Maira And The Bad Boy

Maira And The Bad Boy
Pesan dari Oma


__ADS_3

"Papa putra laki-laki satu-satunya dan merupakan pewaris perusahaan itu, Yud, dan Mama Leni adalah istri papa. Kami juga memiliki anak. Jadi, baik kamu maupun adikmu memiliki hak yang sama atas perusahaan tersebut," lanjut sang papa.


Yudhistira menggeleng dengan cepat. "Perusahaan itu diwariskan opa pada oma karena saat itu papa sudah memiliki perusahaan sendiri dan tinggal di Surabaya. Tadinya, oma memang berpikir akan mewariskan semua yang dimiliki pada papa dan juga Yudhis karena Yudhis anak tunggal Papa dan almarhumah mama. Namun, keputusan oma berubah setelah Papa menikah lagi dan oma mengetahui seperti apa istri baru Papa itu." Yudhistira menatap tajam sang papa.


"Beberapa minggu sebelum oma pergi, oma sudah mengalihkan semuanya menjadi atas nama Yudhis," lanjutnya, membuat sang papa mengerutkan dahi.


"Kalau Papa tidak percaya, silakan Papa bisa hubungi Om Lukman. Beliau yang mengurus semuanya," pungkas Yudhistira yang kemudian membetulkan posisi bantalnya, hendak kembali tidur.


Lelah. Yudhistira tidak mau berdebat lagi dengan sang papa. Pemuda itu kemudian segera memejamkan mata, tak ingin diajak berbicara oleh papanya.


Pak Pandu menghela napas panjang. Sejujurnya, laki-laki paruh baya itu pun tidak mau bersusah-payah mengelola perusahaan peninggalan papanya. Dia sudah sangat disibukkan dengan usahanya yang cukup besar di Surabaya. Hanya saja, sang istri mendesak ingin tahu tentang kondisi keuangan perusahaan tersebut yang pastinya lebih besar.


"Baiklah, Yud. Papa tidak akan mencari tahu pada pengacara itu. Papa percaya pada kamu. Pesan Papa, kelola dengan baik apa yang sudah dirintis oleh almarhum opa. Jangan sampai perusahaan itu jatuh bangkrut dan gulung tikar karena kamu masih suka keluyuran malam," tutur sang papa panjang lebar, menasehati putranya.


Yudhistira bergeming, tidak ingin menanggapi perkataan papanya.


"Papa pulang dulu, Yud. Kalau ada waktu, papa akan menjengukmu kembali," pamit Pak Pandu seraya menepuk pelan lengan sang putra.


Meskipun tidak menyukai sikap papanya, Yudhistira tetap menghormati orang tua satu-satunya itu. Dia membuka matanya dan kemudian mengulurkan tangan. Pemuda itu menyalami sang papa dan mencium punggung tangan Pak Pandu dengan takdzim.

__ADS_1


Itu semua Yudhistira lakukan karena dia selalu mengingat apa yang diajarkan oleh sang oma. Pesan omanya itu begitu melekat di hati meskipun terkadang sangat sulit bagi Yudhistira untuk melakukannya. Dia harus berperang melawan egonya sendiri.


"Yud, seburuk-buruknya orang tua, Pandu itu tetap papa kamu. Tidak ada yang namanya istilah mantan orang tua, Yud. Jadi, kamu harus tetap menghormatinya," tutur sang oma siang itu ketika omanya Yudhistira menjemput sang cucu ke Surabaya untuk diajak pulang ke Ibukota.


"Tapi, Oma ...."


"Tidak mengapa jika kamu tidak menyukai papamu karena memang sikapnya yang kelewatan sama kamu, tapi kamu tidak boleh membencinya. Apalagi sampai kamu melupakan papamu, itu tidak benar, Nak." Sang oma menatap cucu kesayangannya itu dengan tatapan hangat.


"Terima kasih, masih mau menerima papa dengan baik, Yud." Perkataan sang papa, mengurai lamunan Yudhistira tentang omanya.


"Tentu saja, Pa, karena Papa adalah Papanya Yudhis. Tapi tolong jangan paksa Yudhis untuk bisa menerima istri Papa sebagai mamanya Yudhis," balas Yudhistira dan Pak Pandu mengangguk mengerti.


Sepeninggal papanya, wajah Yudhistira nampak murung. Pemuda itu sebenarnya kasihan pada papanya, tetapi Yudhistira tidak bisa berbuat apa-apa. Sang papa sendiri tidak mau menerima informasi apapun dari orang lain mengenai sifat asli istri mudanya.


Mommy Billa yang kembali masuk ke dalam rung rawat Yudhistira setelah Pak Pandu berpamitan padanya, sempat melihat wajah mendung pemuda tersebut. Wanita yang masih terlihat cantik meskipun sudah memiliki banyak cucu itu, kemudian mendekat ke ranjang pasien.


"Nak Yudhis. Maaf, bukannya tante mau ikut campur. Tapi apapun yang dikatakan papa kamu tadi jika itu membuat kamu merasa tidak nyaman, abaikan saja. Kamu tidak sendirian, Nak. Ada tante, om dan saudara-saudara kamu yang lain. Apapun itu, kamu bisa berbagi dengan kami semua," tutur Mommy Billa dengan lembut seraya menepuk-nepuk lengan Yudhistira, pelan.


Yudhistira menatap manik hitam yang meneduhkan milik Mommy Billa dan pemuda itu kemudian tersenyum. "Iya, Tante. Tadi, papa memang sempat membahas tentang perusahaan. Sepertinya, istri papa juga menginginkan perusahaan peninggalan almarhum opa."

__ADS_1


Pemuda itu menghela napas panjang. "Yudhis, sih, tidak masalah jika papa dan istrinya memang mau mengambil semua bahkan kalau mereka juga menginginkan rumah itu sekalipun Yudhis tidak peduli, Tan. Tapi, oma pernah berpesan pada Yudhis, oma tidak rela jika sampai harta peninggalannya jatuh ke tangan istri papa dan keturunannya," lanjutnya.


"Lagipula saat ini, Yudhis juga belum mampu untuk mengelola perusahaan itu, Tan. Semua masih dipegang oleh orang-orang kepercayaan oma. Entah mereka amanah atau tidak setelah oma meninggal, Yudhis menyangsikannya," imbuh Yudhistira.


"Itu juga yang sebenarnya ingin om sampaikan sama kamu, Nak Yudhis. Pesan dari Oma kamu. Sayangnya, beberapa waktu terakhir kamu kabur-kaburan dan tidak mau mengunjungi kami." Suara Daddy Rehan yang baru saja datang, mengalihkan perhatian Mommy Billa dan Yudhistira.


Mommy cantik itu segera beranjak, menghampiri sang suami dan kemudian mengambil tangan Daddy Rehan untuk diciumnya. Daddy Rehan membalas dengan mengecup kening Mommy Billa, penuh rasa sayang. Tidak peduli meski ada Yudhistira di sana. Hal itu membuat pemuda tersebut tersenyum, malu sendiri.


'Manis sekali, sih, orang tua Dik Mela,' batin Yudhistira yang semakin mengagumi keluarga besar gadis yang dia sayang.


"Pesan? Tentang apa, Om?" tanya Yudhistira dengan tidak sabar, setelah Daddy Rehan berdiri di samping ranjang pasien.


"Beberapa minggu sebelum Tante Saidah meninggal, beliau pernah menemui om dan berpesan agar ...."


"Assalamu'alaikum." Suara Maira yang mengucapkan salam, mengalihkan perhatian mereka semua.


🌹🌹🌹 bersambung ... 🌹🌹🌹


Lanjut besok, yah... πŸ˜ŠπŸ™

__ADS_1


Biar Yudhis melepas rindu dulu sama Dik Mela πŸ₯°


__ADS_2