
"Aku lelah!!" gumam Selena keluar dari kampusnya.
"Ahh.. ternyata dia datang lagi? Ini cukup mengesankan padahal biasanya kalo aku marah dia malah menghindar, apa dia seserius itu?" gumam Selena yang tiba tiba bersembunyi dibalik dinding setelah melihat Richard didepan kampus.
Selena terus berjalan dengan berpura pura tak melihat Richard yang berada di depan gerbang, ia berpura pura asyik berjalan sembaribmemainkan ponselnya.
"Selena!!" panggil Richard.
"Iya, Kakak datang menjemputku??" Selena menoleh sejenak kemudian melanjutkan bermain ponsel selagi berbicara.
"Iya, tentu saja aku harus menjemputmu, masuklah" ucap Richard sembari membukakan pintu.
(Wahh, dia percaya diri) Pikir Selena ssembari masuk ke mobil.
"Sudah makan?"
"Belum sempet" ucap Selena cuek.
Selama perjalanam mereka hanya diam karena Selena tak begitu merespon apapun yang Richard katakan, sampai Richard menghentikan mobilnya di depan sebuah Restaurant barat.
"Kenapa berhenti disini?"
"Katanya kamu belum makan kebetulan aku juga lapar, ayo masuk"
"Kok nggak nanya aku dulu pengen makan apa sih?"
"Emangnya kalo aku nany kamu nggak bakal jawab terserah??"
"Emm???"
"Kalo ada yang kamu ingin makan kita bisa pindah"
"Nggak usah udah terlanjur masuk, nggak enak kalo langsung pergi lagi (kok pas banget dengan makanan kesukaanku masakan barat?? Kebetulan kan pasti??)"
"Baiklah (sebelumnya udah nany ke Edwin makanan favorit Selena hehe)"
Richard memanggil pelayan untuk memesan makanan.
"Selena mau makan apa?" tanya Richard.
"Emm... aku mau spaghetti bolougnese, pizza pepperoni, steak sama orange juice" ucap Selena kepada pelayan yang mencatat pesanan.
"Saya chicken cordon bleu sama jus jeruk, udah itu saja terimakasih"
"Baik Bapak Ibu ditunggu ya" ucap pelayan wanita.
Setelah memesan makanan, mereka hanya duduk diam dan saling fokus dengan ponsel masing masing.
__ADS_1
Selena makan dengan lahap semua makanan yang ia pesan sendiri, hingga tak sadar dengan Richard yang terus memandanginya sembari tersenyum.
"Ahh, kenyangnya hooogg!! Ehh.." Selena bersendawa namun setelah sadar ia sedang makan bersama Richard ia sangat malu karena bersendawa dengan suara keras.
"Enak ya makannya? Syukurlah kamu suka"
"Itu karena aku kelaparan, ayo pulang"
"Kamu masih marah ya soal tadi pagi?"
"Kenapa aku harus marah karena masalah yang sepele?"
"Tapi kamu kelihatannya marah banget tuh"
"Kalo udah tahu kenapa nanya? Nggak masalah kalo Kakak belum sepenuhnya melepaskan Kak Clara jadi nggak perlu terburu buru aku juga nggak maksain, cuma bikin kesel kalo belum tulus"
"Ehh?? Kenapa kamu mikir begitu sih? Maaf yaa sebenernya itu aku menepis tangan kamu bukan karena nggak suka.." ucap Richard canggung.
"Terus kenapa? Kalo suka harusnya merespon dong bukan malah menolak!!"
"Itu.. sebenarnyaa... aku sangat kaget dan malu jantungku berdebar debar rasanya sangat panas sampe ke ubun ubun karena tiba tiba kamu cium pipi sama pegang dahiku dengan jarak yang sangat dekat" ucap Richard malu.
"(Jadi ternyata begitu? Aku salah paham yaa?? Duhh malunya tapi dia imut banget saat pipinya merona) buahahahahahaaa" tiba tiba tertawa keras setelah berfikir.
Richard terdiam meliat Selena yang tiba tiba tertawa lepas hingga matanya berair.
"Masih belum puas tertawanya?"
"Ah.. hahahah.. maaf maaf hahaha jadi begitu, Kakak lucu banget ekspresinya pas ngomong tadi hihihihi"
"Yaudah ketawa aja terus, asal kamu seneng aja"
Selena yang melihat Richard sedikit cemberut akhirnya menutup mulutnya rapat rapat.
"Udah, aku juga mau minta maaf sama Kakak udah marah marah nggak jelas, aku janji nggak akan ambekan lagi kedepannya"
"Benar yah, ayo kunci janjinya" Richard menyodorkan jari kelingkingnya.
"Wah, aku nggak nyangka Kakak kekanak kanakan banget yaa" Selena meledek tapi tetap mengaitkan jarinya.
Setelah itu Richard menggenggam tangan Selena dengan penuh kasih sayang di atas meja, mereka berdua saling menebar senyuman untuk satu sama lain.
***
Dikantor Kelvin bekerja seperti biasa hanya saja ia sedikit lebih sibuk dari biasanya karena telah beberapa hari kerepotan membagi waktu sejak mengurus Lukina.
Tiba tiba saja Lukina datang ke kantor dengan membawa sebuah kotak makan, para staff berbisik bisik saat Lmukina melewati mereka, "Benarkah hubungannya dengan Pak Ceo seperti yang di beritakan? Entah sepertinya mereka tak terlihat memiliki hubungan yang seperti itu! Aku pikir Pak Kelvin memiliki hubungan dengan Clara Chan? iya aku dulu melihatnya setia mendampingi selagi pemakaman ibunya!! Pasti dia mengada ada kan? Jelas dia memiliki perasaan khusus kepada Pak Kelvin" Begitulah para staff membicarakan Lukina dengan berbisik bisik.
__ADS_1
Lukina tak memperdulikan tanggapan orang orang tentang dirinya, ia hanya tersenyum dengan percaya diri melewati orang orang yang berbisik bisik didepannya, yang terpenting baginya kini adalah membuat Kelvin berpaling dari Clara
dan memberikan hati kepadanya.
"Tok tok tok" Lukina mengetuk pintu ruangan Kelvin.
"Masuk!"
"Kelihatannya Anda sangat sibuk ya"
"Iya benar"
"Saya membawakan makan siang untuk anda"
"Apa kamu sudah merasa lebih baik?"
"Benar, berkat anda sepertinya saya akan bisa hidup normal kembali" ucap Lukina sembari membuka kotak makan untu diberikan kepada Kelvin.
"Baguslah, tapi saya sudah makan, saya juga membawa bekal makan siang"
"Apa calon istri anda yang membuatkan?" ucap Lukina tersenyum kecut.
"Benar, siapa lagi.. terimakasih ya sudah peduli kepadaku lain kali kau tak perlu repot repot melakukan itu, kau hanya perlu fokus pada kesehatanmu" ucap Kelvin yang tak melihat ke arah Lukina.
"Apa saya tak diijinkan melakukan ini?"
"Apa kau sangat ingin melakukan ini?"
"Saya ingin melakukan sesuatu yang bisa membuat perasaan saya membaik, saya merasa lebih baik jika saya memperhatikan anda!"
"Baiklah, sepertinya keadaanmu sudah sangat membaik, kamu sudah tak bermimpi buruk sampai ketakutan lagi kan? ayo cek up besok saya antar"
"Anda tak perlu repot repot, saya bisa sendiri, anda pasti sibuk"
"Tidak, saya sudah berjanji akan membantumu sampai sembuh, jadi aku ingin memastikan sendiri keadaanmu, saya memiliki teman seorang psikolog yang handal, kamu bisa mempercayainya"
"Baiklah, terimakasih atas perhatian anda"
Di satu sisi Lukina sangat gembira karena Kelvin perhatian kepadanya namun ia merasa cemas jika Richard ingin memastikan sendiri keadaannya dengan dokter kenalannya karena saat ia pingsan pertama kali ia menyuruh seorang dokter mengatakan kebohongan tentang keadaan kesehatannya dengan memberikan sejumlah uang dan ia pun membohongi dokter tersebut dengan mengatakan ia akan terancam jika orang orang tahu dirinya sehat.
Awalnya Dokter tetap berkata tak bisa berbohong tetapi Lukina terus memaksanya sembari menangis dan memohon mohon, akhirnya Dokter tersebut mau menuruti keinginan Lukina dengan melebih lebihkan keadaan mental Lukina.
Sesampainya dirumah Lukina terus mencemaskan apa yang akan terjadi jika Kelvin mengetahui keadaanya yang sesungguhnya, ia terus berpikir sembari berjalan bolak balik karena semakin merasa panik, sampai akhirnya ia terpikirkan sebuah ide agar ia menghindari pertemuannya dengan Dokter tersebut.
"Iyaaa.. benar!! Semua masalah pasti ada solusinya" gumamm Lukina menyeringai.
bersambung
__ADS_1