Mantan Aktrisku

Mantan Aktrisku
Kesalahan


__ADS_3

Malam itu ketika Kelvin hendak menemui Clara ia berada dalam kondisi perasaan yang tidak baik karena masalah pekerjaan dan ditambah lagi percakapannya dengan Richard di depan rumah Clara memperburuk suasana hatinya namun saat menemui Clara dan Robin ia menyembunyikan semua kekesalannya itu, ia hanya ingin menunjukan sisi baiknya saat ini, ia bertekat hanya ingin menunjukan kebahagian untuk mereka demi membayar luka lima tahun lalu yang telah Clara lalui seorang diri.


"Tok tok tok" Kelvin mengetuk pintu rumah Clara.


"Hai kak.. masuklah."


Kelvin mengangguk dan tersenyum ceria saat bertemu Clara..


"Robin mana?" tanya Kelvin.


"Dikamarnya.. masuklah dari tadi dia nanyain kamu terus."


"Benarkah?.. sebelum itu aku mau mengisi energi dulu " Kelvin memeluk erat Clara.


"Begini kah caramu mengisi energi? apa kau pernah mengisi energi di tempat lain? "


"Tidak ada tempat lain selain Ubunya Robin."


"Begitu kah?"


"Iya sayang, aku sudah selesai isi daya sekarang mau ketemu Putraku tercinta muaachh" ucap Kelvin melepaskan pelukan dan mengecup kening Clara dengan lembut.


Seperti biasa Kelvin dan Robin bermain bersama sampai larut..


"Ayah.. bisakah Ayah tinggal disini saja?" ucap Robin.


"Nanti ya sayang.. Ayah bakalan terus sama Robin dan Ibu juga."


"Masih lama ya yah?"


"Tidak lama lagi, tapi kalo Robin sabar Ayah dan Ibu akan tambah sayang sama Robin loh."


"Tentu saja Robin akan sabar sampai bisa tinggal bareng sama Ayah juga Ibu."


"Anak pintar, sekarang Robin tidur yah" ucap Kelvin sembari mengusap usap kening Robin.


Setelah menidurkan Robin, Kelvin segera bergegas pulang ke rumahnya..


Dipagi hari Richard terbangun dari tidurnya yang ditemani oleh belasan botol minuman kosong " hahhh.. lagi lagi aku seperti ini, aku seperti bukan lagi diriku yang dulu, ahh.. badanku sakit sekali tidur di kursi, ngomong ngomong apa kemarin Clara datang kesini? Astaga aku pasti berhalusinasi mana ada Clara datang dan kami berciuman hahah astaga aku sudah gila rupanya" gumam Richard tersenyum tersipu sendirian.


Saat hendak keluar dari cafe Richard bingung karena pintunya tak bisa dibuka namun ia segera menyadari pintunya dikunci dari luar.."Bisa begini sih siapa yang udah kunci pintunya yah, apa Ruben yang iseng?" gumamnya.


Dengan terpaksa Richard hanya bisa menunggu seseorang membukakan pintunya itu, Richard semakin resah karena waktu telah menunjukan pukul sembilan namun belum ada yang datang membukakan pintu, sampai ketika Ruben dan Dani tiba di cafe mereka hanya menunggu tanpa banyak berkata karena mereka pikir kuncinya ada pada Richard dan pasti bosnya itu terlambat datang. karena semakin resah Richard menelpone Ruben.

__ADS_1


"Tring tring" bunyi suara handphone Ruben.


"Haloo Bos kenapa belum datang, saya menunggu didepan dari tadi..?"


"Dengerin dulu.. aku di dalam cafe tapi ada yang mengunci dari luar saat aku ketiduran semalam, apa kalian ngggak tahu siapa yang pegang kunci?"


"Lhaa..saya nggak tahu bos kok bisa ada yang ngunciin begitu sih?"


"Mana saya tahu bocah, panggil orang teknisi yang bisa buka paksa pintunya ya cepat cepat."


"Baiklah Bos" ucap Ruben mengakhiri panggilan telepone.


Saat Ruben hendak memanggil seorang teknisi tiba tiba Selena datang dan melemparkan kuncinya, dengan kaget Ruben pun berhasil menangkap kunci itu, Ruben yang tertegun dan bingung hanya berkata "Terimakasih".


"Lain kali jangan biarkan bosmu minum sendirian disini tanpa kunci pintu ya bahaya kalo ada yang rampok, bisa bisa bos kamu yang tukang mabuk itu langsung di Kheekkk( isyarat tangan menebas leher)" ucap Selena tanpa ekspresi.


Ruben hanya menganggukan kepala dan segera membuka pintunya, dibalik pintu terlihat Richard yang penampilannya acak acakan..


"Itu gimana kamu dapet kuncinya?" tanya Richard


"Tadi nona selena yang memberikannya."


"Kok bisa selena?"


"Dia cuma bilang jangan dibiarin Bos minum sendirian dengan pintu yang tak dikunci, kalo ada perampok khekkk.. begitu katanya" ucap Ruben menirukan cara berbicara Selena.


"Jangan jangan ahhhh...." gumam Richard mengusap usap kepala mengingat ingat kejadian malam itu.


"Ada apa bos,apa ada masalah?"


"Ahh tidak tidak.. kalian lekaslah bekerja cafe sebentarlagi buka, saya mau pulang sebentar mandi ganti baju"


"Baiklah Bos"


Setelah Richard kembali dari rumahnya ia terus memikirkan dan mengingat ingat kejadian semalam, namun ingatannya samar samar dan menganggap yang terjadi hanyalah sekedar mimpi atau halusinasi saja, tapi semakin dipikirkan ia merasa semakin ganjal.


Richard memutuskan untuk menemui Selena ditempatnya bekerja, bahkan sampai di depan minimarket ia masih saja terus merasa ragu ragu untuk menemuinya, diwaktu yang bersamaan ia membulatkan tekadnya karena yang terpenting ia ingin mengucapkan terimakasih telah mengunci cafe saat itu.


"Hai Selena ada yang mau bicarakan" ucap Richard ragu ragu.


Selena hanya menatap Richard dengan tajam, ia keluar dari area kasir dan mendekati Richard masih dengan tatapan itu, Selena terus mendekat sampai Richard refleks melangkah mundur sampai terhenti karena tembok.


Richard merasakan firasat yang tak baik, "Jangan jangan aku melakukan kesalah padanya sampai dia bersikap begini" pikir Richard.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan?"


"Apa yang kulakukan?" ucap Selena.


"Saya datang hanya mau mengucapkan terimakasih karena kamu telah repot repot mau menguncikan pintu cafe semalam."


"Itu saja?"


"Apa lagi? Ahh berkatmu aku dan cafeku jadi aman itu juga tetimakasih" ucap Richard canggung


("Tatapannya seolah mengatakan aku telah sangat berdosa padanya") ucapnya dalam hati.


"Heiii..!!! Apa kamu tak ingat kejadian semalam?" ucap Selena dingin.


"Maaf saya tak begitu mengingatnya berapa kalipun saya mencoba mengingat" ucap Richard bingung.


"Kita berciuman panas tahu!!" ucap Selena dengan nada tinggi.


"Apaa??? diamlah jangan keras keras" ucap Richard menutup mulut Selena dengan tangannya sembari menengok kesana kemari.


"Cari siapa? Ini masih pagi belum ada pengunjung toko."


"Tetep saja teman kamu bisa denger kan?"


"Memangnya kenapa kalo mereka dengar? apa kamu malu karena sudah berciuman denganku?"


"Heii.. hentikan jangan bahas itu kenceng kenceng, ayo kita bicara diluar" ucapnya sembari menarik tangan Selena.


"Maaf kalo saya sudah tak sopan kepada Selena karena saya tidak sadar saat itu maafkan saya."


"Tanggung jawab!!"


"Apaahh??"


"Hemmm.. itu hanya ketidaksengajaan apa nggak terlalu berlebihan kamu minta pertanggungjawabanku? Saya yakin itu bukan murni hanya kesalahan saya kan? Anda tidak mabuk tapi kenapa menerima ciuman saya?"


"Bukankah sudah jelas karena aku menyukaimu."


"Jadi?? saya tak perlu bertanggungjawab kan? karena anda yang yang diuntungkan."


"Hhaahhh.. astaga sudahlah anggap saja itu kesalahan, aku nggak akan minta apa apa.. jadi kamu tenang saja" ucap Selena dengan muka sinis dan kesal.


"Benarkah? baguslah tapi tetap maaf dan terimakasih untuk yang kemarin" ucap Richard tersenyum manis.

__ADS_1


"Haiisss aku kesal banget tapi liat senyumannya rasanya aku meleleh lagi, ahhh.. dasar.. ini nggak adil harusnya aku tetap marah, aku marah aku kesal" gumam Selena kembali kedalam minimarket.


bersambung


__ADS_2