
Setelah mendengar penjelasan dokter jaga, Daddy Rehan menitipkan putri kesayangan tersebut pada sang istri dan daddy tampan itu berkoordinasi langsung dengan dokter ahli tulang dan ahli bedah yang hari ini bertugas di rumah sakit.
"Saya siap mendatangkan dokter ahli dari luar negeri jika memang dibutuhkan, asalkan kaki putra saya jangan sampai diamputasi," pinta Daddy Rehan yang mengakui Yudhistira sebagai putranya.
"Saya mohon, lakukan yang terbaik untuk putra saya," lanjutnya yang berbicara dengan sangat serius di hadapan kedua dokter ahli dan juga pemilik rumah sakit, yang kebetulan mengenali pemilik RPA Group tersebut.
"Baik Pak Rehan, kami pasti akan lakukan yang terbaik untuk putra Anda," tegas pemilik rumah sakit, seraya menatap kedua dokter senior di rumah sakitnya.
Kedua dokter ahli tersebut mengangguk, mengerti.
"Baik, kami akan melakukan pemeriksaan dengan lebih mendetail pada pasien," ucap dokter spesialis ortopedi.
Daddy Rehan dapat bernapas dengan lega, setelah berbicara dengan dokter ahli yang akan menangani Yudhistira. Laki-laki paruh baya yang semakin menawan itu segera berpamitan dan kemudian
menemui sang putri untuk menyampaikan kabar yang melegakan tentang Yudhistira.
"Alhamdulillah. Jadi bisa ditangani tanpa harus amputasi, Dad?" tanya Mommy Billa, mewakili sang putri yang saat ini tidak bisa berkata-kata.
Daddy Rehan mengangguk.
"Alhamdulillah," ucap syukur Kevin dan Om Alex yang juga sudah berada di ruang tunggu, bersamaan.
Ayah enam anak yang saat ini sudah duduk di samping sang putri tersebut kemudian memeluk putri bungsunya.
"Sudah, jangan bersedih lagi. Do'akan saja, semoga semuanya berjalan dengan lancar." Daddy tampan itu kemudian mencium puncak kepala sang putri bungsu.
"Rey, gue dan Kevin mau ke kantor polisi dulu," pamit Om Alex setelah mendengar kabar yang cukup melegakan barusan.
"Iya. Lu tahu apa yang harus lu lakukan, jika memang kecelakaan yang menimpa Yudhis karena sabotase," tutur Daddy Rehan sebelum Om Alex dan Kevin berlalu.
"Oke," balas Om Alex singkat.
__ADS_1
Mereka berdua bergegas meninggalkan ruang tunggu IGD untuk menuju parkiran.
"Sayang, kita tunggu di paviliun saja, yuk!" ajak Mommy Billa.
Ya, Kevin telah memesan sebuah paviliun dengan empat kamar untuk perawatan Yudhistira nantinya, pasca tindakan yang akan segera dilakukan oleh tim dokter pada pemuda yang mengalami kecelakaan motor saat sedang balapan liar.
Sengaja, abangnya Maira itu memesan paviliun kelas utama dengan banyak kamar, agar keluarga yang menunggu Yudhistira nantinya merasa nyaman.
Kevin juga sudah memberikan uang DP yang cukup besar pada pihak rumah sakit, sehingga Yudhistira langsung ditangani dengan sangat baik dan mendapatkan perhatian ekstra.
Apalagi setelah pemilik rumah sakit bertemu langsung dengan Daddy Rehan dan mengetahui bahwa pasien adalah putra salah satu orang ternama di negeri ini, maka seluruh petugas medis yang menangani Yudhistira dipilih dari orang-orang yang berkompeten di bidangnya.
"Nanti saja, Mom. Mela pengin nungguin Mas Yudhis operasi," tolak Maira sambil memperhatikan petugas medis yang wara-wiri keluar masuk ruangan IGD untuk menyiapkan segala sesuatu, guna menangani pasien istimewa itu.
"Nak, Sayang. Mau menunggu di depan ruang operasi atau di paviliun sama saja, sama-sama tidak bisa melihat dan mendekat." Daddy Rehan menatap sang putri dengan tatapan hangat dan penuh kasih.
"Lebih baik kamu istirahat dulu di paviliun sama Mommy, agar jika Nak Yudhis telah selesai dioperasi dan sudah sadar, kamu bisa merawatnya dengan baik," saran Daddy Rehan yang kemudian diikuti oleh Maira.
"Sebentar lagi mau dioperasi, Bi. Kaki Nak Yudhis patah," balas Mommy Billa, mewakili sang putri.
Tepat di saat yang sama, brankar yang diatasnya tergolek tubuh Yudhistira didorong keluar dari ruangan IGD oleh dua orang petugas, untuk dibawa ke ruang tindakan.
"Bibi temani putri saya ke paviliun di sebelah sana, ya. Biar saya sama daddy-nya yang nungguin Nak Yudhis operasi," pinta Mommy Billa yang tidak tega membiarkan sang suami menunggu sendirian yang pasti akan sangat membosankan.
"Baik, Nyonya," balas bibi asisten, patuh.
Maira dan bibi asisten di kediaman keluarga Bisma segera menuju paviliun di bagian belakang rumah sakit besar tersebut.
Sementara Daddy Rehan dan Mommy Billa segera mengikuti petugas medis yang membawa Yudhistira, menuju ruang tindakan.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Operasi yang berjalan selama berjam-jam itu pun akhirnya usai dan membuahkan hasil yang cukup menggembirakan karena pemuda yang kini tidak memiliki siapa-siapa di ibukota itu, tidak harus diamputasi kakinya.
Yudhistira yang seharusnya dipindahkan ke ruang observasi, atas ijin dokter ahli yang menangani pemuda tersebut, dia dapat langsung dipindahkan ke paviliun, tentunya dengan pengawasan ketat dari tim dokter.
Maira segera ikut menjemput ke ruang tindakan, ketika sang daddy mengabarkan bahwa operasinya telah berhasil.
Matahari sudah mulai tergelincir ke ufuk barat, ketika Yudhistira dibaringkan di atas ranjang pasien di paviliun tersebut.
"Dad, Mom. Sebaiknya, Daddy dan Mommy pulang saja. Biar Kevin dan bi Ina yang menemani Mela di sini," pinta Kevin yang melihat gurat kelelahan di wajah sang daddy dan mommy-nya.
Saat ini, mereka sedang berada di teras paviliun sambil menikmati udara sore yang sejuk.
"Sebentar lagi, adik-adik juga mau ke sini untuk menemani kami," lanjutnya.
"Abang benar, Dad, Mom. Daddy dan Mommy istirahat saja di rumah," timpal Maira.
"Kak Mai tadi juga janji, akan segera kemari begitu acara sepupu Bang Er selesai," lanjutnya.
"Om juga pamit pulang dulu, ya. Besok om akan kemari lagi sama tante kalian." Om Alex yang sedari pagi tadi wara-wiri bersama Kevin untuk mengurus kasus kecelakaan yang menimpa Yudhistira dan saat ini sudah diketahui penyebabnya, segera beranjak dari kursi teras yang terbuat dari rotan.
"Baiklah, kalian juga harus beristirahat dan jaga kesehatan," pesan Mommy Billa pada putra sulung dan putri bungsunya.
"Jangan khawatirkan Nak Yudhis, Sayang. Ada dokter jaga yang siap dua puluh empat jam untuk memantau keadaannya," imbuh Daddy Rehan seraya menatap sang putri.
Maira mengangguk, mengerti.
Ketiga orang tua tersebut kemudian meninggalkan paviliun untuk pulang ke rumah.
Baru beberapa saat Daddy Rehan beserta sang istri dan Om Alex meninggalkan tempat tersebut, tiba-tiba terdengar bi Ina, bibi asisten keluarga Bisma, berseru panik dari dalam kamar tempat Yudhistira dirawat.
"Non Mela, Den Kevin. Den Yudhis ... aduh, gimana ini? Kenapa dengan Den Yudhis, Non, Den?"
__ADS_1
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น