Mantan Aktrisku

Mantan Aktrisku
Karena wanita ingin dimengerti


__ADS_3

Sejak Richard mengerti apa arti penting dalam pendekatan ia memulai misi romantisnya itu dimulai dengan datang di pagi hari untuk mengantarkan Selena berangkat kuliah pagi, ia membawakan sepotong cake strawberry kesukaan Selena dan tak lupa ia mampir di toko bunga untuk membeli bunga mawar merah segar sebagai hadiah pertama yang ia berikan kepada Selena.


"Selamat Pagi Kak Richard!!!" ucap Selena tersenyum cerah menghampiri Richard yang didalam mobil.


"Pagi Selena, masuklah" Richard keluar membukakan pintu untuk Selena.


(Wahh.. Kak Richard memperlakukanku seperti seorang putri, aku senang banget gilaaaa!!) ucap Selena dalam hati sembari tersenyum lebar.


(Aku harus apa lagi yaa?? Pikir Richard pikir!!! Ahh basa basiii) pikir Richard.


"Ini hadiah pertama dariku" Richard memberikan buket bunga mawar.


"Wahhh, terimakasih sebenernya Kakak nggak perlu repot repot begini loh, harum Kak aku suka" Selena mencium bunga itu sembari tersenyum berbunga bunga.


"Syukurlah kalo kamu suka, udah makan belum?"


"Belum.. tapi aku lagi males sarapan"


"Makan ini mau yah, lumayan buat isi perut biar nggak kelaperan saat ujian" ucap Richard mengeluarkan cake dari kotaknya"


"Wahhh, cake strawberry kesukaanku, makasih banget ya Kak!! Cupp" Selena yang kegirangan refleks mencium pipi Richard.


Sesaat ia membeku karena pipinya tiba tiba dicium, seketika pipinya pun merah dan panas.


"Lhoo Kak Richard kenapa? Sakit ya?"


"A a aku ng nggak papa kok" ucap Richard tergagap gagap.


"Tapi pipi Kakak merah banget kaya demam tahu, sini.. wah dahi kakak panas banget, haruanya kalo sakit nggak usah jemput aku nggk papa" Selena mendekat memegang dahi Richard dan menyamakan dengan dahinya.


"Cukup, aku nggak papa (aku takut kamu dengar suara detak jantuku yang seperti suara kaki kuda berlari)" menepis keras tangan Selena.


"Ahh maaf membuatmu tak nyaman padahal kita belum resmi pacaran, wajar saja kamu menepis tanganku" ucap Selena kecewa.


"Bukan begitu.."


"Sudahlah, aku bisa telat kalo Kakak nggak jalan sekarang"


"Oiyaa maaf"


Disepanjang perjalanan menuju kampus Selena hanya diam, Richard pun tak berani mengatakan sepatah katapun karena khawatir dia akan lebih marah, dengan rasa khawatir Richard hanya meliriknya sesekali sembari menyetir.


Hingga sampai dikampus Richard masih saja tak bisa membuka mulutnya, karena Selena tak memberi kesempatan kepadanya.


"Sudah sampai" Ucap Richard canggung.


"Tak perlu turun, aku pergi sekarang terimakasih untuk tumpangannya"


"Selena!! Tunggu!!"


Richard mencoba menghentikan langkah Selena namun ia tak menghiraukannya.


Selena pun meninggalkan Cake dan buket bunga yang diberikan didalam mobil.


Richard merasa kecewa pada dirinya sendiri yang tak bisa mengontrol sikapnya sehingga mengacaukan semua hal yang telah ia sendiri persiapkan.


"Aku bodoh! Aku sangat bodoh! hahh!" gumam Richard membentur benturkan kepalanya di atas stir mobil.

__ADS_1


***


Dikediaman Clara pagi hari di meja makan.


"Robin, makan yang benar terus pergi ke sekolah, biar Ayah yang antar"


"Sama ibu juga kan?"


"Ibu ada pekerjaan, maaf ya sayang, nggak papa kan Ayahnya Robin?" ucap Clara tersenyum kaku.


"Iya, kamu tenang saja Ibunya Robin!" ucap Kelvin tersenyum.


"Cih"


Selesai makan


"Hati hati dijalan yang Sayang, sekolah yang rajin" ucap Clara mengecup kening Robin.


"Ibu.. kok cuma cium Robin? Ayah juga dong biar semangat kerjanya"


"Itu benar Clara" ucap Kelvin tersenyum.


"Cup, pergilah hati hati dijalan" Clara mengecup pipi Kelvin dengan kilat.


"Brakkk" suara pintu dibanting.


"Ayah sama ibu lagi marahan ya?" ucap Robin usai masuk mobil.


"Nggak kok sayang"


Sejatinya Kelvin menyadari perasaan anak anak jauh lebih peka jika terkait keharmonisan orang tuanya, Kelvin memutuskan akan segera berusaha untuk mengakhiri kesalahpahaman Clara terhadapnya sebelum Robin semakin kepikiran.


Kelvin mencari Clara di kamarnya namun ia malah mendengar suara air gemercik dari kamar mandi Clara menandakan ia tengah mandi, Kelvin keluar dan menunggunya di ruang tengah.


Tap tap tap.. suara langkah kaki Clara berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum dalam kulkas dengan memakai baju mandi dan handuk dirambutnya.


"Sudah selesai mandi?" ucap Kelvin yang tiba tiba muncul dari belakang.


"Kyaa!!! Uhuk uhuk!!!" Clara kaget hingga tersedak hingga menumpahkan air minumnya.


"Uhuk uhuk"


"Ini minumlah perlahan" Kelvin memberikan minuman baru.


"Woiii ngagetin !!! Ngapain balik lagi"


"Udah ditolongin masih saja marah marah"


"Kalo kamu nggak ngagetin aku juga nggak butuh pertolongan!!!" ucap Clara teriak.


"Ayo bicara sebentar"


"Malesss!!! Aaahhhhh!!!" Clara terpeleset air minum yang tumpah saat hendak melewati Kelvin.


"Makanya, jangan galak galak kan jadi kena batunya" ucap Kelvin mendekatkan wajahnya ke wajah Clara setelah menangkap Clara dengan memegangi pinggangnya.


"Lepas! ayo bicara sesuai keinginanmu setelah aku memakai baju" Clara melepaskan diri.

__ADS_1


"Begini juga enak dilihat kok" Ucap Kelvin menggoda Clara.


"Dasarr mesum!!!!" teriak Clara sembari berlari ke kamarnya.


Lima menit kemudian setelah Clara kembali menghampiri Kelvin di ruang tengah.


"Duduklah" ucap Kelvin lembut.


"Aku minta maaf soal kemarin dirumah Lukina dan tentang aku yang membentakmu"


"Kenapa kau selalu lebih membelanya daripada aku?"


"Itu karena dia sedang sakit, semua perkataannya didepan media ia lakukan saat ia sedang tak stabil"


"Didepanku saat itu dia seolah mengakui bahwa ia sengaja mengatakan hal itu tuh!! Aku yakin dia hanya pura pura sakit untuk mendapatkan perhatianmu saja!!"


"Claraa.. bagaimana bisa ia pura pura sakit saat aku sendiri sering lihat dia sakit karena traumanya"


"Jadi percuma kan kalo kita bicara sebelum aku memiliki bukti dia pembohong?"


"Bukan begitu, tapi kan kita sudah sepakat sebelumnya, akan membantu Lukina hingga membaik sebelum kita menikah"


"Aku bilang seperti itu karena aku pikir dia benar sakit"


"Baiklah, jika begini tetus tak akan ada habisnya perdebatan kita.. cobalah berfikir dengan tenang Clara"


"Kamu yang coba buka mata kamu baik baik agar bisa membedakan mana yang benar dan salah"


"Clara.. aku kembali kesini karena ingin berdamai denganmu, apa kamu tahu Robin merasakan perang dingin kita dalam waktu sesingkat ini? Tolong pikirkan perasaan Robin, tak baik seorang anak terlalu lama ikut merasakan pertengkaran orang tuanya"


"Robin? Apa dia mengatakan sesuatu kepadamu?"


"Benar, begitu masuk mobil ia menanyakan apa ayah dan ibu sedang bertengkar katanya"


"Robin?? Anak sekecil itu kenapa sangat peka?" ucap Clara sedih.


"Jadi ayo kita berbaikan yah" ucap Kelvin memegang kedua pundak Clara dengan berhadapan.


"Baiklah, ayo berbaikan tapi jangan kamu kira pikiranku tentang Lukina berubah!!" tegas Clara.


"Baiklah, terserah kamu mau berfikir apa tentang dia, aku juga akan lebih memperhatikannya apakah kecurigaanmu benar atau salah padanya"


"Benarkah?? Kamu akan melakukan itu?"


"Tentu saja jika kamu seyakin itu tak ada salahnya kita lebih berhati hati"


"Jadi kamu mempercayaiku kan?"


"Emmm.. sedikit??"


"Apaa?? Kenapa cuma sedikit ih" ucap Clara sembari memukul mukul pelan dada Kelvin.


"Yang terpenting, kamu harus tahu jika aku selalu mencintai kamu lebih dari yang kamu tahu heem??" ucap Kelvin memeluk mesra tubuh Clara.


"Kau harus berangkat kerja sekarang!!"


"Cium dulu yaa hehehe"

__ADS_1


bersambung


__ADS_2