Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Ayo, Daddy! Jawab!


__ADS_3

Mommy Billa berdeham. Wanita cantik itu menyudahi candaan suami dan juga yang lainnya. "Ehm ... sudah, ah! Canda mulu dari tadi!" protesnya.


Seketika, mereka semua terdiam dan kemudian fokus menatap Daddy Rehan. Sementara daddy tampan itu sibuk memperhatikan kekasih Maida dan Yudhistira yang duduk di ranjang pasien, bergantian. Laki-laki paruh baya tersebut kemudian menghela napas panjang.


"Katakan sekarang, Dad. Jangan buat mereka menunggu-nunggu!" desak Mommy Billa kembali.


Daddy Rehan mengangguk. Meskipun rasanya masih berat, tetapi memang benar daddy enam anak itu harus segera memutuskan. Kedua putrinya telah beranjak dewasa dan mereka berhak untuk menentukan pilihan masing-masing.


"Baik. Sebelum aku putuskan bagaimana baiknya nanti, aku mau bertanya dulu pada kalian berempat." Daddy Rehan menatap Erlan, Maida, Maira dan Yudhistira, bergantian.


"Bang Er, apa kamu benar-benar serius pada putriku, Maida?" tanya Daddy Rehan yang langsung pada intinya.


Kini, semua mata tertuju pada kekasih Maida tersebut. Seorang pria dewasa yang sangat tenang karena pengalamannya berkecimpung di dunia bisnis sudah cukup lama dan menempa Erlan menjadi sosok yang penuh percaya diri. Pemuda tersebut menganggukkan kepala pasti, menjawab pertanyaan Daddy Rehan.


"Saya serius, Om, dan jika Om tidak keberatan, saya ingin segera mengesahkan hubungan kami berdua," tegas Erlan membuat sang kekasih yang berdiri di sisi ranjang pasien, di samping saudari kembarnya, tersenyum bahagia.


"Tapi Mai baru saja masuk kuliah, Bang?" Mommy Billa menatap Erlan dan Maida, ragu.

__ADS_1


Maida menggeleng. "Tidak masalah, Mom. InsyaAllah Mai siap menjalankan dua peran. Menjadi istri dan tetap melanjutkan studi karena Mai yakin Bang Er pasti mengijinkan Mai untuk melanjutkan kuliah," balas Maida, menjawab keraguan sang mommy.


Erlan menganggukkan kepala. "Benar, Tante. Saya tetap akan men-support Dik Mai untuk melanjutkan study-nya," timpal Erlan.


"Ya sudah, sih, mereka sudah sama-sama berpikir jauh, tunggu apalagi?" Suara Opa Alvian mengalihkan perhatian Daddy Rehan pada om dari sang istri.


Daddy tampan itu kemudian menggelengkan kepala, tidak sependapat dengan penuturan sahabatnya. "Tidak secepat itu, Bang."


Daddy Rehan kembali menatap kekasih Maida. "Aku ijinkan kalian untuk bertunangan terlebih dahulu sambil menunggu putriku benar-benar siap menikah dengan kamu, Bang Er," putus Daddy Rehan, tegas.


Pemuda tampan kekasih Maida itu tersenyum lega. Tidak mengapa jika mereka untuk saat ini baru boleh bertunangan. Setidaknya, sudah ada kejelasan dari hubungan mereka berdua.


Maira yang berdiri di samping Maida, menyenggol lengan kakak kembarnya itu dan berbisik. "Selamat ya, Kak. Do'akan aku, semoga daddy juga mempermudah jalan kami."


Posisi Yudhistira yang sangat dekat dengan kedua gadis kembar tersebut dan dapat mendengar bisikan Maira, tersenyum dikulum. Pemuda yang saat ini kakinya masih diperban akibat kecelakaan motor sewaktu balapan liar, merasa tersanjung mendengar keinginan gadis yang dia sayang. Dia pun memiliki harapan yang sama, semoga orang tua Maira memberikan restu kepada dirinya.


"Nah ... untuk si Mai, udah clear, ya. Sekarang, bagaimana dengan pemuda gondrong itu, Rey?" Suara Om Devan membuat semua mata kini tertuju ke arah ranjang pasien.

__ADS_1


Yudhistira yang sekarang menjadi pusat perhatian, dibuat kikuk. Pemuda itu tiba-tiba saja menjadi tidak percaya diri dengan penampilannya selama ini. Jika biasanya, Yudhistira begitu bangga dengan gaya rambut panjang sebahu, kini kebanggaan itu sirna entah kemana.


"Gak masalah rambut gondrong, asal sesuai aja dengan prestasinya. Bukankah seperti itu, Nak Yudhis?" Pertanyaan Opa Alvian, sedikit mengembalikan kepercayaan diri Yudhistira. Pemuda tampan itu pun tersenyum, samar.


Ya, selama ini meskipun Yudhistira suka begadang dan senang balapan liar, tetapi prestasi di kampus tetap dia utamakan. Penampilannya yang meskipun urakan, pemuda berambut gondrong itu juga selalu mengingat pesan sang oma untuk tetap berbuat baik pada sesama. Dia juga tidak pernah meninggalkan sholat hingga sebelum sang oma pergi meninggalkan Yudhistira untuk selama-lamanya.


Daddy Rehan yang sudah banyak menyelidiki Yudhistira, mengangguk setuju. Bagi daddy tampan itu tidak jadi soal dengan penampilan luar karena yang terpenting baginya adalah kepribadian pemuda tersebut. Sebab, dia tidak akan membiarkan putri bungsunya hidup bersama laki-laki yang tidak baik dan tidak memiliki rasa tanggung jawab.


Suasana tiba-tiba saja menjadi hening dan mencekam. Aura keseriusan Daddy Rehan yang menatap dalam Yudhistira dari kejauhan, membuat semua ikut berdebar menanti apa yang akan diutarakan oleh suami Mommy Billa tersebut. Terutama Yudhistira dan Maira yang hanya bisa saling pandang dengan perasaan tidak tenang.


"Nak Yudhis. Apa benar, kamu serius dengan permintaan kamu tadi?" tanya Daddy Rehan, mengingat permintaan Yudhistira yang meminta restunya untuk menjalin hubungan dengan Maira.


"Yudhis sangat serius, Om," balas Yudhistira, tegas. "Jika Om Rehan dan Tante Billa merestui, Yudhis juga ingin meminang Dik Mela. Namun untuk menikahinya, Yudhis meminta waktu sampai Yudhis bisa membuktikan pada kalian semua bahwa Yudhis mampu mengelola perusahaan peninggalan opa dengan baik," lanjutnya. Suara pemuda itu terdengar bergetar dan diucapkan dari hati yang paling dalam.


Mendengar jawaban tegas dan niat baik pemuda yang diam-diam dia sayang, Maira tersenyum dan buru-buru menundukkan kepala. Hati gadis cantik itu membuncah bahagia. Maira sangat senang karena Yudhistira berani mengutarakan niatnya di hadapan kedua orang tua dan juga sahabat-sahabat sang daddy yang sudah seperti orang tua sendiri baginya.


Mommy Billa pun tersenyum. Wanita anggun itu mengingat momen saat dirinya dilamar oleh Daddy Rehan, tiga puluh tahun silam. Pemuda gagah nan tampan dan juga mapan, yang hanya dalam hitungan bulan setelah perkenalan, langsung mengajaknya untuk menikah. Mommy Billa merasa sangat bersyukur karena putri-putrinya juga mendapatkan pemuda yang baik, meskipun Yudhistira sempat salah arah.

__ADS_1


Mommy Billa kemudian menyenggol lengan sang suami agar Daddy Rehan segera menjawab permintaan Yudhistira yang diutarakan dengan sangat berani tersebut. "Ayo, Daddy! Jawab!"


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน bersambung ... ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2