Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Gadis Comel


__ADS_3

Benar saja dugaan Yudhistira, begitu mengetahui dari mulut ember Awang yang tidak bisa diam jika itu mengenai sahabatnya, sang oma kemudian memaksa Yudhistira agar besok mulai menjemput Maira untuk pergi ke kampus bersama.


Sang oma bahkan menelepon sendiri Daddy Rehan, untuk meminta ijin agar putri kembar daddy tampan tersebut diijinkan berangkat ke kampus bersama cucunya.


"Nak, Rey. Tolong ya, biarkan Yudhis menjemput Nak Maira dan Nak Maida besok pagi untuk ke kampus bareng. Tante baru tahu, lho, kalau ternyata mereka satu kampus," pinta omanya Yudhistira.


"Biar Yudhis belajar untuk bertanggung jawab, Nak Rey. Agar dia mau pulang tepat waktu dan tidak kelayapan kemana-mana. Tante rasanya sudah lelah, mengingatkan anak itu," lanjutnya, dengan memohon.


Mendengar permintaan dari wanita yang merupakan teman baik sang mama dan sang papa di masa silam, Daddy Rehan merasa tidak enak hati untuk menolak.


Lagipula, bagaimanapun orang tua Yudhistira adalah juga teman masa kecilnya dan Daddy Rehan merasa ikut memiliki tanggung jawab untuk mendidik pemuda urakan tersebut.


Akhirnya, Daddy Rehan pun memberikan ijin. Toh, Maira tidak sendirian karena ada Maida, kembarannya.


"Ck! Ini semua gara-gara kamu, Wang!" kesal Yudhistira ketika mengantarkan sahabatnya itu sampai ke halaman depan.


Awang terkekeh senang. "Bagian dari misi, Bro," balas Awang, tanpa merasa bersalah.


"Enggak perlu pakai misi menjodoh-jodohkan aku segala dengan gadis itu! Kalau kamu mau sama si Mili, silakan ambil! Aku juga ogah, kok, sama dia!" Yudhistira masih terlihat kesal pada sang sahabat. Nada bicaranya pun masih terdengar kesal.


"Bukan si Mili, Bro, tapi yang satunya," ralat Awang. "Si Icha. Dia 'kan udah lama naksir sama kamu," lanjut pemuda berkulit sawo matang tersebut seraya tersenyum.


Awang membayangkan wajah manis Icha, teman seangkatan dirinya dan Yudhistira.


Gadis dari daerah timur yang memiliki rambut seksi. Apalagi jika rambut si Icha sedang basah, akan terlihat semakin seksi dan menarik untuk dipandang bagi Awang.


"Silakan, Wang! Mau si Mili, si Icha, si Riri, atau siapa pun, aku enggak peduli karena memang mereka semua bukan type-ku," balas Yudhistira.

__ADS_1


'Mereka pasti sama saja seperti Leni!' geram Yudhistira, dalam hati.


Leni adalah mama tiri Yudhistira. Wanita muda yang dihadirkan sang papa setelah mamanya Yudhistira meninggal dunia.


'Aku benar-benar benci pada wanita seperti Leni!' Yudhistira mengepalkan kedua tangan dengan sempurna, menahan amarah terhadap sang mama tiri yang telah mengambil kebahagiaannya.


Ya, harapan Pak Pandu untuk menjadikan Leni sebagai ibu pengganti bagi sang putra, tak pernah kesampaian karena Leni justru berhasil menguasai hati Pak Pandu dan membuat laki-laki seusia Daddy Rehan tersebut mengabaikan sang putra yang saat itu sedang dalam masa pencarian jati dirinya.


Hingga Yudhistira menjadi salah arah dan bergaul bebas dengan anak-anak di jalanan. Sering bolos sekolah hanya untuk mengikuti balapan liar.


Beruntung, sang oma sigap dan kemudian membawa Yudhistira yang belum sampai terjerat dengan narkoba dan minuman keras yang biasa dikonsumsi oleh teman-temannya, untuk pindah dari Surabaya dan pulang ke tanah kelahirannya di ibukota.


Meskipun sudah pindah ke Jakarta, kebiasaan Yudhistira yang senang balapan liar, tetap tidak dapat dicegah oleh omanya.


Apalagi setelah Yudhistira bertemu dengan Awang yang juga suka balapan liar dan mereka berdua kemudian membentuk sebuah geng motor.


"Beneran, kamu ijinkan aku mendekati Icha?" Pertanyaan Awang, mengurai lamunan Yudhistira.


Pemuda tersebut hanya mengangguk. "Silakan aja, mereka bukan siapa-siapaku, kan?"


Selama ini, memang banyak sekali yang mengejar cinta Yudhistira, tapi pemuda tersebut hanya menjadikan mereka sebagai gadis-gadis penggembira di setiap ajang balapan liar bersama kawan-kawannya.


Yudhistira tidak pernah melibatkan perasaan dalam bergaul bersama mereka dan pemuda tersebut meskipun urakan, masih tetap dapat menjaga batasan dalam bergaul dengan makhluk yang berjenis kelamin perempuan.


Dia tidak pernah menyentuh gadis-gadis itu.


Tidak seperti Awang dan teman-teman lain yang suka colek-colek pada para gadis muda yang senang mengenakan pakaian seksi, setiap kali mereka menemani Yudhistira dan yang lainnya, balapan liar.

__ADS_1


"Yes! Malam ini, aku akan mulai bergerilya untuk mendekati Icha." Awang nampak sangat senang.


"Halah, bergerilya. Kayak mau perang aja!"


Awang terkekeh pelan.


"Kamu juga harus mulai mendekati Dik Mela-mu itu, Yud. Jangan sampai kamu nangis kejer kalau sampai dia kegebet sama yang lain." Awang yang sudah naik ke atas motor sport miliknya, menatap Yudhistira.


"Ingat! Gadis seperti si Mela, pasti banyak yang ngejar. Apalagi jika teman-teman di kampus kita tahu bahwa dia bukan dari keluarga sembarangan. Pasti akan banyak yang berlomba, untuk mendapatkan cintanya," pungkas Awang, membuat Yudhistira terdiam.


'Haruskah kuruntuhkan egoku, untuk gadis comel itu?' Yudhistira masih terdiam, ketika motor sport milik Awang meraung dan kemudian berlalu dari halaman rumah megah keluarga Bisma.


Suara sang oma yang memanggil, membuyarkan lamunan pemuda tersebut.


"Yud, buruan masuk dan lekaslah tidur!" titah sang oma, seperti pada anak kecil.


Malas, Yudhistira melangkah masuk untuk menuruti titah sang oma. Daripada rungu-nya harus terganggu dengan omelan sang oma yang tidak akan berhenti, jika Yudhistira belum masuk ke dalam kamar dan kemudian berangkat ke peraduan.


Ya, meskipun Yudhistira telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang beranjak dewasa, tetapi bagi sang oma, Yudhistira tetaplah cucu kesayangan yang harus beliau sayang-sayang dan perhatikan.


"Jangan lupa, besok bangunlah pagi-pagi sekali dan segeralah bersiap untuk menjemput Nak Maira. Kamu harus terlihat rapi dan jangan berpakaian seperti biasanya. Perempuan tidak akan suka dengan pemuda yang yang tidak dapat mengurus diri sendiri."


Perkataan sang oma, membuat Yudhistira menghela napas panjang. 'Ribet juga ya, cara mengambil hati perempuan.'


'Eh, tunggu-tunggu! Bukannya, tugas perempuan memang untuk mengurus suami? Lantas, ngapain aku harus pandai mengurus diri jika nantinya ada Dik Mela yang akan mengurusku?'


Yudhistira geleng-geleng kepala, dengan pikiran konyolnya yang melintas begitu saja.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน bersambung ... ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2