
"Satu bulan telah berlalu.. aku memberanikan diriku untuk kembali kekota tempatmu berada, seperti apa yang kak fanny katakan semata mata hanya untuk mengharapkan masa depan robin yang lebih baik. Bisa dikatakan ini hanya sebuah alasan untuk pembenaran diri sendiri, anehnya begitu tiba dikota ini aku merasa lega.. perasaan macam apa ini.. apa aku sungguh merindukanmu? tentu saja aku selalu merindukanmu".
Begitulah perasaan Clara ketika sampai dikota tempatnya tumbuh dewasa dengan segala kenangan kenangan yang telah berlalu.
Betapa terkejutnya Clara ketika ada yang memanggil dan mengenalinya di terminal, ternyata ia bertemu dengan kawan semasa kecilnya di panti asuhan, namanya Richard.
"Benerkan kamu Clara? "
"Iya.. kamu?? ohh kamu Richard kan anak yang cengeng itu? hahaha haii lama gak jumpa yaa".
"Siapa yang kamu sebut cengeng? Itu dulu hehehe, gimana kabar kamu? Setelah kamu mundur dari entertainment aku gak pernah denger kabar kamu lagi.. padahal aku ini fans beratmu loh, hehee..ngomong ngomong anak manis ini siapa? ".
"Yang udah berlalu biarlah berlalu aku menikmati hidupku yang sekarang, kenalin ini anak aku namanya Robin, Robin cepat beri salam ke Om Richard".
"Haloo om, aku robin umur 5 tahun".
"Hai robin, kamu lucu banget sih, ngomong ngomong kalian cuma berdua? Ayahnya Robin mana? ".
"Ee.. Dia dikota ini tapi kami tidak menikah" jawab Clara sedikit murung.
"Om gak boleh nanyain Ayah.. Ibu jadi sedih tau" ucap Robin.
"Ohh maafin Om yaa.. Kamu anak baik Robin. Kamu gak papa Clara? " ucap Richard merasa bersalah.
"Aku gak papa kok, eh ngomong ngomong kamu disini mau kemana?".
"Aku abis jalan jalan aja.. nyari nyari rekomendasi menu baru buat cafe aku".
"Ahhh gitu.. gak nyangka yaa anak cengeng yang dulu itu sekarang udah jadi pria sukses yang keren, hehe ".
"Dibilang sukses yaa masih jauh dari kata sukses, tapi aku amat bersyukur bisa sampai tahap ini.. ayo kalian tinggal dimana biar aku antar".
"Gak usah gak usah, ngrepotin kamu".
__ADS_1
"Ayolah biar aku antar, kasian Robin udah kecapekan".
"Baiklah.. terima kasih ya, udah mau direpotin".
"Nggak ngrepotin sama sekali, ini gak seberapa dibanding kebaikan yang aku terima dari kamu waktu kita di panti asuhan".
Dulu kami melalui masa kanak kanak bersama di panti asuhan, kami sangat dekat layaknya saudara.. dia selalu bergantung kepadaku karena aku yang lebih lama berada di panti asuhan, waktu ia pertama kali datang aku sering melihat dia murung dan menangis, awalnya ia selalu sendirian dan menolak berbaur dengan anak anak yang lain, ia masih belum terima ayahnya menitipkannya di panti asuhan dengan alasan akan pergi merantau ke luar negri dan tak kunjung kembali menjemputnya sedangkan Ibunya menikah lagi usai bercerai dengan ayahnya tanpa membawa Richard.. Karena itulah anak itu selalu menyisihkan dirinya dari orang lain karena tak bisa mempercayai lagi.
Hari hari berlalu, aku yang telah lama memperhatikannya sedikit demi sedikit mulai mendekatinya.. awalnya dia selalu mengabaikanku sampai ketika ia berselisih dengan anak lain karena diejek sebagai anak kuper dan didorong oleh anak lain dari tangga tapi kemudian aku menangkapnya dan aku mengadukan anak anak yang nakal itu kepada pengurus panti dan akhirnya mereka mendapat teguran keras, dari situlah anak anak nakal itu akhirnya berhenti mengganggunya.
Sejak kejadian itu Richard sangat berterima kasih kepadaku dan perlahan lahan membuka diri kepadaku, kami cukup akrap karena usia kami sama hanya beda beberapa bulan saja. Kami menghabiskan waktu bermain bersama, bersekolah di sekolah yang sama,bercerita dan berbagi rahasia satu sama lain.
Kini Richard tumbuh menjadi pria menawan dan telah sukses menjalankan sebuah cafe di ibu kota dengan kerja kerasnya sendiri.
Akhirnya kami sampai di rumah yang telah lama kutinggalkan ini, kenangan kenangan bersama dulu masih sangat membekas. Disini aku dan kamu menghabiskan waktu bersama yang telah terasa singkat.
"Ini rumah siapa bu? " tanya Robin dengan polosnya.
"Ini rumah yang dulu ibu tinggali, nyaman kan.. ibu bersih bersih dulu yaa, robin istirahat aja "
"Baiklah.. kalo Robin lelah istirahat yaa".
"Oke ibu".
"Hmm rumah ini masih nyaman.. gimana kabar Kak Merry yaa, udah lama aku nggak denger kabarnya, aku kangen Kak Merry.. biar aku hubungin dia dulu deh, nomor yang dulu apa masih aktif coba deh".
Nggak lama setelah aku menghubunginya dia langsung datang ke rumahku.. aku dimarahi habis habisan karena menghilang tanpa kabar selama lebih dari lima tahun, waktu cepat berlalu ketika aku menceritakan semua hal yang terjadi kepadaku.
"Kak.. tolong jangan kasih tau siapapun aku disini yaah.. terutama ayahnya Robin".
"Kamu yakin nggak mau kasih tau robin ke Kelvin? Cepat atau lambat pasti dia bakal tau kan".
"Aku tau kak.. tapi biarlah itu dipikirin nanti, aku belum siap aja".
__ADS_1
"Yaudah terserah kamu aja kalo ada apa apa harus ngomong sama aku dulu yaa gak boleh ngilang lagi oke".
"Oke oke, gimana kabar aktris yang dimenegerin Kak Merry sekarang? apa dia berhasil dapetin semua yang dia pengenin? ".
"Ahh dia masih sama kaya dulu, rewel banyak maunya.. sampai sekarang dia masih ngejar ngejar Kelvin tapi kayaknya Kelvin masih nungguin kamu tuh soalnya nggak ada perkembangan sama Marisa".
"Aku nggak yakin dia masih nungguin aku kak, aku malah berharap dia bahagia sama wanita yang mencintainya seperti Marissa".
"Aku kurang tau juga yaa hubungan pribadi bos agency dan aktrisnya, tapi Marissa terang terangan menunjukan ke orang orang kalo mereka dekat".
"Setelah berbincang dengan kak merry perasaanku semakin kacau jika teringat Kelvin dan Marisa. Benar aku berharap mereka bisa hidup bahagia bersama tapi perasaan perih ini menggangguku".
Setelah pertemuan pertama kami setelah sekian lama Richard dan aku terus berkomunikasi, dia mengundangku datang ke cafenya untuk berbincang bicang lebih banyak lagi.
"triring tring tring" bunyi suara hp Clara
"Haloo iya Ry.. besok aku dateng ke cafe kamu yaa setelah aku ngurusin daftar sekolah Robin".
"Oke kutunggu yaa"jawab Richard semangat.
"Baik dulu maupun sekarang aku masih mengagumimu Clara, apa kau tau perasaanku ini.. aku ingin sekali membahagiakanmu berada disisimu selamanya..kuta bertemu lagi secara kebetulan, aku yakin ini takdir" gumam Richard tersenyum sumringah usai menutup panggilan telepone sembari memandangi bingkai foto masa kecil mereka di atas meja kamarnya.
"Ibu.. Om Richard sangat baik dan yang pasti dia tampan yaa" ucap Rbin di atas tempat tidur.
"Iya dia orang yang baik, dia teman kecil ibu".
"Kenapa Om Richard nggak jadi ayahku aja bu? ".
"Om Richard cuma temen ibu, Robin nggak boleh sembarangan ngomon lagi yaa.. ayoo Robin harus tidur besok mulai ke sekolah".
"Baik bu".
"Saatnya tiba kamu bakal ketemu Ayahmu sayang..bersabarlah, ibu menyayangimu" bisik Clara setelah Rbin memejamkan mata.
__ADS_1
bersambung