Mantan Aktrisku

Mantan Aktrisku
Mengerti kamu


__ADS_3

Pagi itu Clara dan Kelvin bangun dari tidur mereka dan menemukan panggilan tak terjawab serta beberapa chat dari Merry tentang keadaan Lukina.


Mereka bergegas menghampirinya ke rumah sakit setelah mengantar Robin ke sekolah.


Diluar kamar pasien Merry yang seorang diri terduduk lesu dengan tangan yang menopang dagu, Clara dan Kelvin menghampirinya dengan membawa makanan dan keranjang buah buahan.


"Kak Merry" ucap Clara menyentuh pundak Merry.


"Clara sama Pak Ceo datang ya"


"Maaf ya, tadi malam kami nggak denger Kak Merry telefon"


"Ahh nggak papa"


"Sekarang gimana keadaannya?"


"Dia sudah siuman tadi pagi, tapi dia menolak ditemani, jadi aku tunggu diluar, mungkin sekarang sedang tidur"


"Kenapa bisa pingsan?" tanya Kelvin.


"Kata Dokter ia telah lama menderita trauma yang mendalam, jika bukan orang yang diterima dan dipercayainya yang menenangkannya saat kambuh dia akan jadi semakin terguncang"


"Maaf.." ucap Clara merasa bersalah.


"Nggak papa, ini bukan salahmu" ucap Kelvin.


"Gimana ink bukan salahku? Jika saja aku membiarkanmu menemuinya, keadaannya tak akan menjadi seperti ini"


"Sudahlah.. aku sendiri yang tak ingin menemuinya saat itu, pokoknya jangan merasa bersalah, heeh??"


"Benar Clara, Lukina bukan tanggung jawabmu, terserah kamu mau mengijinkan Pak Kelvin datang kepadanya atau tidak, jika aku jadi kamu pun aku tak mengijinkan calon suamiku menemui wanita lain yang jelas jelas menyukainya" Ucap Merry.


"Ternyata benar dugaanku dia sangat menyukai Kak Kelvin"


"Maaf, aku tak memberitahumu lebih awal" ucap Kelvin menyesal.


"Tak usak minta maaf, aku tahu atau tidak tak akan ada yang berubah kan?"


"Aku akan menemuinya"ucap Clara.


"Baiklah"


"Kleekkk" Clara membuka pintu rawat pasien.


"Kenapa kau datang kesini? Sepertinya kita tak cukup dekat" ucap Lukina yang berbaring di tempat tidur.


"Aku datang kesini karena Kak Merry ada disini, dan sekalian ingin melihatmu"


"Sekarang sudah lihat kan, pergilah"


"Apa kau sangat menyukai Kak Kelvin?"


"Menurutmu begitu ya??"


"Jawab sajalah!!"

__ADS_1


"Benar aku sangat mencintainya lebih dari kamu mencintainya"


"Apa kamu yakin? Itu cinta bukan obsesi?"


"Jika aku menjawab pertanyaanmu apa kau akan memberikan Kelvin kepadaku?"


"Tentu saja tidak!!"


"Berikanlah dia kepadaku, dan kau bisa meminta apapun kepadaku!!"


"Apa kau bilang?? Kau keterlaluan apa kau kira Kelvin itu barang? Aku tahu kau menderita tapi bukan begini caranya"


Clara terus menerus memberikan nasihat kepada Lukina agar ia menyadari jika cinta itu tak bisa dipaksakan, ia pun mengeluarkan semua yang ada di hatinya kepada Lukina.


Lukina merasa marah dan tak terima kepada Clara yang terus mencoba membujuknya.


"Cukuuupppp!!!" Teriak Lukina histeris.


"Pergiii!!! Pergiii!!!"


Suara Lukina yang histeris terdengar sampai keluar, kemudian Merry dan Kelvin segera masuk ke ruangan karena panik. Mereka melihat Lukina yang menangis dan histeris.


"Ada apa??" ucap Kelvin khawatir.


"Dia!! Pergiiii!!! Pergi kamu pergii!!!"


Lukina menunjuk nunjuk Clara sembari histeris, Clara hanya diam dan tak melawan, kemudian Merry membawanya keluar.


"Pergiii!! Aku nggak mau melihatnya lagii!!! pergi!!"


"Pak Kelvin, tolong tinggalkan saja Clara Chan yaa, kamu harus selalu disisiku yaa hiks hiks hiks" ucap Lukina sembari memeluk erat Kelvin.


Kelvin hanya diam, ia pasrah dipeluk oleh Lukina yang jiwanya sedang terguncang, ia merasa bingung dengan keadaan saat ini.


Clara yang melihat dari celah kaca pintu Lukina memeluk Kelvin dengan eratnya pun hanya bisa bersabar dan menghela nafas.


"Clara.. kamu nggak papa? Sudah cukup jangan dilihat lagi" ucap Merry menenangkan Clara yang tampak murung.


"Aku ingin menghirup udara segar, akan keluar Kak disini terasa sangat sesak"


"Baiklah, ayo kita ke taman rumah sakit"


Clara dan Merry berjalan tanpa bicara sepatah kata pun, sesekali Merry menoleh kearah Clara, Merry merasa bersalah karena ia yang telah menceritakan tentangnya kepada Lukina yang jelas jelas memiliki niat tak baik.


"Ayo kita duduk disana" ucap Merry menarik tangan Clara.


"Clara, aku minta maaf gara gara aku cerita tentang hubunganmu dan Pak Kelvin Lukina semakin menjadi jadi, kamu tahu kan aku sama sekali nggak ada maksud buruk, aku hanya ingin menyadarkan Lukina dengan menceritakan kesulitan kalian selama ini agar dia berhenti mengganggu kalian, tapi gara gara aku lagi lagi kamu yang paling tersakiti..maafkan aku" ucap Merry sedih.


"Aku nggak pernah nyalahin Kakak, aku tahu maksud Kakak baik, aku mengerti semuanya, aku juga mengerti keadaan Lukina yang menderita, karena aku mengerti.. aku menjadi semakin marah, haruskah aku membiarkan Lukina memiliki Kelvin? Tapi bagaimana dengan Robin yang ingin memiliki Ayahnya? Aku harus bagaimana Kak? Tolong beri tahu aku hiks hiks hiks"


"Sabar, semuanya akan baik baik saja jika Lukina segera membaik, Dokter bilang sementara ini biarkan Pak Kelvin menemaninya, selama itu apa kamu bisa bersabar? Kalau itu terlalu sulit ayo kita masukkan dia dirumah sakit jiwa yaaahhh"


"Ppfftttt.. hahahaha tega banget Kak Merry, dia nggak separah itu kan!!"


"Hehehe.. asal itu kemauan kamu, aku akan berusaha memasukannya ke RSJ!!"

__ADS_1


"Ada ada saja Kak Merry"


"Syukurlah, kamu tampak lebih baik sekarang.. aku tak tahu harus bagaimana supaya kamu terhibur"


"Makasih ya Kak, kamu selalu baik kepadaku"


"Kamu kan adikku"


"Terimakasih"


Sementara Kelvin yang merasa terjebak oleh keadaan dengan berat hati mengikuti saran dari Dokter agar Lukina segera sembuh. Ia dapat melepaskan diri setelah Lukina tertidur. ''Kenapa aku harus melakukan ini sihh!!" gumam Kelvin.


Kelvin merasa sangat marah dengan keadaan yang selalu memaksanya jauh dari Clara, ia ingin melarikan diri namun ia merasa semua pintu telah tertutup bagi dirinya dengan artian ia harus menerima keadaan dengan alasan kemanusiaan.


Setelah terlepas dari pelukan Lukina Kelvin bergegas menemui Clara dirumahnya, sesampainya dirumah ia disambut pelukan hangat dari Putranya, Robin.. Kelvin merasa sedih dan bersalah karena ia merasa belum mampu menjadi Ayah yang baik untuk Robin, tanpa sadar Kelvin meneteskan air matanya dipelukan Robin.


"Ayahh, aku kangen meskipun tadi pagi kita juga udah ketemu"


"Ayah juga kangen Robin" ucap Kelvin sesenggukan.


"Kok Ayah nangis? Robin nggak nakal kok"


"Robin anak baik nggak mungkin nakal kan, Ayah tadi kelilipan" Ucap Kelvin membasuh air matanya.


"Sini Robin tiupin" ucap Robin sembari meniup niup mata Kelvin yang berair.


"Udah.. Makasih ya sayang, Ibu dimana?"


"Dikamar yah"


"Yaudah, Robin main lagi aja di kamar yaa"


"Iyaa"


"Tok tok tok, Sayang"ucap Kelvin sembari mengetuk pintu kamar.


"Ceklek !!" Clara membukakan pintu.


Melihat Clara yang tampak murung Kelvin memeluknya..


"Sayang, maafin aku yah"


"Untuk apa?"


"Untuk semua yang terjadi hari ini, maaf telah membuatmu banyak menderita"


"Berhenti meminta maaf" Ucap Clara menatap mata dan memegang pipi Kelvin dengan kedua tangannya.


"Tetap saja aku harus meminta maaf atas semua yang terjadi"


"Aku mengerti, cukup jangan bicara lagi!"


Mendengar Clara berkata seperti itu Kelvin semakin merasa bersalah, ia segera memeluk erat Clara dengan kedua tangannya, menenangkan hatinya yang sedah gundah, mereka saling memberi pelukan untuk menguatkan satu sama lain.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2