Mantanku Majikanku

Mantanku Majikanku
Cokelat panas


__ADS_3

Daniel melamun di sebuah cafe yang akhir-akhir ini menjadi tempat favoritnya, ia duduk di sudut tepat dekat jendela.


Ia menatap air yang turun, hari ini hujan cukup deras membuat nya enggan beranjak dari sana.


Seorang pelayan wanita menghampirinya dengan membawa satu buah cangkir berisi coklat panas untuk nya.


"Permisi Tuan, Cokelat panas."


Daniel menaikkan satu alisnya, ia merasa tidak memesan menu yang pelayan sebutkan.


"Mmmhh maaf nona, sepertinya kamu salah meja. Saya tidak memesan cokelat panas."


"Tuan memang tidak memesannya, tapi ini free dari saya."


"Maksudnya ? Nona pikir saya tidak sanggup membayar ?." Suara Daniel sedikit ketus


"Oh maaf Tuan saya tidak bermaksud begitu, ini sebenarnya tanda terimakasih dari saya."


Daniel semangat bingung, dan menatap penuh tanda tanya pada pelayan di hadapannya.


"Ah Tuan pasti lupa, 2 Hari yang lalu tuan menolong saya dari pencopet yang mengambil dompet saya. Di sana, tepat di dekat parkir mobil." Pelayan itu menunjuk ke arah parkir


Daniel mengikuti arah di mana sang pelayan menunjuk.


Daniel kembali mengingat dan ia tersenyum setelah mengingat kejadian waktu itu.


"Apa tuan sudah mengingatnya ?."


"Tentu, mmmmhh tapi apa ini tidak terlalu berlebihan nona ? saya tulus menolong kamu."


"Ah tentu tidak tuan, justru ini bukan apa-apa. Sekali lagi terimakasih sudah mau menolong saya, jika pada saat itu tuan tidak menolong mungkin saya sudah....


Daniel mengerutkan keningnya, ia menunggu ucapan sang pelayan.


"aah sudahlah, intinya terimakasih sekali lagi ya tuan...


"Daniel, namaku Daniel. Dan kau ?." Daniel mengulurkan tangannya


"Ah iya tuan Daniel, saya Kalya tuan."


"Terimakasih ya Kalya cokelat panasnya, kapan-kapan saya yang akan mentraktir kamu."


"Terimakasih tuan, tidak perlu repot-repot. Saya benar-benar ingin membalas kebaikan tuan. Mmmmm kalau begitu saya permisi, selamat menikmati."


Daniel tersenyum dan mengangguk pelan, ia tidak menyangka ada pelayan yang sangat manis dan imut di cafe yang sering ia kunjungi. Bahkan ia baru melihat nya, atau memang dirinya yang tidak mempedulikan siapapun selain hatinya untuk Shenna.


Kalya tersenyum dan memegang dadanya, rasanya senang dan lega bisa membalas kebaikan pelanggan yang sering ke cafe tempat nya bekerja. Bahkan teman-teman ikut menggoda saat ia duduk di lowker hendak istirahat.


"Eh kal gimana ?." Ucap Lula salah satu rekan kerjanya yang paling dekat dengannya.


"Ya kan kamu sudah lihat tadi, dia berterimakasih dan katanya sih kapan-kapan mau mentraktir ku ."


"Hah ya ampun serius ?." Lula heboh sendiri


"La, biasa aja kenapa sih. Jangan heboh gitu, nanti yang lain dengar bagaimana ?."


"Ih cuekin aja, serius kal dia mau traktir kamu ?."


"Ya katanya, tapi aku yakin itu hanya basa-basi la. Lagian orang tajir gitu mah kayak mau aja makan sama orang seperti kita."


"Hmmmm iya juga sih ya, apalagi cuma seorang pelayan cafe. Eh tapi gak apa-apa, setidaknya kamu sudah membalas kebaikannya."


"Iya, gak apa-apa deh potong gajih yang penting tidak ada hutang Budi antara aku sama tuan Daniel."


"Oohh namanya Daniel ?."


"Iya."

__ADS_1


"Yaudah yuk kita makan, aku udah laper banget nih."


"Kamu bawa bekel apa ? aku bawa cumi pedas nih sama sayur."


"Wahhh aku mau, aku bawa ayam goreng sama sama sayur juga."


Daniel meninggalkan cafe itu setelah hujan reda, ia berniat pulang untuk tidur agar otaknya sedikit cerah.


Sepertinya ia akan menerima semua takdirnya bahwa shenna bukan jodohnya. Ia berharap perasaan nya akan segera hilang, ia sebenarnya sudah lelah mencoba menghindar dari shenna. Toh percuma ia akan sering bertemu juga karna memang mereka satu rumah.


Ia pernah meminta izin pada bibi Hanum dan Dyoza untuk memakai apartemen milik Dyoza untuk ia tinggali, bukannya mendapat izin justru Dyoza marah-marah dan melapor pada kedua orangtuanya. Alhasil Daniel dapat ceramah yang cukup panjang dari ayah serta ibunya.


Akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk pindah dari rumah itu, tapi ia selalu pergi keluar dan lebih memilih menghabiskan waktu bersama teman-teman nya, terkadang seperti saat ini menghabiskan waktunya sendirian.


--


Daniel sudah berada di dalam kamarnya setelah makan malam selesai, ia berguling-guling di atas ranjang nya. Saat ia memejamkan mata ia terbayang wajah manis pelayan di cafe.


Sontak Daniel terkejut dan segera bangkit dari tidurnya, ia masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci mukanya agar otaknya kembali cerah.


Daniel meraih kunci mobilnya, ia akan keluar malam ini.


Saat keluar dari kamar Daniel berpapasan dengan Dyoza.


"Daniel, mau kemana ?." Tanya Dyoza


"Aku, mau keluar sebentar ya kak." Jawab Dyoza takut-takut


"Kemana ? dengan siapa ?."


"Ayolah kak, aku sudah besar. Aku hanya keluar sebentar kerumah teman, lagi pula aku tidak aneh-aneh di luar sana!."


"Yasudah hati-hati!." Jawab Dyoza cepat dan berlalu begitu saja.


Daniel termangu melihat reaksi kakak sepupu nya, biasanya ia akan di marahi dulu dan mendapat peringatan yang cukup keras. Tapi, kali ini justru berbeda. Dyoza dengan santainya menanggapi Daniel bahkan bilang hati-hati.


Entahlah malam ini ia bingung mau kemana, ia melihat jam di tangan nya menunjukkan pukul 21.30 malam.


Daniel menelpon salah satu temannya dan kembali melajukan mobilnya.


Ia berkunjung dan berniat untuk menginap di rumah temannya itu. Hari libur kerjanya akan ia gunakan dengan bermain sepuasnya, bahkan tugas kerja yang Arkan berikan padanya sudah ia selesaikan tepat waktu.


"Kamu gila sih Niel kalau masih mengharapkan kakak ipar mu itu." Ucap Zidan sahabat Daniel


"Entahlah, aku bingung harus bersikap bagaimana pada shenna."


"Bersikap lah seperti sebelumnya, kau sudah di anggap adik olehnya bahkan sebelum menikah dengan Tuan Dyoza. Lalu apa lagi yang kau harapkan ?."


Daniel menyandarkan tubuhnya di sofa, ia ingin sekali melupakan perasaannya tapi tidak semudah itu.


"Bahkan kau tidak akan kehilangan Nona shenna jika kau menganggapnya sebagai kakak juga kan ? dia dan kau akan menjadi adik kakak selamanya, kasih sayangnya lebih tulus dari apapun."


Daniel mengangguk, membenarkan ucapan sahabat nya itu.


"Tapi, aku takut memanfaatkan ketulusannya Zi." Ucap Daniel lirih


"Nahhh justru saat ini kau yang harus bersikap selayaknya, cobalah pelan-pelan! aku yakin kau bisa menganggap nona shenna sebagai kakak mu seperti kau dan tuan Dyoza."


"Aku dan kakak itu memang saudara, bodoh!."


"Kau yang bodoh! Anggap saja nona shenna saudara kandung mu, dia kan istri dari kakak sepupu mu." Zidan mulai gemas sendiri


Daniel hanya melengos dan merebahkan tubuhnya, ia benar-benar pusing sendiri.


Ke esokan harinya..


Shenna sedang menyiapkan sarapan pagi bersama bibi Hanum dan pelayan lainnya.

__ADS_1


Ia melihat Daniel baru keluar dari kamarnya sudah rapih mengenakan pakaian kantor.


"Daniel." panggil Shenna


"Ya ?."


"Sini sarapan dulu."


"Tidak, aku sarapan di luar saja!."


"Daniel sayang, sini dong! kamu gak kasihan sama bibi dan shenna sudah menyiapkan semua ini untukmu dan Dyoza ?."


Shenna tersenyum dan mengangguk pada Daniel.


"Sial, kenapa harus tersenyum seperti itu sih ?."


"Daniel, ayo!." Ajak shenna


Daniel akhirnya memutuskan untuk sarapan bersama seperti biasanya, Dyoza pun sudah keluar dari dalam kamarnya dan ikut bergabung .


"Daniel, nanti kamu yang handle meeting nanti siang ya ?."


"Kenapa aku kak ? memangnya kakak mau kemana ?." Daniel terkejut


"Aku ada diruang meeting kok, tapi aku sebagai pendengar saja, aku mau tahu kemampuan kamu sampai mana."


"Tapi kan Kak, aku belum siap kak!."


"Mau sampai kapan kamu bilang belum siap terus ? Ingat Daniel, orang tua mu mengirim mu kesini itu agar aku bisa membimbing mu di dunia bisnis. Dan ingat mereka ingin kamu yang meneruskan perusahaan ayahmu."


"Tapi, aku tidak mau kak! aku mau bekerja pada kakak saja."


"Kalau bukan kau, lalu siapa ? kamu itu anak mereka satu-satunya jadi jangan membuat mereka kecewa!!."


"Kenapa kakak seperti ayah, selalu saja mengatur. Aku ini sudah besar kak dan aku berhak memilih jalan hidupku sendiri."


"Kau ini semakin lama semakin susah saja di nasehati." Dyoza mulai menaikkan nada bicaranya


"Dyoza." Shenna mengusap tangan Dyoza dengan lembut


Daniel hanya melirik pada shenna dan membuang nafasnya kasar.


"Sudah! lanjutkan sarapan kalian, nanti kita bicarakan masalah ini setelah semuanya sudah santai saat dirumah. Oke ?." Ucap bibi Hanum menenangkan.


Dyoza dan Daniel hanya mengangguk dan melanjutkan sarapan mereka.


Shenna mengantar Dyoza menuju mobilnya, ia memberikan tas Dyoza pada Arkan.


"Aku berangkat ya!." Dyoza mengecup kening shenna


"Hati-hati ya!"


Arkan yang melihat adegan itu hanya tersenyum tipis dan melihat ke sembarang arah, sedangkan Daniel yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala lalu menaiki mobilnya.


"Silahkan tuan." Ucap Arkan membuka pintu


"Selamat pagi nona shenna." Arkan menyapa


"Pagi tuan Arkan." Shenna tersenyum manis pada Arkan.


Arkan semakin bingung dengan sikap shenna yang sudah ramah kembali padanya.


"Apa shenna dan tuan Dyoza sudah berbaikan ? Kalau benar, Syukurlah!."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2