
Didepan pintu rumah Clara, Selena ragu ragu tentang apakah Clara akan menerimanya yang selama ini bersikap buruk kepadanya, ia mulai membayangkan sikap sikapnya yang acuh tak acuh dan sinis tiap kali bertemu dengan Clara.. Selena sangat menyesalinya dan ingin memperbaiki kesalahannya dengan menjalin hubungan yang baik dengan Clara, ia menghela nafas dalam dalam dan menghapus segala keraguannya.
Clara membukakan pintu usai Richard menekan bel rumahnya, mereka makan malam bersama sama dan selena membantu Clara membersihkan meja makan seusainya, ketika Richard dan Robin bermain bersama dikamar Robin.. selena mulai membicarakan niatnya.
"Kak Clara aku minta maaf ya."
"Kenapa kamu minta maaf padaku? Aku yakin kau tak memiliki salah kepadaku."
"Aku minta maaf tentang sikapku ke Kakak selama ini yang ketus sinis dan salah paham kepada Kakak."
"Ahhh.. kalo itu aku nggak mempermasalahkan kok, mau Selena bersikap seperti apapun kepada siapapun itukan haknya Selena."
"Tetap saja aku ingin minta maaf " ucap Selena lirih.
"Oke oke baiklah, gimana bisa aku nolak kamu yang sangat imut inii heheh."
"Makasih ya Kak udah nerima aku yang banyak kekurangan ini."
"Kamu gadis yang baik, kamu yang terbaik buat Richard yang pemalu itu."
"Apa Kakak serius? Kakak nggak marah kalo aku suka Kak Richard?"
"Kenapa aku harus marah kalo sahabatku yang sudah seperti keluarga itu punya orang yang menyukainya apa lagi orangnya adalah selena" ucap Clara tersenyum.
(Aku mengerti kenapa Kak Richard sangat menyukainya, sifat dan sikapnya membuat orang tenang dan akupun menjadi sangat menyukainya) pikir Clara dalam hati.
"Kalian terlihat sangat akrab loh" ucap Richard yang tiba tiba muncul.
"Iya dong sekarang kami adik kaka tahu" ucap Clara.
"Benarkah Kak Clara?" ucap Selena.
"Tentu saja kalo Selena bersedia."
"Tentu saja aku mau Kak" ucap Selena yang kemudian memeluk erat Clara.
"Oiya.. Robin lagi ngapain?" ucap Clara.
"Baru aja tidur" ucap Richard.
__ADS_1
"Wahh.. Richard masih jago nidurin anak hehehe, kamu nggak akan susah kalo menikah sama Richard Selena!!"
"Apa??!!! Jangan bercanda " ucap Richard ketus.
"Ahhh.. sorry sorry deh masih belum jadian yah hihihi" ucap Clara meledek.
Selena hanya tersenyum kecil mendengar Clara yang sangat mendukung hubungannya dengan Richard.
"Kamu nggak papa?" ucap Richard.
"Tadinya aku khawatir kamu lagi galau sendirian terkait berita belakangan ini tapi aku lihat kamu biasa aja syukurlah" ucap Richard.
"Aku nggak apa apa, nggak ada yang perlu dikhawatirkan karena aku memercayainya" ucap Clara tersenyum.
Richard yang mendengar jawaban Clara hanya bisa tersenyum kecut tapi disisi lain ia lega Clara menyikapi hal itu dengan kepercayaan diri.
Karena hari telah larut malam Selena dan Richard berpamitan untuk pulang, Clara pun mengantar mereka sampai depan pintu rumahnya.
"Dahh... hati hati ya kalian" ucap Clara tersenyum sembari melambaikan tangannya.
Clara mengerti Richard selalu peduli dan menghawatirkannya ketika dalam masalah namun ia merasa tak ingin Richard terlalu menghawatirkannya dan terus direpotkan olehnya.. karena ia menyadari Richard sendiri harus menjalani hidupnya dengan seseorang yang mencintainya sepenuh hati seperti Selena, ia tak ingin membuat selena berfikir ia sebagai pengganggu yang menghalangi hubungan mereka.
Didalam mobil diperjalanan pulang selena melihat Richard yang tampak murung, ia pun tak menanyakan alasannya karena ia mengetahui perasaan richard kepada Clara, Selena hanya memperhatikannya dari samping ia merasa iba kepada Richard yang seperti itu.
"Ada yang mau kau katakan?" ucap Richard.
"Tidak ada"
"Jadi kenapa kau menatapku begitu lama?"
"Aku begitu?? hahaha benarkah?" ucap Selena tertawa canggung.
"Aneh kamu."
"Kakak nggak papa?"
"Aku kenapa?"
"Nggak deh."
__ADS_1
Richard mengerti maksud dari perkataan selena tapi ia tak ingin terlihat lebih menyedihkan didepan orang yang menyukainya itu.
Disudut kamar Lukina Joan terlihat sedang duduk ketakutan karena terbangun dari mimpi buruknya, di dalam mimpi masalalunya itu Lukina sedang berjalan bersama Orangtuanya saat ia masih kecil untuk mengunjungi sebuah pariwisata alam di Negara asalnya, saat mereka sampai di tempat tinggi seorang pria mendorong Ayahnya dengan sengaja, ia dan ibunya berteriak ketakutan namun pelakunya berhasil melarikan diri.
Ayahnya yang terjatuh dari ketinggian tak bisa tertolong karena benturan dikepalanya, ia dan Ibunya histeris melihat Ayahnya yang berlumuran darah.
Akibat peristiwa itu Ibunya selalu merasa ketakutan dan akhirnya depresi, Lukina sendiri terus menerus memimpikan kejadian dimasa lalu itu ditambah dengan Ibunya yang depresi dan dirawat dirumah sakit jiwa di negara asalnya, sejak saat itu mimpi itu selalu datang menghampirinya.
Namun sejak ia bertemu dengan Kelvin saat itu fikirannya hanya tentang Kelvin dan membuat kegelisahan yang ia rasakan hilang, namun setelah ia merasa kecewa karena Kelvin memiliki seseorang yang dicintainya rasanya harapan yang ia impikan selama itu hilang dan mimpi buruk itu terus menerus kembali.
Tanpa berpikir panjang Lukina menghubungi Kelvin yang sedang berjalan pulang kerumah Clara dengan mengendarai mobilnya.
Kelvin pun bergegas menuju ke rumah Lukina karena saat Lukina menghubungi suaranya terdengar sangat ketakutan, Kelvin berpikir Lukina seperti itu karena ada seseorang yang mengikutinya atau penggemar yang obsesif, ditambah lagi ia hanya seorang diri di negara ini.
"Tok tok tok, ini aku Kelvin" ucap Kelvin sembari mengetuk pintu.
Lukina bergegas membukakan pintu dan memeluk erat Kelvin, Kelvin sangat kaget karena Lukina memeluknya tiba tiba tapi ia membiarkannya memeluknya karena Lukina yang sedang dalam keadaan tak baik bahkan sampai gemetaraan.
"Ada apa? Kenapa kau sangat ketakutan? Ayo masuk dulu nggak enak kalo ada yang lihat" ucap Kelvin.
"Nah sekarang duduk dan bicaralah" ucap Kelvin lagi.
Lukina hanya diam tertunduk, ia tak mampu mengatakan alasannya seperti itu.
"Kenapa kamu diam saja? apa yang harus kubantu katakanlah."
"Tolong peluk aku " ucap Lukina lirih.
"Baiklah.. aku melakukan ini karena kau sedang ketakutan dan tak ada maksud yang lainnya apa kau mengerti?"
Lukina hanya menganggukan kepalanya.
Setelah sedikit merasa tenang Lukina mulai menceritakan tentang mimpinya itu kepada Kelvin, untuk pertama kalinya Lukina berbicara kepada orang lain tentang masa lalunya. Itu membuat perasaannya menjadi lebih baik.
"Maaf karena merepotkan anda Pak Ceo, soalnya tak ada lagi orang lain yang terpikir olehku dan terimakasih anda mau datang dan menenangkanku."
"Tentu saja aku harus datang kita kan rekan kerja dan kau disini seorang diri, tidurlah dan aku akan pulang, pikirkanlah hal hal yang baik agar mimpi buruk itu tak datang lagi."
"Baiklah.. terimakasih, hati hati dijalan."
__ADS_1
Kelvin yang harusnya datang ke rumah Clara mengurungkan niatnya itu karena ia takut membangunkan dan mengganggu Clara dan Robin karena telah larut malam.
bersambung