
Semua mata kini tertuju ke arah Daddy Rehan. Sementara yang ditatap, mengulum senyum hingga membuat semua orang semakin penasaran. Mereka menanti dengan hari berdebar, bagaimana jawaban daddy tampan tersebut atas permintaan Yudhistira untuk meminang putri bungsunya.
Di ranjang pasien, Yudhistira terlihat tak kalah cemas. Pemuda itu pun berdebar, menanti keputusan daddy dari gadis yang dia sayang. Besar harapan Yudhistira agar permintaannya dikabulkan oleh Daddy Rehan.
Yudhistira menghela napas panjang, untuk menetralkan debaran jantungnya. Pemuda itu kemudian melirik ke arah Maira dan di saat yang sama, gadis cantik tersebut juga tengah menatapnya. Mereka berdua kemudian saling melempar senyum.
"I love You, Mel," bisik Yudhistira dan Maira menganggukkan kepala dengan hati berbunga-bunga.
"Love you ...."
Belum sempat Maira menyelesaikan balasan untuk Yudhistira yang diucapkan dengan berbisik, suara sang daddy menghentikan ucapan gadis cantik tersebut.
"Om tahu, kamu sebenarnya anak yang baik dan bertanggungjawab, Nak Yudhis. Untuk itu, kami tidak keberatan jika kamu ingin menjalin hubungan yang serius dengan Mela. Bukankah seperti itu, Mom?" Daddy Rehan mengucapkan setiap kata tersebut dengan pelan dan penuh kehati-hatian. Daddy tampan itu kemudian menoleh ke arah sang istri, yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Mommy Billa.
Yudhistira dapat bernapas dengan lega. Pemuda itu kemudian tersenyum lebar. "Terima kasih banyak, Om, Tante. Saya pasti akan menjaga kepercayaan Om dan Tante. Saya janji, saya akan menjaga dan membahagiakan Dik Mela," ucap Yudhistira dengan sungguh-sungguh dan penuh rasa syukur.
Maira pun tersenyum bahagia. Begitu pula dengan semua yang hadir di sana, mereka semua ikut berbahagia. Mereka turut merasakan kebahagiaan yang terpancar jelas dari wajah Yudhistira dan Maira.
"Alhamdulillah," ucap syukur Opa Alvian. "Lantas, kapan pertunangan mereka akan dilaksanakan?" lanjutnya, bertanya.
__ADS_1
"Dibarengkan aja tunangannya, Rey. Hemat diongkos," sahut Om Devan seraya tergelak.
"Lu pikir, gue enggak mampu bikin pesta berkali-kali?" Daddy Rehan nampak kesal dengan ledekan besannya.
"Bukan masalah hemat diongkos, Dev, tapi karena mereka lahirnya barengan dan kebetulan dapat jodohnya juga enggak beda jauh, baiknya memang dibarengkan saja," tutur Opa Alvian menengahi.
"Gue setuju sama Bang Vian. Sekalian pesta pertunangannya kita bikin meriah. Kita undang semua rekan bisnis RPA Group. Biar semua orang tahu kalau putri keluarga Alamsyah, udah sold out dan si Mirza tidak perlu lagi pusing menolak perjodohan bisnis dari rekan-rekannya," timpal Om Alex.
Mendengar perkataan Om Alex, kekasih Maida mengerutkan dahi. "Memangnya banyak ya, Om, yang meminta Dik Mai atau Dik Mela untuk dijadikan istri?" tanya Erlan, kemudian.
"Banyak banget, Bang. Makanya Bang Er dan Mas Yudhis kudu gercep untuk mengikat mereka berdua. Kalau enggak buruan diikat, nanti ada yang ngambil, loh," sahut Iqbal.
"Yey, main ikat! Memangnya, kami ayam!" protes Maira. "Lagian, kami bukan cewek yang bisa dicomot sembarangan, ya," lanjutnya, sambil melirik ke arah Yudhistira. Pemuda itu pun tersenyum.
Memang benar apa yang dikatakan Om Alex bahwa mereka berdua sering mendapatkan undangan makan malam dari rekan-rekan bisnis Mirza, selaku penerus RPA Group. Namun, dari sekian banyak tawaran yang mereka lontarkan, baik Maira maupun Maida tidak ada yang tertarik dengan perjodohan bisnis tersebut. Lagipula, sang daddy pun tidak menginginkan kedua putrinya menikah dengan seseorang karena bisnis semata.
"Ya udah, Rey. Putuskan aja, kapan acara pertunangannya? Mereka udah lirik-lirikan gitu." desak Om Devan yang sepertinya sudah siap untuk menjadi ketua panitia.
"Mau nyumbang apa, sih, lu, Dev? Kok, lu yang antusias banget?" tanya Daddy Rehan.
__ADS_1
"Gue siap mendekorasi pulau AA untuk acara pertunangan yang megah, Rey. Gue yakin, acaranya pasti bakal spektakuler," balas Om Devan.
"Good idea, Dev. Enggak sia-sia gue punya besan kayak lu." Daddy Rehan tersenyum lebar.
"Giliran yang bikin lu senang, langsung aja ngomongnya kayak gitu! Kalau pas enggak sejalan, pasti langsung bilang pecat jadi besan!" cibir Om Devan yang terlihat kesal.
Daddy Rehan terkekeh senang, melihat kekesalan sahabatnya tersebut. Om Alex dan Opa Alvian pun ikut terkekeh. Sementara Mommy Billa dan yang lain, tersenyum dikulum.
"Ehm ...." Suara dehaman Daddy Rehan, membuat semua perhatian tertuju ke arahnya.
"Sepertinya tidak mungkin jika pertunangan dilakukan ketika kondisi Nak Yudhis masih seperti itu. Jadi, pertunangan kalian akan dilaksanakan nanti secara bersamaan ketika Nak Yudhis sudah benar-benar sembuh dan bisa berjalan dengan normal," putus Daddy Rehan yang membuat semua merasa lega. Terutama pasangan Yudhistira dan Maira.
"Adapun untuk Mai dan Bang Er, jika kalian memang merasa sudah siap untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan, tidak perlu menunggu lama setelah pertunangan, kalian bisa langsung menikah. Benar begitu, kan, Mom?" Daddy Rehan yang merubah keputusannya setelah melihat keseriusan Erlan dan kemantapan sang putri, kembali menatap sang istri dan Mommy Billa pun mengangguk setuju.
Perkataan Daddy Rehan membuat kekasih Maida tersenyum bahagia. "Terima kasih banyak, Om, Tante. Saya akan mempersiapkan semuanya mulai dari sekarang," ucap Erlan, antusias. Pemuda tampan itu kemudian menatap ke arah sang kekasih dan Maida menganggukkan kepala.
Maira kemudian memeluk kakak kembarnya tersebut dan berbisik. "Selamat ya, Kak. Aku turut senang mendengar Kak Mai akan segera menikah." Putri bungsu di keluarga Daddy Rehan itu kemudian tersenyum pada saudari kembarnya, setelah melepaskan pelukan.
Yudhistira yang masih duduk di atas ranjang pasien, menepuk lengan Maira dengan lembut. Maira kemudian menoleh dan menatap Yudhistira yang tengah tersenyum kepadanya.
__ADS_1
"Sabar ya, Dik. Aku janji, aku akan berusaha semaksimal mungkin agar kita juga bisa segera menikah," bisik Yudhistira yang langsung dijawab Maira dengan anggukan kepala.
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น