
Siang hari yang sangat terik saat Clara berlarian menuju halte pemberhentian busway dengan perasaan kacau dan khawatir menuju ke sekolah Robin karena gurunya mengabari Robin yang tiba tiba pingsan saat jam istirahat.
Sampainya ia disekolah Clara segera membawa Robin ke rumah sakit untuk diperiksa, Clara menunggu diluar ruang UGD sembari panik karena telephone Kelvin tak kunjung diangkat, akhirny ia memanggil Richard.
Kelvin yang sedang sibuk dikantornya karena kemunculan Lukina Joan dan wawancara perdananya yang cukup menjadi tranding topik dan kemunculan kemunculan rumor baru tentang kehidupan percintaan sang aktris yang tak henti hentinya hingga menimbulkan banyak wartawan dan netizen yang berspekulasi tentang hubungannya dengan Ceo dari Agency MD Entertainment yaitu Kelvin Han.
"Maafkan saya Pak Ceo, gara gara wawancara perdana saya kemarin jadi muncul berit berita yang kurang nyaman untuk bapak maafkan saya yang tidak berpikir panjang ini" ucap Lukina menunduk di ruangan Ceo.
"Hemm.. sudahlah ini sudah terjadi mau diapakan lagi yang paling penting sekarang kamu dan aku sebisa mungkin jangan muncul dulu di tempat publik."
"Terus kontrak iklan kosmetik yang kita tanda tangani kemarin gimana jika dibatalkan secara sepihak penaltinya nggak sedikit kan pak?" ucap Merry.
"Tentu saja pekerjaan tetap harus berjalan sebagai mana mestinya, hanya saja jika sudah selesai jangan berada diruang terbuka.. meski para fans dan wartawan akan berkumpul sementara kau hanya perlu tersenyum saja tanpa mengatakan apapun" ucap Kelvin.
"Bukannya jika seperti itu mereka akan menjadi lebih penasaran dan semakin menjadi jadi ?" ucap Merry.
"Sementara begitu saja dulu, selanjutnya kita pikirkan lain kali saja, saya mau menelephone dulu."
"Baiklah kami akan ke lokasi syuting sekarang" ucap Merry.
Dalam fikiran Merry merasa Lukina sengaja menciptakan suasana menjadi seperti ini karena ia telah mengamati dari sikapnya selama ini bahwa Lukina tak pernah merasa khawatir atau mencemaskan keadaan yang ia buat ketika pertamakali berkarir di Negara lain, ia bersikap tetap tenang dan ceria meski telah membuat kehebohan itu apalagi tatapannya saat Lukina bertemu Kelvin bukan tatapan orang yang pertama kali bertemu, tapi tetap saja Merry pikir itu hanya pikirannya belaka dan tak bisa berbuat apa apa.
Kelvin yang telah melihat ponselnya membaca chat dari Clara bahwa Robin ada di rumah sakit, tanpa berpikir panjang ia segera bergegas ke rumah sakit dengan mengendarai mobilnya yang melaju sangat cepat di jalanan yang ramai.
Tiba tiba Kelvin mengerem mobilnya secara mendadak hingga keningnya terbentur stir karena hampir saja ia menerobos lampu merah dan hampir menabrak ibu paruh baya penyeberang jalan, Kelvin segera turun dari mobilnya dan menghampiri Ibu itu..
"Maafkan saya Bu saya kurang fokus menyetir dan hampir menyebabkan kecelakaan, anda ada yang luka? jika ada silahkan ikut saya ke rumah sakit karena saya hendak ke sana" ucap Kelvin sambil menunduk.
"Saya tak apa apa tapi tolong lebih berhati hati lagi dalam kondisi apapun, kelihatannya anda sedang buru buru silahkan dilanjutkan kembali perjalanannya" ucap Ibu itu.
"Benar saya sedang terburu buru, sekali lagi saya minta maaf."
Setelah itu Kelvin segera melanjutkan perjalanannya ke rumah sakit dengan lebih berhati hati. Sesampainya ia di tempat parkir ia berlari ke arah ruang UGD namun menurut resepsionis Rumah Sakit Robin baru saja dipindahkan ke ruang rawat inap, dari depan pintu Kelvin melihat Clara yang sedang dipeluk Richard sementara Clara menangis sesegukan, melihat pemandangan itu Kelvin merasa marah dan tak berdaya namun ia tetap harus mengetahui keadaan Robin, setelah Richard melepaskan pelukannya Kelvin masuk ke ruangan rawat..
"Maaf aku terlambat, Bagaimana keadaan Robin?" ucap Kelvin yang murung.
"Robin pingsan karena demam tinggi tak ada yang serius kata Dokter" ucap Clara.
"Ahh begitu tapi kenapa kamu menangis seperti itu? Kamu menakutiku."
"Aku sedih karena belum bisa menjadi ibu yang baik, padahal tadi pagi Robin sudah kelihatan pucat tapi aku nggak peka karena Robin bilang nggak papa" ucap Clara sedih.
__ADS_1
"Ahh.. sudahlah yang penting Robin tak apa apa " ucap Kelvin.
"Karena Ayahnya Robin sudah datang, aku akan pulang sekarang, kabari aku jika terjadi sesuatu" ucap Richard.
"Oke.. makasih ya Ry kamu langsung datang begitu aku kasih tau."
"Aku akan antar Tuan Richard sampai depan pintu" ucap Kelvin.
"Ada apa?" tanya Richard setelah mereka keluar.
"Jangan suka peluk peluk istri orang sembarangan!!"
"Ahh.. jadi anda melihatnya yaa jangan salah paham saya hanya berusaha menenangkannya."
"Apa tidak bisa menenangkan cukup dengan kata kata?"
"Jadi anda menyalahkan saya ya?? Harusnya anda menyalahkan diri anda sendiri yang tak ada disaat Clara membutuhkan.. saya sudah pernah bilang kan jika ada celah bisa saja saya berjuang kembali."
"Hahh.. astaga bicara dengan anda membuat saya tambah emosi."
"Baiklah saya pergi sampai jumpa" ucap Richard sembari memperlihatkan senyuman liciknya.
(Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu Clara, aku hanya ingin dia memperlakukanmu dengan lebih baik lagi) ucapnya dalam hati.
"Yah.. begitulah (apanya yang akrap? huwekkk)."
"Aku banyak dengan rumor tentangmu belakangan ini."
"Jangan dipikirin yaa itu hanya sekedar rumor yang tak jelas."
"Aku percaya kamu, tapi apa kamu baik baik saja? Kamu pasti sibuk banget maaf karna aku memanggilmu kemari."
"Tentu saja kamu harus memanggilku karena ini menyangkut Putra kita, jangan pernah memanggil laki laki lain yang tak ada hubungannya dengan ini."
"Richard bukan orang lain dia keluargaku!"
"Apa dia juga sepertimu? menganggapmu keluarga?"
"Ten tentu sajalah."
"Ayah.. Ibu kenapa kalian bertengkar saat robin tidur?" ucap Robin yang terbangun.
__ADS_1
"Ahh maaf ya sayang tapi kami nggak lagi bertengkar kok cuma mengobrol saja" ucap Clara.
"Benar Robin.. maafkan Ayah Ibu yahh Robin jadi bangun gara gara berisik, apa Robin masih merasa kesakitan?" ucap Kelvin lembut.
"Robin cuma mengantuk yah."
"Yasudah sekarang Robin tidur lagi yah."
"Iya, Ayah Ibu jangan pergi ya kalo Robin tidur."
"Iya Sayang kamu tenang saja yaa" ucap Clara mengelus elus kening Robin.
Marissa datang ke mini market tempat Selena bekerja, semua orang disana berbisik bisik karena mengenali si mantan artis itu..
"Wah.. senang bertemu anda lagi nona marissa" ucap Selena yang sedang menerima pembayaran Marissa.
"Ahh iya tapi kelihatannya kamu nggak seseneng itu loh " ucap Marissa sembari membuka kacamata hitamnya.
"Itu sebenarnya benar untuk apa seorang Marissa Howie datang ke mini market kecil seperti ini?"
"Ahh aku hanya lewat karena ingin menemui Rychard tapi dia sedang tidak ada, jadi sekalian mampir kesini kan kita kan saling kenal."
"Aku nggak suka kamu sok kenal denganku!"
"Heii kamu sombong banget yaa, kenapa sih kamu nggak suka banget sama aku?"
"Karena anda suka menggoda kak Richard saya nggak suka !!"
"Kamu kan bukan pacarnya kenapa sewot kalo aku menemuinya saya lho teman dekatnya saat SMA (tapi bohong)"
"Aku tahu kamu cuma mau cari gara gara saja kan?"
"Itu tidak salah sih hahahaha, tapi saya hanya ingin berteman sama selena kok."
"Saya tidak mau."
"Jangan gitu dong, kita kan sama sama temannya Richard jadi juga harus berteman baik juga kan."
"Jika sudah selesai bicara pergilah, orang lain sedang mengantri membayar" ucap Selena menunjuk ke belakang Marissa.
"Ahh baiklah.. maafkan saya yaa" ucap Marissa pergi sembari menyapa pelanggan yang mengantri.
__ADS_1
"Hahaha.. menyenangkan banget kalo bisa menggoda anak itu setiap hari karena sekarang aku pengangguran jadi aku bakal sering sering menemuinya hihihi" gumam gumam marissa di depan mini market.
bersambung