Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Menjauhlah, Ra ...


__ADS_3

Detik berganti, waktu pun terus berlalu. Selama tujuh hari penuh, keluarga Daddy Rehan selalu mendampingi Yudhistira secara bergantian di kediaman Bisma.


Maira setiap pulang dari kampus, juga langsung menuju ke rumah megah tersebut, untuk menunjukkan perhatian dan penyesalannya karena sempat tidak mempercayai Yudhistira.


Maida pun selalu ikut ke sana, untuk memberikan dukungan pada saudari kembarnya.


Sementara Yudhistira sendiri, selama satu minggu itu sama sekali tidak pernah keluar dari rumah. Dia keluar hanya untuk ke pemakaman, mendo'akan sang oma.


"Mel, coba antar makanan ini ke kamar Nak Yudhis. Dari pagi tadi sepulang dari pemakaman, dia belum keluar dari kamar. Padahal sekarang ini sudah hampir jam tiga," pinta Mommy Billa ketika Maira baru saja tiba di kediaman Bisma, bersama sang kakak kembar.


"Baik, Mom," balas Maira, patuh. Gadis berhijab itu kemudian mengambil baki yang berisi makanan dari tangan bibi asisten keluarga Bisma, untuk dibawa ke kamar Yudhistira.


"Jangan bosan ketuk pintu kamarnya, Non. Tadi bibi sudah mencoba mengetuk berkali-kali, tapi tidak dijawab juga sama Den Yudhis," terang sang bibi dengan penuh kekhawatiran.


"Iya, Bi. Akan saya coba." Gadis yang saat ini mengenakan celana blue jeans dan dipadukan dengan blouse berwarna putih, serta pasmina polos yang warnanya senada dengan warna bawahannya tersebut, terlihat sangat cantik dan mempesona.


"Semangat, Mela Sayang!" seru Maida seraya tersenyum menggoda.


Maira mengerucutkan bibir seraya mengedikkan bahu.


Gadis cantik itu kemudian segera melangkah dengan pasti, untuk menuju kamar Yudhistira yang berada di lantai dua. Dalam hati dia berdoa, semoga Yudhistira mau menerima kehadirannya dan tidak lagi mengabaikan Maira seperti selama seminggu ini.


Setibanya di depan kamar Yudhistira, Maira sejenak terdiam. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. 'Duh, kenapa dengan jantungku? Padahal kami belum bertemu, tapi aku sudah merasa grogi seperti ini,' keluh Maira yang kemudian mengusap butir keringat yang membasahi keningnya.

__ADS_1


Maira menghela napas panjang untuk menetralkan degup jantungnya. Dia juga memejamkan mata sejenak dan Maira segera membuka matanya kembali ketika terdengar pintu kamar yang dia tuju dibuka oleh seseorang, sebelum sempat dia mengetuk pintu kamar tersebut.


"Sejak kapan berdiri di sini?" tanya Yudhistira dengan tatapan dingin.


Jantung Maira kembali berdebar kencang. "Be-belum lama, kok, Mas. Baru aja aku mau mengetuk pintu, tapi Mas Yudhis udah keburu membukanya," balas Maira gugup.


"Aku ke sini mau mengantarkan makan siang untuk Mas Yudhis karena kata mommy, Mas Yudhis belum keluar dari kamar sejak tadi pagi dan Mas telah melewatkan makan siang," lanjut Maira dengan cepat dan tanpa jeda.


Yudhistira sedikit trenyuh dengan perhatian Mommy Billa, tetapi sedetik kemudian pemuda tersebut kembali tidak peduli dan hendak menutup pintu kamarnya karena malas bertemu dengan orang-orang.


"Mas, tunggu!" Suara Maira berhasil mencegah Yudhistira untuk kembali menutup pintu tersebut.


"Aku tahu Mas Yudhis masih marah padaku, marah pada teman-teman Mas dan juga kecewa dengan keadaan, tapi tolong Mas, jangan hukum diri Mas dengan menjauh dari semua orang." Maira yang masih berdiri di depan kamar Yudhistira dan masih memegang baki di kedua tangannya, menatap pemuda di hadapan dengan tatapan entah.


Ada rasa kecewa dengan Yudhistira karena pemuda tersebut semakin menjauh darinya dan juga dari semua orang, ada juga rasa penyesalan yang mendalam karena malam itu dirinya sempat termakan kesaksian Awang, teman baik Yudhistira yang tidak pernah disangka ternyata tega berkhianat.


Yudhistira menghela napas kasar. Tanpa menatap Maira, dia tiba-tiba mengambil baki dari tangan gadis cantik itu. "Terima kasih," ucapnya dingin.


Pemuda itu segera berbalik dan menutup pintu kamar dengan kakinya, tanpa mempedulikan Maira yang masih berdiri terpaku di depan kamarnya.


"Mas, sebegitu marahnya kamu padaku. Apa tidak ada sedikit pun maafmu untukku, Mas?" tanya Maira dengan sedikit mengeraskan suara, berharap Yudhistira yang berada di dalam kamar mendengar suaranya.


"Kuakui, malam itu aku kecewa sama kamu karena teman baikmu juga membenarkan ucapan Mili, Mas, dan ketika aku bertanya sama kamu, apakah kamu memiliki bukti kalau kamu memang tidak pernah mabuk dan melakukan hal itu sama Mili, kamu hanya diam." Sejenak Maira menghentikan ucapannya, gadis cantik itu menatap pintu kamar Yudhistira yang tertutup rapat dengan tatapan kecewa.

__ADS_1


"Baiklah, Mas. Jika kamu ingin aku menjauh dari hidupmu, aku akan lakukan," pungkas Maira yang segera berlalu dari depan kamar Yudhistira, seraya menyeka air matanya.


'Aku akan berusaha untuk menjauh, Mas, meski aku juga tidak yakin apakah aku bisa melakukannya,' batin Maira seraya menuruni anak tangga dengan langkah cepat.


Ya, Maira sudah merasa benar-benar jatuh cinta pada Yudhistira. Malam itu pun sebenarnya, dia ingin menjawab pernyataan cinta Yudhistira dengan jawaban iya.


Sayangnya, sebelum Maira sempat mengatakan kesediannya untuk menerima pemuda tersebut, ketiga teman Yudhistira datang dan mengacaukan segalanya.


Selama seminggu ini pun Maira terus merenung, bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apakah rasa yang dia miliki benar-benar rasa cinta atau hanya sekedar rasa nyaman karena seringnya kebersamaan.


Putri bungsu keluarga Daddy Rehan itu telah menemukan jawaban, bahwa dia memang benar-benar sayang pada Yudhistira.


Maira semakin yakin karena setelah Yudhistira mengabaikan dirinya, dia merasa begitu kehilangan, dan ketika dia secara tidak langsung mendapatkan penolakan dari pemuda yang akhir-akhir ini sering menutup diri, Maira merasakan sakit di hati.


"Maafkan aku, Ra. Aku lagi pengin sendiri," gumam Yudhistira yang ternyata masih berdiri di balik pintu kamarnya dan mendengarkan semua apa yang dikatakan oleh Maira.


Setelah dia tidak mendengar lagi suara Maira, Yudhistira melangkah perlahan menuju sofa single di sudut kamar. Dan menyimpan baki di atas meja dan kemudian dia mendudukkan diri di sana.


Yudhistira menyandarkan kepala pada sandaran sofa dan memejamkan mata. 'Aku tahu kamu sayang sama aku, Ra. Aku juga sangat menghargai perhatian kelurga besar kamu dan aku sangat berterima kasih untuk semua itu.'


"Tapi mungkin ini yang terbaik untuk kita. Menjauhlah, Ra ... karena aku sadar, aku bukan laki-laki yang tepat untukmu." Bulir bening jatuh dari sudut netra Yudhistira yang masih terpejam.


Dia nikmati sendiri rasa nyeri di hati. Baru pertama kali ini Yudhistira berhasil jatuh cinta dan belum sempat rasa itu terbalas, dia harus rela untuk menghentikan laju cintanya dengan dalih untuk kebaikan semua.

__ADS_1


'Aku yakin, aku pasti bisa!' Yudhistira kembali membuka matanya, dia mencoba untuk tersenyum seraya menatap makanan yang tadi dibawakan oleh Maira.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน bersambung ... ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2