Mantan Aktrisku

Mantan Aktrisku
Menghindar dari fakta


__ADS_3

Pagi hari setelah mengantarkan Robin kesekolah Kelvin dan Clara menjemput Lukina di rumahnya.


Didalam mobil tempat parkir apartemen.


"Aku nggak perlu turun kan?" ucap Clara.


"Kalo kamu ikut apa dia mau?"


"Hehehe.. turunlah jemput tuan putrimu itu" ucap Clara menyindir.


"Hahaha kamu cemburu yaa"


"Mustahil!! (mustahil nggak cemburu)"


"Aduhhh" Kelvin berekspresi kesakitan memegangi dadanya.


"Ehhh Kakak kenapa??" ucap Clara panik.


"Hatiku!! Hatiku tiba tiba patah hahahaha"


"Haisss kebanyakan gaya!! Udah sanaa!!"


"Abisnya kamu bilang mustahil cemburu sih, yaudah aku turun dulu"


Kelvin turun dari mobil untuk menghampiri Lukina, betapa kagetnya lukina melihat Clara yang sedang duduk di kursi depan disamping pengemudi.


"Haloo lama nggak ketemu yaa" ucap Clara tetsenyum.


"Iya haloo, saya tak diberi tahu kalo anda ikut?" ucap Lukina sebal.


"Iya maaf ya aku lupa ngomong, soalnya kami abis antar anak kami kesekolah, nggak papa kan Clara ikut" ucap Kelvin.


"Tentu saja tak apa!" Lukina mengernyitkan dahi.


Diperjalanan yang hening dan tampak canggung Lukina terus memandangi Clara dan Kelvin yang berpegangan tangan, ia merasa sangat jengkel, ia pikir Clara dan Kelvin tak menghargai dirinya yang duduk di kursi belakang.


Saat melewati taman kota tiba tiba ada sepeda motor yang menyeberang tepat di depan mobil Kelvin, Kelvin segera mengerem mendadak, Kepalanya terbentur iapun sangat syok karena tiba tiba ia teringat suara dari balik telepon kecelakaan fatal yang mengakibatkan Ayahnya meninggal, telinganya berdengung dan ia tampak kesakitan.


Clara dan Lukina panik karena reakai Kelvin yang berlebihan padahal ia hanya terbentur sedikit.


"Ehh, Sayang kamu kenapa? Mana yang sakit?" ucap Clara kawatir.


"Ayo kita bawa Pak Kelvin ke rumah sakit" ucap Lukina.


Ditengah kepanikan itu, si pengendara motor menggedor gedor kaca mobilnya.


"Aduh, Lukina tolong kamu keluar dulu lihat orang itu apa lukanya serius!!"


"Anda saja yang keluar, biar saya yang membawa Pak Kelvin ke rumah sakit"


"Tapii.."


Si pengendara motor itu terus menggedor gedor kaca mobil untuk meminta pertanggung jawaban, Karena Lukina menolak turun akhirnya Clara reflek turun untuk menyelesaikan persoalan itu.


"Maaf Pak, apa bapak tidak apa apa?"


"Kamu bodoh yaa, gimana bisa aku nggak apa? Lihat tuh motorku, lihat juga nih lukaku!!"

__ADS_1


"Saya sangat minta maaf pak saya akan bertanggung jawab sepenuhnya, mari saya antar ke rumah sakit untuk mengobati luka anda"


Ditengah tengah perdebatan Clara dan pengendara motor, Lukina memindahkan Kelvin yang masih kesakitan ke kursi samping dan ia mengambil alih ke kursi supir untuk membawa Kelvin ke rumah sakit tanpa Clara.


"Brummm"


"Lukina tunggu!!!!!"


Clara berteriak dan hendak berlari mengejar mobil namun si pengendara motor itu memegangi tangannya dengan kuat.


"Ehhh.. kau mau kemana? Mau lari dari tanggung jawab yaa?? Mau saya bawa ke kantor polisi apa!!!"


"Astaga lepasin tangan saya sakit!!! Bapak brisik banget sih ayo kita ke kantor polisi aja lah biar jelas, lagian jelas jelas bapak yang nabrak mobil kami" teriak Clara.


"Ehh?? Tenang dulu dong, kata kamu saya sengaja nabrak mobil kalian yaa? Apa kamu kira aku pengen mati??"


"Jadi Anda maunya apaaa!!!!!"


"Kasih uang!!! Untuk berobat sama ke bengkel 5 juta!!"


"Bapak mau memeras yah!!! Saya nggak ada uang segitu nih 1 juta kalo nggak mau ayo kita ke kantor polisi aja!!!!"


"Hahhh.. katanya kaya!!! Ternyata aku ditipu" gumamnya sembari mengambil uang kemudian mengambil motornya.


"Katanya?? Ditipu??? Siapa yang nyuruh woiiii !!!!!! Berhenti woii!!!!"


Saat Clara mulai curiga si pengendara motor tersebut segera melarikan diri dengan motornya itu.


"Wahhh bener bener si*lan!!! Siapa lagi biang kerok kali ini? Pastinya si Lukina cecunguk itu kan!! Awas aja kalo ketemu Aarrrrhhhh!!! Kenapa nggak ada taksi yang lewat sih Sial!!" gumamnya.


Setelah terus berjalan sekitar setengah jam Clara menemuka halte bus, didalam bus menuju ke sekolah Robin Clara terus mencoba menghubungi nomer Kelvin, tapi tak kunjung dijawab. " Sepertinya tadi Kak Kelvin sangat kesakitan, gimana keadaannya sekarang ya? Kemana Lukina membawanya?? Hah!! Sekarang yang terpenting Robin dulu" gumam Clara.


"Telingaku sakit sekali"


"Anda sudah baikan?" tanya Lukina sembari menyetir.


"Iya.. Clara dimana? Mengapa hanya kita berdua?"


"Tadi Anda kelihatan sangat kesakitan jadi saya terpaksa meninggalkannya untuk mengurus orang yang tertabrak tadi"


"Astaga.. bisa bisanya aku nabrak orang dan tak bertanggung jawab malah melimpahkannya kepada Clara" ucap Kelvin yang memegangi kepalanya.


"Ini bukan salah anda, ini kemauan Clara sendiri"


"Dimana dia sekarang? Apa urusannya sudah beres? Dimana ponselku?" Kelvin meraba raba kantong bajunya.


"Bukankah lebih baik kita periksa keadaan anda dulu ke rumah sakit?"


"Tidak perlu"


"Anda yakin? Tapi saya sangat kawatir dengan keadaan anda yang ternyata bisa seperti itu"


"Saya nggak papa, hanya sakit di telinga sesaat, kemana ponselku? Bisa aku pinjam ponselmu?"


"Bisa tapi saya tak memiliki nomor Clara (bohong)!"


"Saya hafal, berikan saja"

__ADS_1


"Haloo Clara, ini Kelvin sekarang kamu dimana?"


"Aku dijalan abis jemput Robin kamu gimana masih sakit?"


"Nggak aku baik baik saja"


"Ayo bertemu dirumah"


"Baik, berhati hatilah"


"Lukina kita tunda dulu pemeriksaanmu yah, maaf aku nggak menyangka bakal begini, padahal teman psikologku besok harus berangkat keluar negri"


"Tidak apa apa, kita bisa periksa di tempat lain (rencana yang lebih dari sempurna haha)"


"Benar, saya masih sedikit pusing kamu boleh turun" ucap Kelvin setelah sampai di parkiran apartemen Lukina.


"Apa anda tak apa menyetir sendiri? Kalo nggak biarkan saya mengantar anda, buar saya pulang naik taksi"


"Nggak, aku baik baik saja"


"Baiklah, berhati hatilah"


Dirumah Clara.


"Bip bip bip" Kelvin membuka sandi pintu.


Clara yang mendengar suara dari pintu segera menghampirinya.


"Kak Kelvin nggak papa kan? Masih ada yang sakit nggak?" ucap Clara sembari meraba raba kepala Kelvin.


"Aku nggak papa"


"Sejak kapan kamu begitu? Itu trauma kecelakaan kan?"


"Iya sebenarnya sejak kecelakaan Ayahku, tapi sudah lama aku nggak seperti itu, entah kenapa sekarang kambuh lagi, rasanya sangat sakit dan takut karena kamu ada dimobil bersamaku, aku nggak bisa kehilanganmu.. tapi aku malah nggak bisa melindungimu karena kesakitan sendiri, aku memang payah kan"


"Jangan ngomong begitu, siapa orang yang ingin sakit? Nggak ada kan, dan aku bisa jaga diri sendiri jadi Kamu nggak usah terlalu kawatir"


"Maaf yaa tadi kamu juga ngurusin orang yang hampir tertabrak sendiri kan?"


"Iya, itu udah beres tapi aku yakin dia ada yang nyuruh ngelakuin itu"


"Kenapa dia mau ngelakuin sesuatu yang membahayakan nyawanya?"


"Karena uanglah, apalagi?"


"Tapi diingat ingat memang jelas jelas dia sengaja menabrakan diri sih"


"Iya kan, terus dia bergumam begini katanya orang kaya tapi dia minta uang 5 juta aku nggak ada!! Katanya dia dibohongin. Jelas ada yang nyuruh kan?"


"Masa dia bilang brgitu??"


"Iya beneran, saat aku baru sadar.. dia langsung kabur,pasti Lukina kan?"


"Belum tentu, kita harus cari tahu dulu"


"Kok belum tentu sih? Jelas jelas dia sengaja nggak mau datengin psikolog temen kamu itu!!"

__ADS_1


"Iya kamu bener, tapi kita harus cari bukti dulu sebelum berasumsi, yang penting kita semua baik baik saja itu sudah cukup buatku "


__ADS_2