
Bunyi dering ponsel di meja kerja Clara, ia merasa bimbang untuk menjawab atau mengabaikan panggilan dari nomer tak dikenal, setelah beberapa saat nomer tersebut terus menghubunginya setelah diabaikan beberapa kali, hingga membuatnya tak bisa fokus mengerjakan pekerjaan menulisnya.
"Bzzzzz.. bzzzzzz bzzzz" dering ponsel.
"Halo??"
"Hai Clara Chan"
"Siapa yaa?"
"Aku Lukina Joan, apa kau ada waktu? Bisakah kita bertemu?"
"Ada urusan apa anda ingin menemui saya?"
"Bisakah kita membicarakannya saat bertemu saja?"
"Sepertinya saya tak bisa, maaf yaa"
"Jadi begitu yaa.. baiklah saya akan kerumah anda sekarang juga"
"Baiklah, ayo bertemu di R Cafe"
"Baiklah, itu Cafe milik teman anda kan?"
"Kenapa anda tahu?"
"Karena saya tertarik padamu, baiklah ayo bertemu disana jam 1 siang"
"Oke"
Clara bertanya tanya setelah mendapat panggilan telfon dari orang yang tak disangka sangka.
Clara menuju Cafe setelah menjemput Robin dari sekolah.
"Clara Robin?? Kalian disini?"
"Iyaa, apa Lukina Joan sudah datang?"
"Ternyata dia janjian sama kamu yaa,
ada apa? Dia di ruang VIP lantai 2"
"Aku juga ingin tahu"
"Hemm??"
"Baiklah, aku akan keatas, titip Robin yaah"
"Oke, tenang saja"
Clara menaiki tangga dengan perlahan dan hati hati sembari mengira ngira tujuannya menemui Clara.
Ceklek!!
"Kau datang?" ucap Lukina santai.
"Ya, sepertinya Anda punya banyak waktu luang yaa"
"Itu benar sekali, seperti yang anda tahu itu semua karena rumorku bersama Pak Kelvin yang terus menjadu jadi"
"Bicaralah.. ada urusan apa anda mencari saya?"
"Saya ingin meminta tolong kepada anda, sebenarnya saya tidak enak mengatakannya tapi karena kedaan, saya memaksakan diri saya mendatangi anda. Tolong bujuk Pak Kelvin supaya ia mau membantu membersihkan rumor dengan cara mengakaui hubungannya bersama saya didepan publik agar pekerjaan saya bisa kembali stabil"
__ADS_1
"Kenapa harus begitu? Kenapa anda menyuruh saya melakukan itu?"
"Karena saya tahu hubungan anda dan Pak Kelvin yang tak ingin diketahui Puklik"
"Maaf sepertinya saya harus menolak permintaan anda tapi tenang saja rumor anda dengannya akan segera mereda setelah saya menikah dengan Kelvin"
"Menikah??"
"Benar, kami akan menikah dalam waktu dekat, anda tak perlu mengkhawatirkan rumor lagi"
"Jadi begitu yaa" Ucap Lukina dengan ekspresi kesal.
"Jika sudah tak ada hal lain saya permisi sekarang"
"Baiklah" ucap Lukina sembari menggigit bibir.
"Aku tak menyangka dia akan se sombong itu dihadapanku, aku selalu memiliki cara untukbmendapatkan apa yang aku inginkan" Gumam Lukina.
Lukina mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Merry agar ia menjemputnya.
Tak lama Merry sampai di Cafe, tak sengaja ia bertemu dengan Clara di lantai bawah, perasaan Merry seketika tak enak karena ia menduga Lukina telah mendatangi Clara karenanya yang memberikan informasi kepada Lukina tentang Clara.
"Gimana kabarmu Clara, kau semakin cantik saja" ucap Merry sembari memeluk Clara.
"Kakak bisa aja.. kenapa kemari"
"Aku jemput Lukina, tapi apa kalian janjian bertemu disini?"
"Ahhh ii.." ucap Clara yang terhenti karena Lukina memotong pemnicaraan mereka sembari menuruni tangga.
"Kak Merry kau datang!!"
"Iya Lukina"
"Daahhh.." ucap Merry melambaikan tangannya kepada Clara.
"Gimana pembicaraan kalian? Lancar kan?" ucap Richard yang keluar dari ruang istirahat.
"Begitulah, dimana Robin?"
"Setelah makan ia tertidur diruang istirahat"
"Emmm.. anak itu kalo sama kamu pasti tidur deh"
"Iyaa yah hahaha, tapi kamu ngga ada masalah sama si Lukina itu kan?"
Clara menceritakan tentang panggilan telefon Lukina sampai pertemuan mereka di tempat itu.
"Dia cukup mencurigakan ya.. tapi benarkah kamu akan menikah secepatnya?"
"Sebenarnya tentang itu baru saja dibahas dengan Kelvin, aku yang mengusulkannya tapi belum yakin sepenuhnya, siapa sangka gara gara bertemu Lukina yang meminta hal seperti itu membuat aku tak perlu ragu lagi untuk segera menikah"
"Kelihatannya ia sangat menyukai Kelvin kan?"
"Benar aku yakin dia menyukainya"
Didalam mobil.
"Kenapa kau menemui Clara?" ucap Merry sembari menyetir.
"Aku hanya ingin bertemu dengannya"
"Apa tidak ada maksud lain?"
__ADS_1
"Apa sih Kak? Jangan selalu berpikir negatif tentang aku kenapa sih!!!!"
"Baiklah, tak perlu marah.. aku hanya tak ingin kau merugikan dirimu sendiri"
"Hemm"
Setelah pertemuannya dengan Clara yang mengecewakan itu perasaan Lukina semakin gelisah dan tak tenang, ia terus memikirkan Kelvin yang akan segera menikah dengan Clara, ia merasa sangat terpukul karena kemungkinan besar ia tak bisa mendapatkan keinginannya kali ini, malam itu ia kembali bermimpi buruk, mimpi yang terus menghantuinya dikala perasaannya tak baik, mimpi yang selalu mengguncang jiwanya.
"Hosh hosh hosh" Lukina bangkit terbangun dari mimpi buruknya yang terus berulang.
Ia mengambil ponselnya dan berulang kali menghubungi Kelvin, namun Kelvin tak menjawabnya sama sekali karena sedang tertidur pulas bersama Robin dan Clara.
Lukina terus menerus menghubunginya meskipun diabaikan, hingga Clara terbangun karena terganggu suara getar ponsel Kelvin.
"Siapa sih yang mengganggu larut malam begini ihhh dasar nggak tau waktu" gumam Clara sembari berjalan mengambil ponsel di meja samping Kelvin.
"Ahh.. ternyata wanita ini sangat agresif yaaa" gumam Clara sembari berjalan keluar kamar untuk mengangkat telfon.
"...." Clara menjawab telfon tanpa bersuara.
"Pak Kelvin tolong.. tolong datanglah kemari hiks hiks hiks"
"Jadi seperti ini caramu memanggil Kelvin yaa" Pikir Clara dalam hati.
"Halooo.. Pak Kelvin?? Hiks hiks hiks"
Clara tetap tak bersuara, ia hanya mendengarkan apa yang Lukina ucapkan, "Ahhh.. suaranya benar benar menghawatirkan, apa yang harus kulakukan" Gumam Clara setelah memutuskan sambungan telefon.
Clara yang panik segera membangunkan Kelvin..
"Sayang.. sayang bangun!!" Ucap Clara berbisik.
"Ada apa siihh? Ini masih belum pagi kan?"
"Lukina.. Lukina"
"Ada apa dengannya aku nggak peduli"
"Tadi dia telfon kamu, dia minta tolong sama kamu"
"Biarin aja lah, lagian kamu nggak mau aku kesana kan?"
"Nggak mau.. tapi aku menghawatirkannya setelah mendengar suaranya seperti itu"
"Dia memang punya trauma saat bermimpi masa lalunya yang mengerikan"
"Biar aku hubungi Merry saja"
"Apa nggak sebaiknya kamu yang kesana aja?"
Kelvin menghubungi Merry di tengah malam.. Merry sangat kaget mengetahuinya namum ia segera mengerti dan bergegas menghampiri Lukina.
"Udah.. Merry bilang akan menemuinya sekarang"
"Begitu yaa.. baiklah ayoo kita tidur lagi"
Sesampainya Merry disana, ia melihat Lukina yang meringkuk sembari menangis dengan sangat menyedihkan, namun Lukina malah semakin ketakutan melihat Merry, dalam bayangannya Merry terlihat seperti pembunuh yang membunuh Ayahnya.
"Pembunuh.. pergi pergii.. menjauh dariku!!!" ucap Lukina histeris.
"Lukina, ini Merry managermu sadarlah yaa" ucap Merey menenangkan Lukina.
Lukina yang tetap merasa ketakutan dan histeris melihat Merry yang terus berusaha mendekatinya akhirnya pingsan dan tak sadarkan diri, Merry sangat panik dan khawatir kemudian tanpa berfikir panjang ia segera membawanya ke Rumah Sakit.
__ADS_1
bersambung