
Richard telah memikirkan masak masak tentang hubungan selanjutnya dengan Selena, kini ia tak lagi ingin menghindarinya. Richard menunggu nunggu saat jam istirahat Selena untuk membicarakan kelanjutan hubungan mereka namun telah berlalu beberapa hari Selena tak lagi mencarinya di Cafe.
Setelah saat itu, dipagi hari yang cerah Selena kembali bersemangat untuk memulai harinya, selama beberapa hari ini ia menyibukkan dirinya dengan belajar dan bekerja, ia pun jarang mengecek ponselnya karena dengan begitu ia bisa mengalihkan pikirannya yang selalu tertuju pada Richard seorang.
Pikirnya, ia ingin menjauhi orang yang hanya bisa mempermainkan perasaannya saja dan tak ingin kembali goyah karenanya.
Tiba shift nya untuk bekerja di sore hari, selagi berjalan menuju mini market tempatnya bekerja yang tak jauh dari Universitasnya itu, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Richard di jalan penyeberangan selagi lampu merah, melihat satu sama lain mereka hanya berhenti sejenak saling memandang dengan tatapan tajam, saat Richard hendak mengajaknya bicara tanpa sadar lampu merah telah berganti menjadi lampu hijau, Klakson klakson pun langsung berbunyi..Selena yang menyadarinya menarik Richard kembali ke pinggigiran jalan dengan panik dan tergesa gesa.
"Mau mati yaaa!!!" teriak Selena.
"Aku belum mau mati" ucap Richard yang masih kaget karena ditarik.
"Hahhh.. yasudah kalo belum" Ucap selena segera mengalihkan pandangannya dan pergi.
"Tunggu!!!" ucap Richard memegangi tangan Selena.
"Lepas!! Aku harus kerja!!"
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Mau bicara apa bicara saja disini"
"Disini bnyak orang lalu lalang kurang nyaman, aku tadinya ingin ke Coffee shop diseberang.. ayo kita bicara disana"
"Ini sudah waktunya aku bekerja"
"Begitu yaa.. gimana kalo nanti malam setelah kamu pulang kerja?"
"Aku nggak harus mengikuti keinginanmu kan?"
"Ahh???"
Selena meninggalkan Richard dengan terburu buru.
Untuk pertama kalinya Richard menerima penolakan dari Selena, ia bertanya tanya dalam hati tentang perubahan Selena, Selena yang biasanya mencarinya setiap memiliki waktu luang, yang selalu tersenyum ceria setiap melihatnya tiba tiba saja menjadi dingin dan acuh tak acuh.
"Apa yang terjadi kenapa aku sangat gelisah dengan sikapnya yang berubah tak memedulikanku lagi?? Apakah karena ia tak ada niat untuk memberiku kesempatan kedua sehingga sikapnya seperti itu??" pikir Richard dalam hatinya.
Richard menunggu hingga Selena selesai bekerja sampai malam hari, ia menunggunya di Cafe miliknya yang sunyi, seorang diri menunggu dan terus menunggu hingga tak sengaja ia tertidur.
Selena yang sengaja menyelesaikan pekerjaannya lebih lambat dari biasanya berjalan pulang melewati R Cafe yang telah tutup namun pintunya terbuka, sesaat ia kembali goyah dan ingin menghampiri Richard yang sedang menunggunya tapi logikanya menolak. Ia meneruskah langkahnya yang sempat berhenti sejenak.
Waktu berlalu dengan cepat, seorang Petugas Keamanan komplek setempat berkeliling dan menemukan Cafe yang pintunya masih terbuka lebar, petugas itu kemudian masuk ke cafe dan menemukan pemiliknya yang tertidur di meja yang paling dekat dengan pintu.
"Permisi.. Pak Richard??" Ucap petugas keamanan membangunkan.
__ADS_1
"Ahh kau sudah datang" ucap Richard sembari membuka matanya.
"Ohh?? Ternyata Bapak petugas, saya pikir orang lain"
"Iya saya kemari karena ini sudah jam 12 malam tapi pintu cafe anda masih terbuka jadi saya mengeceknya, soalnya sekarang sedang rawan pencuri dimana mana"
"Ohh ini sudah jam 12 yahh bisa bisanya saya ketiduran, Terimakasih ya Pak telah mengingatkan, apa jadinya kalo Anda tak datang"
"Baiklah, sekarang saya akan lanjut berkeliling"
"Baik Pak, terimakasih sekali lagi!!"
Richard mengunci pintu kemudian pulang ke apartmennya.
Sampai di kamarnya ia berbaring sembari melihat ponselnya, melihat Chat dan panggilan yang Selena abaikan.
"Padahal aku tak apa apa jika kamu tak menyukaiku lagi.. tapi kenapa kamu tak mau bicara lagi denganku? Aku ingin bicara denganmu untuk meluruskan jika memang ada kesalahpahaman" gumm Richard.
Karena rindu yang telah menumpuk Kelvin memutuskan menemui Clara dan Robin di pada dini hari, karena kemungkinan di waktu itu tak ada lagi yang mengawasinya atau membuntutinya.
Dengan hati hati dan memastikan tak ada yang mengikutinya ia bergegas membuka pintu, Kelvin membuka pintu kamar Clara dengan perlahan agar tak membangunkan Clara yang tidur nyenyak.
Kelvin memandangi wajah Clara yang sedang tertidur pulas, sesekali ia mencium keningnya lalu ia kembali bangkit untuk pergi lagi setelah melihat Robin, namun tiba tiba Clara terbangun dan menarik tangannya saat kelvin membalikan badan.
"Ahh!!!! Kaget astaga.." ucap Kelvin yang terkejut.
"Aku saja nggak nyangka kenapa dari dulu nggak kamu ganti, aku kesini karena udah kangen banget sama kalian"
"Kalo ada yang ngikutin gimana?"
"Aku udah pastiin jam segini nggak ada yang ngawasin lagian kan aku juga bukan selebriti sebel banget harus kaya gini terus"
"Yaudah.. ayo menikah saja secepatnya!!"
"Apaa?? Beneran nih? Beneran yaa!!"
"Iya aku seriusan"
"Kenapa kamu tiba tiba berubah pikiran? Harusnya kan 2 bulan lagi"
"Kalo nggak mau ya nggak usah biarin aja nunggu 2 bulan lagi"
"Ehhh.. jangan berubah pikiran gitu dong, aku cuma tanya apa kamu ada sesuatu yang di khawatirkan"
"Setelah dipikir pikir mau cepat atau lambat juga orang orang bakal tahu kalo kita menikah dan punya anak diluar nikah, juga.."
__ADS_1
"Juga??"
"Rumor hubungan kamu sama Lukina makin berkelanjutan, aku ingin bantu supaya kamu lepas dari rumor itu"
"Kamu sangat terganggu kan??" ucap Kelvin merasa bersalah.
"Sedikit hehehe"
"Maafin aku yaa.. dan termakasih kamu selalu percaya kepadaku meskipun foto nggak jelas itu terus bermunculan" ucap Kelvin sembari memeluk Clara di atas tempat tidur.
"Resiko bekerja di dunia hiburan, aku mengerti kamu lebih dari yang kamu tahu, jangn terlalu menghawatirkanku"
"Terimakasih Sayang"
"Tapi!!!!" Ucap Clara tiba tiba melepaskan pelukannya.
"Ada apa??"
"Kenapa bisa ada foto kamu berpelukan di depan rumahnya di tengah malam?? Aku yakin itu bukan editan kan"
"Maaf ya.. foto itu asli"
"Dasarr!!!!" ucap Clara teriak.
"Jangan kenceng kenceng, nanti Robin bangun"
"Yaudah jelasin sekarang biar aku nggak mikir yang aneh aneh!!!"
"Baiklah.. saat itu Lukina tiba tiba menelfonku saat aku hendak ke rumahmu, aku bergegas kesana karena ia meminta tolong dengan nada ketakutan dan panik, makanya aku kesana, aku juga kaget kenapa dia tiba tiba memelukku didepan pintu, saat itu pasti ada wartawan yang mengawasinya"
"Jadi.. apa yang kalian lakukan di rumah wanita yang tinggal sendiri" ucap Clara dengan ekspresi sinis.
"Jangan marah yaa.. aku nggak nglakuin apa apa, dia hanya cerita tentang ia yang ketakutan karena mimpi, tapi setelah ia menceritakannya ia langsung lega dan tenang, setelah itu aku langsung pulang"
"Kenapa nggak telfon managernya sih?"
"Katanya nomernya Merry nggak bisa dihubungin"
"Jadi?? Seandainya nanti dia ketakutan lagi dan memanggilmu lagi?? Apa kamu akan datang lagi?"
"Kalo kamu nggak suka aku nggak akan datang"
"Benar begitu??"
"Tentu saja, kamu tahu kan? Kalo aku cuma cintanya sama kamu dulu sampai sekarang rasa cintaku nggak berubah, yang ada selalu bertambah besar, aku nggak akan melakukan kesalah yang membuat kamu dan Robin ninggalin aku lagi" Ucap Kelvin.
__ADS_1
"Tentu saja aku selalu mempercayaimu, begitu pula Robin"
bersambung