
Malam gemerlap dipenuhi lampu warna warni yang bercahaya redup, suara musik kencang megisi seluruh ruangan dan sebotol minuman yang menemani pria malang yang sedang merasa kesepian dengan keinginan melupakan kesadarannya, namun semakin ia ingin menghindar semakin jelas juga gambaran orang yang ingin dilupakannya.
Bagi Kelvin, Clara adalah satu satunya orang yang pling berharga dikehidupannya yang suram, satu satunya warna dan kepercayaannya, namun apalagi yang bisa ia lakukan jika wanita yang dicintainya lebih bahagia jika meninggalkannya, begitulah pikirnya.
Seorang pemuda berbadan kekar berrambut plontos berkumis tipis yang sedang mabuk menabrak Kelvin yang sedang duduk menyendiri hingga menumpahkan seluruh minumannya di badan Kelvin, Kelvin yang sedang menahan amarah karena masalah lain akhirrnya melampiaskan emosinya kepada pria mabuk itu, terjadilah perkelahian yang tak bisa dihindari tapi nahasnya pemuda mabuk itu tidak sendiri, teman temannya ikut berkelahi melawan Kelvin yang seorang diri hingga Kelvin mendapat cidera yang cukup serius sampai pada akhirnya petugas keamanan datang melerai mereka dan kemudian ambulans datang membawa Kelvin ke sebuah rumah sakit terdekat.
Tak lama kemudian sebuah artikel dirilis dengan judul" CEO MD Entertainment membuat keributan disebuah bar dan mendapat luka yang cukup serius".
Marlyn Li bergegas mengunjungi Kelvin dirumah sakit, namum kedatangannya hanya memperkeruh suasana saja.
"Apa yang kau lakukan sebagai pimpinan perusaah Kelvin Han? Bisa bisanya kamu melakukan hal memalukan gini, mencoreng nama baik perusahaan.. apa kamu pikir kamu masih ABG??!! " tanya Marlyn sedikit emosi.
"Anak ibu sedang sekarat tapi yang ibu kawatirkan perusahaan?".
"Hahhh.. maaf ibu kepikiran perusahaan yang sudah susah payah ku urus menjadi tercoreng.. ini memalukan Kelvin, ada apa sampe kamu dateng ke bar sih?".
"Udahlah Ibu pulang aja, aku mau istirahat.. Ibu terlalu berisik".
"Hahhh bisa bisanya kamu sekarang mengusirku.. Ibu nggak mau kejadian kaya gini sampe terulang lagi, inget yaah" ucap Marlyn seraya melangkahkan kaki keluar meninggalkan kamar pasien.
"Tok tok tok" suara orang mengetuk kamar pasien.
"Boleh aku masuk" ucapnya sambil membuka sedikit pintu.
"Kau kesini? masuklah" ucap kelvin sedikit kaget.
"Apa kau baik baik saja?.
"Seperti yang kamu lihat aku baik baik saja".
"Baiklah.. makanlah ini, aku pamit pulang" ucap Clara sembari menaruh keranjang buah buahan yang ia bawa.
"Apa kau menghawatirkanku? Kau sampe repot repot datang kesini mengunjungiku?.
__ADS_1
"Aku hanya.." ucap Clara terhenti karena ragu ragu.
"Hanya??".
"Apa yang ingin kau dengar dariku?".
"Aku ingin dengar semuanya yang terjadi, siapa anak kecil dan pria yang kemarin bersamamu, kenapa kau meninggalkanku tanpa sepatah kata pun, apa kau bahagia.. katakanlah semuanya.
"....Dia anakku, anak kandungku."
"Sudahlah.. tak perlu dijelaskan aku sudah mengerti," ucap Kelvin menghentikan Clara meneruskan perkataannya.
"Apa maksudmu? Kau bilang ingin mendengar semuanya" ucap Clara dengan suara mengeras.
"Aku ingin mendengar.. sekaligus nggak mau dengar" ucap Kelvin dengan nada frustasi.
"Baiklah kalo kau nggak mau dengar, aku pergi."
"Jangan pergi Clara" ucap Kelvin menarik tangan Clara yang hendak meninggalkannya.
"Jangan tinggalin aku lagi Clara, aku nggak tau lagi harus gimana kalo kau meninggalkanku lagi" ucap Kelvin sedih.
"Aku nggak akan kemana mana, kamu bisa hubungi aku kapanpun kamu mau.. tapi sekarang sudah larut aku harus pulang."
"Baik pulanglah, datanglah lagi besok bawa saja anakmu jika suamimu mengizinkan" ucap Kelvin sembari melepaskan genggaman tangannya dari tangan Clara.
"Suami? ... " ucap clara terheran heran.
"Sudahlah, pulang saja sana aku gak mau bahas suamimu " ucap Kelvin ketus.
"Baiklah aku pulang, cepet sembuh yaa" ucap Clara kemudian lekas meninggalkan kamar rawat.
Clara pulang dengan menaiki busway, sepanjang perjalanan ia terus memikirkan Kelvin, pegangan tangannya yang hangat masih terasa seperti dulu, pikirnya.. tanpa sengaja kebetulan tadi ia mendengar percakapannya dengan Marlyn dari belakang pintu "Ya ampun dia pikir Richard Suamiku dan Ayah Anaku yaa.. aku pikir dia sudah melupakanku, hidup bahagia dan menikmati kesuksesannya tapi dia masih saja kesepian, hubungan dengan Ibunya masih seperti dulu.. aku merasa bersalah telah meninggalkanmu, tapi ekspresimu cemburumu tadi sangat menggemaskan, sampe sampe aku hampir ketawa" gumam Clara dalam benaknya sambil tersenyum memikirkan ekspresi lucu Kelvin.
__ADS_1
"Apa yang sudah kulakukan kepada wanita yang sudah bersuami dan punya anak, aku nggak ragu ragu menggenggam tangan dan hampir memeluknya.. asal itu Clara sepertinya aku sanggup dijadikan simpanannya dan menerima semuanya, astaga apa yang kukatakan barusan.. aku yakin aku sudah gila, sepertinya Clara juga masih peduli padaku.. apa mungkin dia masih mencintaiku? Aku yakin dia nggak mencintai suaminya pasti mereka menikah karena sudah ada anak. Aku pastikan akan merebut kembali Clara cepat atau lambat kau akan kembali menjadi milikku Clara.. dengan berpikir seperti ini aku merasa mendapat kembali energi yang hilang selama ini" gumam gumam Kelvin seraya tersenyum semangat.
"Aku pulang" ucap Clara setelah membuka pintu memasuki rumah.
"Ssstttt.. Robin baru tidur setelah aku bacakan buku cerita" Ucap richard berbisik.
"Aku juga harus pulang ini sudah larut."
"Makasih yaa kamu udah mau jagain Robin, padahal tadi kamu baru datang langsung kutinggal."
"Nggak papa.. nggak usah sungkan kita kan teman, kalo kamu ada keperluan kamu bisa titipin Robin ke cafe."
"Oke.. baiklah makasih yaa, hati hati bawa mobilnya."
"Richard kamu pria yang baik, aku beruntung bisa ketemu lagi sama kamu.. wanita yang akan jadi istrinya pasti akan sangat bahagia, tapi dengan penampilan dan sifatnya bagaimana bisa dia masih saja melajang " gumam Clara.
Sesampainya dirumah Richrd memarkirkan mobilnya kemudian bergegas hendak masuk ke rumah.. siapa sangka ada seorang pria paruh baya dengan mengenakan setelan jas hitam bermerk yang sedang berdiri tegak memandang lurus ke arah pintu rumahnya, Richard tak mengenalinya dan menganggapnya hanya orang yang sekedar lewat saja tapi pria tua itu memanggil namanya.
"Richard" ucap Pria tua itu dengan nada bergetar.
"Iya.. anda mengenali saya? Anda siapa? "
"Sudah lama yaa.. kau semakin tinggi dan tampan, maafkan aku baru sekarang aku menemuimu Anakku "
"Kau.. maaf aku tidak mengenal anda, silakkan pergi dari sini."
"Richard.. aku tau kau tak melupakanku, tolong maafkan Ayahmu ini.. kini Ayah hidup dengan nyaman, Ayah ingin membawamu. Kita tinggalah bersama lagii yaa" ucap lelaki tua itu dengan perasaan bersalah.
"Kenapa kau baru datang sekarang? Apa kau masih peduli padaku? Apa ku berharap aku memaafkan kesalahanmu yang telah membuangku?."
"Maafkan ayah, Ayah ingin menemuimu sedari awal tapi ayah belum berhasil pada akhirnya ayah bertemu dengan seorang Wanita kaya, dia wanita yang baik..dia tidak punya anak makanya dia mau menjadikan anaku sebagai pewarisnya, tolong jangan menolaknya yaa.
"Aku tidak tertarik menjadi pewaris dari Istri ayah, aku cukup puas dengan kehidupanku sekarang.. pergilah.. aku lelah " ucap richard mengakhiri percakapan dan bergegas masuk ke rumah.
__ADS_1
"Hubungi Ayah di 'Irene Boutique' kalo kau berubah pikiran " teriak pria tua itu.
bersambung