Mantanku Majikanku

Mantanku Majikanku
Pesan masuk


__ADS_3

Dua Minggu berlalu setelah kepulangan dari perjalanan bisnis shenna tetap melakukan aktivitas pekerjaan nya seperti biasa, selama itu pula dyoza sedikit berubah menjadi lebih lembut terhadap shenna. meskipun demikian dyoza tak luput membuat shenna merasa kesal akan ucapannya.


"Shenna"


"Ya tuan"


"Duduklah! aku ingin berbicara padamu"


Dengan kening mengkerut shenna mengangguk.


"Apa yang ingin tuan bicarakan ?".


"Tidak ada, aku hanya ingin kau menemaniku di sini"


"A,apa ?"


"Apa kau tuli?"


"Ah tidak,, ma,maksud saya...*"


"Kenapa kau banyak sekali bicara ?"


Shenna hanya menatap heran pada Dyoza.


"Kenapa kau menatapku seperti itu ?"


"Apa tuan sakit ?"


Shenna seketika bangun dan menyentuh kening dyoza dengan punggung tangannya.


"Sedikit hangat, apa mau saya ambilkan obat tuan ?".


"Tidak perlu! aku hanya ingin kau menemaniku saja"


"baiklah kalau begitu, apa yang harus saya kerjakan ?"


"Apa kau tuli ? aku hanya ingin kau menemaniku, bukan mengerjakan sesuatu"


"baiklah baik, kenapa harus marah-marah ?"


"Sudahlah duduk disini"


Dyoza menepuk sofa yang ia sedang duduki.


"Cepat!"


Shenna pun segera beranjak dan duduk di sebelah dyoza dengan perasaan geram.


"Pijat kepalaku!"


Shenna membeku saat kepala dyoza merebahkan kepalanya di atas paha shenna.


"Tu,tuan"


"Cepat jangan banyak bicara! kepalaku pusing sekali"


Tanpa basa-basi shenna pun segera melakukan apa yang dyoza perintahkan.


"Katanya hanya minta di temani, kenapa sekarang aku harus memijat kepalanya". Gumam shenna dalam hati


Hampir 10 menit Dyoza memejamkan matanya menikmati pijatan shenna, tanpa suara sedikitpun.


"Apa dia tertidur ?" Gumam shenna pelan


Shenna memastikan dyoza agar ia berbaring dengan nyaman, namun saat shenna hendak meninggalkan dyoza, shenna terkejut mendapati dyoza menarik tangannya hingga ia jatuh dalam pelukan dyoza.


"Tu,tuan"


"Diamlah!"


"Ta,tapi"


Dyoza semakin mempererat pelukannya terhadap shenna.


"Sebentar saja, jangan bergerak!"


Shenna pun terdiam membeku, detak jantung nya seakan lompat begitu tinggi. Ia bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang Dyoza lakukan saat ini.


"Dyoza"

__ADS_1


Teriak shenna keras membuat Dyoza terkejut melepaskan pelukannya terhadap shenna.


"Kau ini bising sekali, ada apa ?"


"Kau bilang ada apa ?"


"Memang ada apa, kenapa berteriak ?"


"Kau sebenarnya kenapa ?"


"Sudah ku bilang kepala ku pusing"


"Ka,kau sungguh sakit ?"


"Apa aku terlihat berpura-pura ?"


"Ah, tidak bukan begitu"


"Keluarlah!! Kau ini terlalu berisik, kepalaku semakin pusing"


Dengan perasaan kesal shenna pun keluar dari dalam kamar dyoza tanpa sepatah katapun.


"Kenapa dia yang kesal, seharusnya kan aku yang kesal"


Dyoza kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


Shenna segera berlalu dan menuju taman belakang, ia selalu merasa kesal dengan tingkah Dyoza yang selalu berbuat semaunya.


"Apa dia fikir aku ini wanita penghibur yang bisa ia peluk sesukanya, aaaaaarrrggghhhhhh"


Shenna merasa frustasi sendiri, tanpa ia sadari ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan nya.


"Ayah, ibu shenna rindu. Hiks"


"Nona"


Shenna terkejut dengan suara yang sangat familiar baginya, ia dengan terburu-buru mengusap air matanya secara kasar.


"Tu,tuan Arkan"


"Sedang apa kau di sini ?"


"Boleh aku duduk ?"


"Ah, silahkan tuan tidak perlu meminta izinku"


Arkan pun tersenyum dan duduk tepat di sebelah shenna. seketika hening membuat shenna sedikit canggung.


"Apa tuan mau saya buatkan kopi ?". Ucap shenna memecah keheningan.


"Jika kau tidak keberatan"


"Tentu saja tidak, itu sudah menjadi tugas saya juga. Tunggu sebentar ya tuan"


Arkan mengangguk pelan.


Tidak butuh waktu lama shenna membawa kopi yang ia buat.


"Silahkan tuan"


"Terimakasih"


Shenna tersenyum dan hendak pergi.


"Kau mau kemana ?".


"Ada yang bisa saya bantu tuan ?"


"Duduklah!"


"Ya Tuhan apalagi ini ? bukannya aku tidak mau menemani tuan Arkan tetapi di saat aku dekat dengannya rasanya perut ku mulas". Gumam shenna dalam hati.


"Nona shenna apa kau mendengar ku ?"


"I,iya tuan"


"Kau melamun ?".


"Ti,tidak".

__ADS_1


Shenna pun kembali duduk tepat di samping Arkan dengan jantung yg berdebar lebih cepat.


"Nona apa kau sakit ? kenapa muka mu terlihat pucat ?"


"Be,benarkah ?"


"Iya".


Arkan menyentuh kening shenna dengan punggung tangannya, membuat shenna mundur tiba-tiba.


"Kau kenapa ?"


"Ah, ti, tidak tuan saya hanya, mmmmhhh hanya...


"Jangan mendekat"


Arkan terkejut melihat reaksi shenna saat Arkan hendak mendekati nya untuk memastikan kembali suhu badan shenna.


"Kenapa nona berteriak ?". kening Arkan mengkerut.


"Ah, hahahaa tidak sa,saya hanya tidak enak badan saja"


"Benar kah sakit ?"


Dengan terpaksa shenna mengangguk pelan.


"Maafkan aku nona saya tidak tahu nona sedang tidak fit, kalau tahu aku pasti akan menyuruh mu untuk beristirahat"


"Ti,tidak tuan Arkan. saya hanya sedikit kurang fit, hanya sediiiiiiitt saja. Tidak perlu meminta maaf"


"Baiklah kalau begitu silahkan nona beristirahat"


"Ba,baik tuan. Sa,saya permisi"


Dengan tergesa-gesa shenna meninggalkan Arkan.


"Ya Tuhan kenapa dengan aku ini"


Shenna menepuk keningnya.


**


Arkan hanya tersenyum melihat shenna berjalan dengan cepat meninggalkan.


"Kenapa kau sangat menggemaskan nona"


"Hufffhh"


Aku pernah berharap seseorang datang untuk kembali meyakinkan hatiku yang pernah ia hancurkan sehancur hancurnya, berharap ia hanya khilaf dan berkata aku sangat mencintaimu tapi, itu semua hanya harapan kosong. Hatiku seperti mati, bahkan sudah banyak yang terkunci oleh rasa kekecewaan.


Ya, shenna selalu mengharapkan Dyoza untuk meminta maaf dengan benar kala itu. Saat masih berada di bangku sekolah menengah pertama kalinya shenna di lukai oleh laki-laki yang sekarang menjadi majikannya itu.


"Kenapa aku jadi Gerogi seperti ini saat dekat dengan tuan Arkan, ya tuhan apa yang sebenarnya terjadi ?"


shenna membaringkan tubuhnya , sungguh bosan dengan kegiatannya setiap hari yang selalu seperti ini.


"Aku kangen Ibu dan ayah"


setitik air mata mengalir tanpa izinnya, setiap ia lelah rasanya ingin sekali tubuhnya bersandar pada ibu serta ayahnya yang selalu bertutur kata lembut padanya, tidak ada kata-kata kasar, bahkan bentakan dari seseorang untuk dirinya.


Tapi, shenna adalah wanita yang kuat ia bisa bertahan hanya untuk kedua orang tuanya.


"Baiklah shenna kau harus bisa memberikan yang terbaik untuk kedua orang tua mu, lupakan Dyoza dan bekerja lah dengan giat. Kau harus melanjutkan pendidikan mu, jika tabunganku sudah cukup aku akan pergi dari si bedebah itu".


"Selama bertahun-tahun aku berharap tidak pernah bertemu dengannya, takdir apa ini, kenapa justru aku satu atap dengannya ? Ya Tuhan.


Sebuah pesan masuk membuyarkan pikiran shenna.


"Nona, selamat malam dan selamat beristirahat"


Tuan Arkan


Mata shenna membelalak lebar, ia pastikan kembali bahwa ia tidak salah membaca bahkan tidak salah lihat. Ia sampai mengucek matanya beberapa kali. Mungkin mataku rabun, begitu gumamnya.


Di tempat lain seseorang tersenyum manis setelah mengirim pesan manis untuk wanita yang ia sentuh keningnya malam ini.


**


JANGAN LUPA BANTU LIKE DAN VOTE NYA YAAA, YUKK RAMAIKAN KOMENNYA 🤗

__ADS_1


__ADS_2