
Iqbal akhirnya ikut di mobil Yudhistira dan meninggalkan mobilnya di kediaman Daddy Rehan. Putra sulung Om Ilham tersebut duduk di bangku depan, di samping Yudhistira yang tengah fokus mengendarai mobil.
"Mas Yudhis ini, semester berapa?" tanya Iqbal.
"Lima," balas Yudhistira, singkat dan jelas.
"Kamu, ambil jurusan apa, Bro?" tanya Yudhistira, balik. Mencoba mengakrabkan diri.
"Arsitek," balas Iqbal yang tidak jadi kuliah di luar negeri karena ingin terus bersama-sama dengan kedua kakak sepupunya.
"Wah jago gambar, pasti!" kagum Yudhistira.
Keakraban pun kemudian cepat terjalin. Iqbal yang memang pandai ngebanyol dan mencairkan suasana, membuat perjalanan ke kampus pagi ini, terasa sangat menyenangkan.
Bukan hanya bagi ketiga mahasiswa baru yang sedang dalam masa orientasi tersebut, tetapi juga bagi Yudhistira yang biasanya ogah-ogahan untuk pergi ke kampus, jika tidak karena dipaksa oleh sang oma.
Perjalanan yang memakan waktu setengah jam lebih itu, tidak terasa lama. Tahu-tahu, mobil sport Yudhistira telah berbelok menuju area kampus dan pemuda tersebut segera mencari tempat kosong untuk memarkirkan mobil.
Yudhistira harus berkeliling untuk mencari tempat parkir yang kosong karena hampir semua tempat telah terisi dengan mobil para mahasiswa, yang sudah datang lebih awal.
"Kurang pagi kita berangkatnya. Jadi gak kebagian tempat parkir, nih," gumamnya sambil berkeliling seraya mengedarkan pandangan.
"Kalian aku turunkan di depan gedung serba guna sana saja, ya, biar enggak terlalu jauh jalan kaki," tawarnya kemudian.
"Terus, Mas Yudhis mau memarkir mobil dimana?" tanya Maira, mulai khawatir.
"Gampang. Di depan kafe Pelangi sana, juga enggak apa-apa. Kebetulan, yang punya kafe temanku," balas Yudhistira seraya menunjuk arah kafe yang letaknya cukup jauh dari gedung serba guna, di seberang jalan sana.
Yudhistira kemudian mengarahkan laju mobilnya, kembali ke gedung serba guna yang tadi sudah dia lewati.
"Mas Yudhis jauh, dong, jalannya ke sini." Maira menatap Yudhistira melalui pantulan kaca spion.
__ADS_1
"Kak Mela temani Mas Yudhis aja, biar enggak terasa kalau jalannya jauh. 'Kan, kalau lagi jalan berduaan, hal yang berat akan terasa ringan," sahut Iqbal.
"Bukankah begitu, Kak Mai?" lanjutnya seraya menoleh ke belakang, menatap kedua kakak sepupunya bergantian. Pemuda tengil itu tersenyum seringai.
Maida yang memang sudah memiliki kekasih, mengangguk setuju. "Bener banget. Bahkan berlari keliling senayan sepuluh putaran, juga tidak akan terasa lelah," timpalnya yang kemudian terkekeh.
"Heleh, sepuluh putaran. Satu putaran aja, KO!" sahut Maira.
Yudhistira yang mendengar obrolan tiga bersaudara tersebut, ikut tersenyum.
Mobil Yudhistira kemudian berhenti, tepat di depan gedung serba guna.
"Yuk, Kak Mai, kita turun!" ajak Iqbal.
"Kak Mela jadi menemani Mas gantengnya, kan?" Iqbal kembali menoleh ke belakang, sebelum membuka pintu di sisi kirinya.
"Enggak, ah. Nanti aku terlambat. Bentar lagi 'kan, masuk," tolak Maira.
"Benar, Dik. Aku sendiri aja, enggak apa-apa," timpal Yudhistira.
\=\=\=\=\=
Sejak hari itu, hubungan Yudhistira dan Maira semakin dekat karena pemuda berambut gondrong yang sekarang penampilannya sedikit rapi tersebut, selalu menjemput dan mengantar putri bungsu Daddy Rehan.
Yudhistira memang berusaha untuk berubah dan memantaskan diri, untuk bersanding dengan gadis cantik yang malam itu secara tidak sengaja mobilnya dia tabrak.
Hanya saja, kebiasaan Yudhistira yang masih saja suka melakukan balap liar, belum dapat sepenuhnya dihilangkan.
Pemuda tampan tersebut masih suka keluar malam untuk bergabung dengan geng motornya dan membuat keresahan bagi warga yang berada di daerah dimana jalannya mereka jadikan sebagai ajang balapan liar.
"Mas Yudhis, masih suka balapan liar, ya?" tanya Maira ketika gadis itu baru saja tiba di kediaman keluarga Bisma, hendak mengantarkan kue buatan sang mommy untuk omanya Yudhistira.
__ADS_1
Yudhistira yang baru saja keluar dari garasi sambil menuntun motor sport miliknya, dibuat terkejut dengan kehadiran Maira yang mendadak, malam-malam seperti ini.
Ya, waktu telah menunjukkan jam delapan malam ketika Maira berkunjung. Jarak rumah yang dekat, membuat gadis cantik itu tidak keberatan ketika sang mommy memintanya untuk mengantarkan kue buat omanya Yudhistira.
Pemuda yang sudah mengenakan jaket kulit, celana jeans sobek-sobek dan rambutnya dibiarkan tergerai berantakan itu, menjadi salah tingkah sendiri.
"Dik Mela. Kok enggak bilang-bilang kalau mau kemari?" tanya Yudhistira, seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Pemuda berkulit putih bersih itu merasa malu, penampilannya yang urakan seperti sekarang ini dilihat oleh Maira. Dia kemudian melepaskan jaket kulit dan menyisir rambut panjangnya dengan jari.
"Maira enggak lama, kok, Mas. Cuma mau nganter ini, disuruh mommy," balas Maira seraya menunjuk kotak kue yang dia bawa.
"Oma ada, kan, Mas?" tanyanya kemudian.
"Ada-ada. Ayo, silakan masuk!" ajak Yudhistira.
"Mela bisa sendiri, kok, Mas! Silakan kalau Mas Yudhis mau balapan!" tolak Maira yang memang akhir-akhir ini sudah terbiasa berkunjung ke kediaman Bisma tersebut karena disuruh mommy-nya, nampak tidak suka melihat Yudhistira masih saja melakukan balap liar.
'Astaghfirullah ... kenapa aku bicara ketus ya, sama dia? Memangnya siapa dia? Mas Yudhis 'kan, bebas melakukan apa saja yang dia mau?' monolog Maira, dalam diam.
Ya, meskipun mereka berdua sudah sangat dekat, tetapi hingga detik ini Yudhistira belum berani mengungkapkan isi hatinya.
"Enggak, kok, Dik. Aku enggak jadi pergi aja," balas Yudhistira.
Gadis itu kemudian segera masuk ke dalam rumah megah keluarga Bisma, diikuti oleh Yudhistira yang nampak bingung hendak menyampaikan sesuatu.
"Dik Mela, apa nanti kita bisa bicara sebentar?"
Maira hanya menoleh sekilas ke arah Yudhistira, tetapi sama sekali tidak memberikan jawaban. 'Mas Yudhis, mau membicarakan tentang apa, ya?'
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น
__ADS_1
Yang belum mampir dimari, yuk mlipir ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ