akan lebih baik."
__ADS_1
Yudhistira segera meraih gelas minuman yang sudah disediakan di atas meja kecil, di belakang singgasana pengantin. Dia lalu membantu meminumkan pada sang istri ketika ada sedikit jeda antara satu tamu dengan tamu yang lain. Yudhistira kemudian kembali berdiri untuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan yang belum jelas kapan akan berakhir.
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น