
Ketiga sahabat Daddy Rehan bersama kekasih Maida, kemudian ikut masuk ke dalam ruang rawat Yudhistira. Mereka lalu duduk di sofa seperti daddy tampan tersebut dan istrinya, termasuk Erlan yang juga ikut duduk di sana. Sementara Maira dan Maida berdiri di sisi ranjang pasien karena bangku yang ada di samping ranjang, telah ditempati oleh Iqbal.
Wajah Daddy Rehan nampak serius dan hal itu membuat Yudhistira khawatir. Pemuda yang tadi hatinya sempat begitu bahagia ketika mendengar perkataan Iqbal, kini menjadi cemas. Yudhistira takut jika Daddy Rehan ternyata tidak memberikan restunya, mengingat dia hanyalah seorang pemuda berandalan.
'Apapun keputusan daddy-nya Dik Mela, aku harus siap,' batin Yudhistira seraya melirik ke arah gadis cantik yang kini wajahnya juga terlihat cemas, melihat keseriusan sang daddy.
Berbeda dengan Maida. Saudari kembar Maira itu nampak begitu tenang. Gadis cantik kekasih dari Erlan tersebut rupanya sangat percaya diri bahwa sang daddy dan mommy, pasti akan memberikan restunya jika sang kekasih hendak meminang Maida.
"Bagaimana, Rey? Apa yang akan lu sampaikan sehingga kami semua, lu ajak untuk masuk kemari?" tanya Om Devan, mengawali pembicaraan.
"Jangan serius-serius napa, Rey! Kayak lagi sidang kasus pembunuhan saja!" protes Om Alex yang tidak menyukai suasana ketegangan yang tercipta di ruangan tersebut.
"Benar, Rey. Ada pasien di sini yang butuh suasana menyenangkan, bukan yang menegangkan," timpal Opa Alvian.
"Iya-iya! Kalian ini bapak-bapak, kenapa jadi bawel kayak gini, sih! Melebihi bawelnya para istri!" Daddy Rehan cemberut.
"Dad, siapa yang bawel?" tanya Mommy Billa dengan nada protes, pura-pura tidak terima dirinya dirinya dikatakan bawel.
"Para istri di luar sana, Mom. Bukan Mommy, sungguh!" Daddy Rehan menatap sang istri dengan mimik menyesal dan meminta maaf.
"Lu juga termasuk katanya, Bill. Dia tadi nyebutnya 'kan, para istri." Om Devan yang senang memancing di air yang keruh, tergelak.
Kedua sahabatnya ikut terkekeh. Berbeda dengan Erlan, yang hanya berani tersenyum, samar. Sementara Mommy Billa tersenyum, dikulum.
__ADS_1
"Benar, Mbak Billa. Kalau di kantor dulu, Rey juga suka ngeluh katanya Mbak Billa ini bawel," timpal Om Alex.
Mommy cantik itu menggelengkan kepala. Beliau tahu pasti, ini semua pasti hanya candaan sahabat gesrek suaminya. Makanya, Mommy Billa tidak ambil pusing dengan apa yang mereka katakan. Wanita paruh baya tersebut percaya penuh pada sang suami yang sudah tidak diragukan lagi, cinta dan sayangnya pada Mommy Billa
"Dev, apa lu mau gue pecat dari posisi besan dan kemudian digantikan oleh orang lain?" Pertanyaan Daddy Rehan yang diucapkan dengan pelan, tetapi penuh penekanan tersebut mampu membuat Om Devan langsung terdiam.
"Gue enggak ikut-ikutan, ya." Opa Alvian mengangkat kedua tangannya ke atas, masih dengan menahan tawa.
"Enggak gitu juga konsepnya, Rey! Masak kita becanda, rumah tangga anak kita jadi taruhannya!" protes Om Devan, kemudian.
"Siapa yang mempertaruhkan rumah tangga mereka? Lila tetap menantu gue. Hanya saja, gue enggak mau menjadi besan lu! Besan gue, hanya Lusi!" tegas Daddy Rehan.
"Serah lu, deh, Rey. Gue akui, lu memang selalu benar." Om Devan mengangkat kedua tangannya ke atas, sama seperti Opa Alvian tadi.
"Bagus! Lu tahu 'kan, Lex, apa akibatnya kalau berani melawan bos?" Daddy Rehan ikut tersenyum. Daddy tampan tersebut juga tahu pasti, mereka semua hanya becanda.
"Sudah-sudah. Jangan pada becanda terus!" protes Mommy Billa, menyudahi candaan garing sang suami dan sahabat-sahabatnya. "Sekarang Daddy katakan saja, apa keinginan Daddy agar mereka semua lega. Bang Er, Nak Yudhis dan kedua putri kita," pinta mommy cantik itu, kemudian.
"Bentar-bentar, Budhe, Pakdhe. Ini, Pakdhe mau ngumumin apa, sih? Apa, tentang pernikahan massal?" tanya Iqbal.
"Benar, Bal. Pernikahan massal," balas Om Devan, terkekeh.
"Kenapa, Nang? Jangan Bilang, kalau kamu mau ikutan?" tanya Opa Alvian pada cucu dari kakaknya.
__ADS_1
"Kalau boleh, kenapa enggak, Opa? Iqbal 'kan juga dah besar, sama kayak Kak Mai dan Kak Mela," balas Iqbal seraya menatap kedua kakak sepupunya, bergantian.
"Mereka perempuan, Nang, dan nantinya akan menjadi tanggungjawab suami. Meskipun jika mereka nanti tetap ingin berkarya, berkarir, atau apapun agar dapat memiliki penghasilan sendiri, itu juga sah-sah saja kalau suami mereka mengijinkan. Namun, hukumnya tidak wajib bagi wanita untuk mencari nafkah." Opa Alvian menatap cucu dari kakak kandungnya, mencoba memberikannya pengertian.
Iqbal mengangguk-anggukkan kepala. Begitu pula dengan Maira dan Maida yang masih berdiri di sisi ranjang pasien. Sementara Yudhistira terlihat murung. Perkataan Opa Alvian seperti sebuah sindiran untuknya.
Erlan yang duduk di samping Opa Alvian, tersenyum. Kekasih Maida itu sudah membayangkan jika nantinya dia menikah dengan kekasihnya, Erlan tidak akan membiarkan istri cantiknya bekerja di luar rumah. Dia tidak rela kalau kecantikan sang istri dinikmati oleh orang lain.
"Berbeda dengan kamu, Nang. Kamu laki-laki, harus bisa mandiri dulu karena kamulah nantinya yang akan memikul tanggungjawab dalam keluarga. Setelah kamu bisa berdiri sendiri, kamu boleh mulai memikirkan untuk meminang kekasihmu," lanjut Opa Alvian, menasehati Iqbal dengan bijak.
"Eh ... kalau itu, sih, Iqbal sudah bisa, Opa! Opa jangan salah, ya. Iqbal sudah bisa, kok, berdiri sendiri," balas Iqbal tanpa dosa seraya menunjuk ke arah bawah, ke area pribadinya.
Rupanya, bukan hanya kekonyolan sang ayah yang menular kepada putra pertama di keluarga Ilham tersebut. Ternyata, kemesuman Om Ilham juga menular padanya. Apalagi, Iqbal sudah bergaul dengan para orang dewasa sejak dini hingga membuat segala informasi bebas masuk ke dalam otaknya yang memang rada sedeng.
Perkataan Iqbal, sontak mengundang gelak tawa kaum pria. Sementara Mommy Billa tersenyum tipis. Maira dan Maida, tertunduk malu sendiri.
"Pakdhe enggak percaya, Bal, kalau belum melihat buktinya," timpal Om Devan, semakin menjadi.
"Benar, Nang. Jangan-jangan, berdirinya enggak tegap dan doyong ke kanan," timpal Om Alex, masih sambil tergelak.
Opa Alvian geleng-geleng kepala. "Salah mengartikan makna kamu, Nang."
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น
__ADS_1