
"Yud, abang mau bicara sama kamu. Ayo, kita masuk!" ajak Kevin seraya merangkul pundak Yudhistira yang baru saja turun dari motor sport-nya.
Kevin sempat mengerutkan dahi, kala pertama kali berdekatan dengan Yudhistira karena aroma asap rokok yang tertinggal di pakaian Yudhistira begitu menyengat tercium olehnya.
Kevin mencoba membaui dengan seksama, mencari-cari aroma lain yang barangkali dapat tercium, tetapi putra sulung Daddy Rehan tersebut tidak menemukannya dan Kevin merasa sangat lega.
Kevin khawatir, jika Yudhistira terjerumus ke dalam hal yang negatif dengan mengkonsumsi minuman keras atau narkoba. Beruntung hanya ke rokok pelarian pemuda yang sedang berjalan bersamanya saat ini, hingga masih cukup mudah bagi Kevin untuk bisa menghentikan kebiasaan baru pemuda itu.
"Sejak kapan, kamu merokok, Yud?" tanya Kevin penuh perhatian.
Yudhistira hanya membalasnya dengan senyuman dan tidak ingin mengatakan apapun. Dia masih merasa kesal karena dianggap sebagai pecundang.
Tunggu-tunggu, tapi ada benarnya juga apa yang dikatakan Kevin tentangnya, bukan? Dia adalah pecundang yang lari dari kenyataan. Dia pecundang karena tidak dapat menerima takdir hidup yang menimpanya.
Yudhistira menghela napas panjang, memikirkan kembali perjalanannya selama beberapa minggu ini setelah kepergian sang oma.
'Benarkah oma akan sangat kecewa melihatku seperti ini? Benarkah Mela juga kecewa dan dia masih menyimpan rasa itu untukku, setelah sekian minggu aku abaikan?' batin Yudhistira bertanya-tanya.
"Tidak masalah kalau hanya untuk mengusir penat, Yud, asal jangan sampai kecanduan yang dapat mengakibatkan kesehatan jadi terganggu dan merugikan diri kita sendiri," imbuh Kevin, mengurai lamunan Yudhistira.
"Enggak, kok, Bang. Hanya sebagai teman aja, di kala sepi," balas Yudhistira kemudian yang sudah mulai mau berbicara.
Kevin menepuk-nepuk pelan punggung kokoh Yudhistira, untuk menunjukkan rasa simpati dan perhatiannya.
"Kalau merasa kesepian, main-mainlah ke rumah. Junior kangen sama kamu dan nanyain kamu terus," bujuk Kevin yang berusaha merangkul kembali jiwa Yudhistira yang beberapa waktu ini menjauh dan seperti sulit untuk direngkuh.
Pemuda yang saat ini penampilannya semrawut itu, kembali tersenyum. Teringat akan putra mahkota Kevin yang sangat tampan, cerdas dan super aktif, hingga membuat siapa saja kewalahan jika berbicara dengan anak berumur lima tahun tersebut.
Mereka berdua kemudian menapaki anak tangga halaman rumah megah keluarga Bisma dan menuju ruang tamu.
__ADS_1
"Ada Bang Bayu," sapa Yudhistira, masih cukup ramah di antara rasa kecewanya terhadap takdir hidup yang dia alami.
"Bro, darimana saja?" tanya Bayu tanpa basa-basi.
"Sampai jamuran kami nungguin Lu yang enggak pulang-pulang. Udah kayak Bang Toyib aja, Lu," imbuhnya, mencoba mencairkan suasana yang terasa sedikit kaku.
"Masih mending Yudhis, lah, Bang, cuma semalam. Bang Toyib 'kan tiga kali lebaran," balas Yudhistira yang mulai bersikap biasa dan mencoba membalas candaan Bayu.
Pemuda itu kemudian duduk di hadapan Bayu dan Kevin.
Ya, Yudhistira memang sudah akrab dengan Kevin dan sahabat-sahabatnya karena sebelum musibah itu menimpa, Maira sering mengajak Yudhistira ke kantor Kevin seperti saran kakaknya Maira tersebut.
Di sana, Yudhistira sempat belajar banyak hal pada Kevin tentang dunia usaha, juga pada Bayu selaku asisten pribadi Kevin.
Yudhistira terkadang juga ngobrol bersama Dion dan Rahman jika kedua sahabat, sekaligus saudara Kevin tersebut yang saat ini sudah menjadi bos di perusahaan masing-masing, memiliki waktu luang dan mereka berdua sedang main di kantor Kevin.
Banyak hal positif yang Yudhistira dapatkan dengan berkumpul bersama keluarga Maira. Belum lagi jika di akhir pekan Yudhistira dipaksa oleh sang oma untuk ikut berkumpul bersama keluarga besar Antonio, maka semakin banyaklah ilmu serta pengalaman baru yang didapatkan oleh pemuda itu.
Mengingat hal tersebut, Yudhistira tersenyum dikulum. Sebab, pernah terbersit dalam pikirannya untuk meminta pada sang oma agar melamar Maira untuknya sebelum tragedi itu terjadi.
'Aku enggak yakin sekarang, apakah mimpiku itu akan bisa menjadi nyata?' Wajah Yudhistira yang tadinya tersenyum, kini menjadi mendung.
Kini, semua itu hanya tinggal kenangan semata. Sang oma telah pergi untuk selama-lamanya dan bagi Maira, dirinya hanyalah pemuda berandalan.
Kata-kata itu yang selalu diingat oleh Yudhistira dan terpatri di dalam memorinya.
"Malah bengong! Kesambet tahu rasa, Lu!" Suara Bayu, mengurai lamunan Yudhistira.
Pemuda berambut gondrong itu tersenyum. "Enggak melamun, kok, Bang. Hanya merenung," kilah Yudhistira.
__ADS_1
Hening, sejenak menyapa ruang tamu kediaman keluarga Bisma.
"Abang ke sini mau ketemu Yudhis?" tanya Yudhistira mengurai keheningan.
"Benar, Yudh. Daddy, Mommy, dan kami semua mengkhawatirkan kamu karena kamu menghilang begitu saja. Terutama Mela." Kevin menatap dalam netra Yudhistira, hendak mencari tahu reaksi pemuda di hadapannya.
Yudhistira menghela napas berat. "Sampaikan maaf Yudhis pada Om Rehan dan Tante Billa, Bang. Yudhis tidak bermaksud membuat beliau berdua khawatir. Yudhis hanya ingin merenung sejenak," ucapnya.
"Minta maafnya hanya pada Daddy dan Mommy aja, nih? Pada Mela, enggak minta maaf?" cecar Bayu.
Yudhistira hanya melirik sahabat Kevin tersebut dan tidak ingin menanggapi.
Kevin yang mengerti kekesalan dan kekecewaan Yudhistira terhadap sikap sang adik yang seolah tidak memberikan kesempatan dan waktu pada Yudhistira untuk menjelaskan, mengangguk mengerti.
"Kalau dari cerita Mela, abang rasa wajar jika dia marah dan kecewa sama kamu Yud karena sahabat kamu yang notabene kesehariannya selalu bersama kamu, membenarkan perkataan gadis teman kamu itu." Kevin kembali menatap Yudhistira, mencoba menyelami pikiran pemuda di hadapannya.
"Asal kamu tahu, Yud. Meskipun Mela kecewa dan marah sama kamu, tetapi dia juga yang malam itu langsung meminta pada Om Alex untuk menyelidiki Awang dan dua teman gadismu," imbuh Kevin, membuat netra elang Yudhistira, terbelalak.
"Benarkah, Bang?"
"Benar, Yud," sahut Bayu. "Mela melakukan itu karena dia cinta dan sayang sama kamu," imbuhnya.
"Masak, cowok kayak kamu yang penampilannya seperti playboy sejati, enggak bisa menilai isi hati wanita, Yud?" selidik Bayu.
"Jelas-jelas si Mela itu sayang dan cinta mati sama kamu, loh, Yud. Apa iya, kamu tidak menyadarinya? Atau, kemarahan dan kekecewaan kamu yang telah menumpulkan ketajaman indera perasa cinta kamu?" lanjut Bayu seraya menatap Yudhistira.
"Mana ada indera perasa cinta?" protes Kevin, membuat Bayu dan Yudhistira kemudian tertawa.
Tawa pertama yang keluar dari bibir Yudhistira setelah kematian sang oma.
__ADS_1
๐น๐น๐น bersambung ... ๐น๐น๐น