
Yudhistira semakin tak terengkuh. Setelah acara tujuh hari kematian sang oma, pemuda itu tidak membiarkan keluarga Maira menemaninya lagi.
Dia selalu menghindar, dengan cara pergi dari rumah di pagi-pagi buta dan baru akan kembali setelah larut malam menyapa.
Di kampus, Maira pun tidak dapat menemukan sosok pemuda tersebut dan menurut kabar, Yudhistira telah mengurus cutinya selama satu semester.
Pemuda yang suka berpenampilan semrawut tersebut, benar-benar menjauh, bahkan menghilang dari kehidupan Maira dan keluarga besarnya. Hal itu membuat bungsu keluarga Daddy Rehan, bersedih.
"Apa sebaiknya, malam nanti Mela nungguin Mas Yudhis di rumahnya sampai dia pulang ya, Dad?" ijin Maira, usai mereka menikmati sarapan.
"Jangan, Mel! Itu enggak etis," sahut Maida mengingatkan.
Daddy Rehan mengangguk, membenarkan ucapan Maida.
"Kita cari cara lain, untuk bisa ketemu dengan Nak Yudhis dan kemudian mengajaknya untuk berbicara baik-baik," tutur Daddy Rehan.
"Tapi, Dad, sampai kapan kita akan bisa menemui Mas Yudhis kalau dia menghindar terus seperti ini?" Maira merajuk.
"Pagi-pagi sekali, saat kita jogging dia sudah keluar. Jam Sembilan malam, Maira mencoba untuk ke sana mengantarkan makan malam, dia belum pulang," lanjut Maira, sedih.
"Kalau memang Mas Yudhis tengah malam baru pulang, Mela rasa, enggak ada salahnya 'kan, Dad, kalau Mela nungguin di sana?" Gadis cantik itu menatap sang daddy dengan penuh harap.
"Biar abang aja, yang nungguin Yudhis di rumahnya nanti malam," sahut Kevin yang baru saja tiba dan langsung menuju ruang makan.
__ADS_1
"Bang, sudah sarapan?" tanya Mommy Billa ketika putra pertamanya itu mencium pipinya.
"Sudah, Mom. Pagi-pagi sekali sudah lapar tadi dan Salma langsung masakin nasi goreng," balas Kevin.
"Memangnya, Abang habis kerja lembur, sampai kelaparan di pagi-pagi buta?" tanya Daddy Rehan, tersenyum. Laki-laki paruh baya itu kemudian melirik sang istri seraya memberikan kode.
Mommy Billa mencubit pelan perut Daddy Rehan yang masih tetap rata seperti puluhan tahun silam. "Ingat cucu sudah banyak, Dad," bisiknya memperingatkan.
"Lembur terus, Dad," balas Kevin yang mengerti arah pembicaraan sang daddy, seraya tersenyum simpul.
"Udah sana, kalian berangkat!" usir Kevin pada kedua adik kembarnya karena tidak ingin Maira dan Maida terkontaminasi pikirannya dengan pembicaraan orang dewasa.
"Beneran, ya, nanti malam Abang nungguin Kak Yudhis sampai dia pulang?" tagih Maira seraya beranjak.
"Sebab, kata penjaga rumahnya, Mas Yudhis selalu pulang di tengah malam," lanjutnya.
Maira dan Maida segera berpamitan pada kedua orang tuanya, apalagi Iqbal juga baru saja berteriak dari arah ruang keluarga, memanggil nama mereka berdua.
Ya, semenjak kematian sang oma, Yudhistira tidak pernah lagi menjemput Maira untuk berangkat ke kampus seperti yang sudah-sudah. Hingga kemudian Iqbal kembali mendapatkan tugas, untuk menjaga kedua kakak sepupunya itu.
"Kasus kedua teman Yudhis, kelanjutannya bagaimana, Bang?" tanya Daddy Rehan yang memang menyerahkan sepenuhnya pada Kevin dan juga Om Alex, untuk mengusut tuntas teman-teman Yudhistira yang telah memfitnah pemuda tersebut hingga berujung kematian sang oma.
"Untuk sementara ditangguhkan, Dad, karena Yudhis belum juga mau memberikan keterangan ke kantor polisi. Sementara kondisi Awang sendiri masih koma di rumah sakit," terang Kevin.
__ADS_1
Ya, dini hari, setelah Om Alex dan Kevin menyerahkan bukti chat milik Icha dengan teman laki-lakinya, polisi langsung bergerak cepat untuk mencari Awang.
Beruntung, dini hari itu juga, mobil Awang berhasil dilacak keberadaannya dan sahabat Yudhistira tersebut ditemukan bersama mobilnya yang terperosok masuk kedalam sungai yang airnya tidak terlalu tinggi.
Mobil milik Awang tidak tenggelam, sehingga pemiliknya yang sengaja didudukkan di bangku pengemudi masih selamat meski kondisinya cukup parah karena sebelum terjun ke sungai, sepertinya mobil Awang sengaja ditabrakkan terlebih dahulu ke sebuah pohon di pinggir sungai tersebut.
Daddy Rehan mengangguk-angguk, mengerti keadaan Yudhistira. "Kasihan sekali anak itu," gumamnya, sendu.
"Dad, apa tidak sebaiknya Daddy mencoba menelepon Mas Pandu, Dad," saran Mommy Billa.
Daddy Rehan langsung menggeleng. "Percuma, Mom. Meskipun mungkin Pandu cukup peduli dengan anaknya, tapi Pandu tidak cukup memiliki keberanian untuk melawan istrinya, kan?"
Mommy Billa mengangguk. "Iya, Daddy benar. Mommy heran, deh, sama laki-laki seperti Mas Pandu itu. Takut sampai segitunya sama istri, bahkan anak dibiarkan telantar tanpa perhatian dan kasih sayang," balas Mommy Billa, nampak geram.
Teringat kembali, bagaimana kalau itu, di hari pemakaman omanya Yudhistira, Pandu datang bersama istri mudanya.
Papanya Yudhistira itu datang layaknya tamu, tidak ada gurat kesedihan di sana melihat sang ibu meninggal. Dia juga hanya sebentar di rumah orang tuanya tersebut.
Pandu sama sekali tidak berbasa-basi untuk mengajak sang putra pulang ke Surabaya dan dia langsung pamit pulang, ketika Yudhistira masih duduk bersimpuh di samping gundukan tanah makam sang oma yang masih basah.
"Kok ada ya, ayah macam itu?" gumam Kevin bertanya, yang entah dia tujukan pada siapa?
Daddy Rehan, Mommy Billa dan Kevin hanya saling pandang. Berbicara melalui pandangan mata, bahwa mereka akan Sama-sama menjaga Yudhistira. Seorang anak yang kini sudah tidak memiliki siapa-siapa, yang sempat dititipkan oleh sang oma kepada keluarga Daddy Rehan.
__ADS_1
"Kevin janji, Dad, Mom. Kevin akan berusaha untuk dapat menemukan Yudhis, merengkuhnya dan membawa Yudhis pulang ke rumah kita."
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น