Mantanku Majikanku

Mantanku Majikanku
Calon suami istri


__ADS_3

Dyoza sedang menikmati makan malamnya bersama Daniel dan bibi Hanum, ia tampak lesu dan tidak bersemangat. Bibi Hanum hanya menggelengkan kepala melihat keponakannya begitu tidak bersemangat berbeda dengan Daniel yang selalu ceria setia setiap saat.


"Kak bisa tidak wajah kakak yang jelek itu tidak usah di tambah lagi kadar jeleknya ?". Ucap Daniel jengah


"Yang sopan kalau bicara! mau ku injak batang leher mu itu ?". Kata Dyoza datar


"Hehehee becanda kak, kenapa serius begitu ?".


"Sudahlah kalian ini jangan bertengkar terus!".


"Daniel yang mulai duluan bi".


"Becanda kak, kenapa emosi terus sih ?".


Dyoza tidak menjawab apapun ia hanya menatap geram pada adik sepupunya itu.


"Sayang"


Dyoza menoleh ke sumber suara yang tidak asing di telinga nya, ia terpaku menatap sosok yang ia rindukan itu.


"I,ibu ayah". Dyoza menghambur ke dalam pelukan ibunya bergantian memeluk ayahnya. Tubuhnya bergetar saking kegirangan melihat ke-dua orang tuanya.


Bibi Hanum dan Daniel pun menyambut kedatangan ayah dan ibu Dyoza, bibi Hanum yang sudah mengetahui kepulangan kakaknya pun sudah tidak terkejut lagi.


"Ayah ibu kenapa tidak bilang kalau pulang ? aku kan bisa menjemput kalian di bandara".


"Kalau bilang duluan namanya bukan surprise dong". Ucap ibunya tersenyum


"Aku merindukan ibu".


"Ayah tidak ?". Saut sang ayah


"Tentu saja ayah juga, tapi yang paling ku rindukan ya ibu. Awwww sakit ayah".


"Dasar anak nakal". Ayah Dyoza menjitak kepala Dyoza dan Dyoza hanya terkekeh.


Melihat pemandangan hangat membuat shenna tersenyum sendu, rasa rindu pada ayah dan ibunya kembali menjalar. Matanya berkaca-kaca seolah menggambarkan betapa sakit hatinya menahan sesak akan kerinduan yang mendalam.


--


Keluarga yang sudah kembali berkumpul bersama kini sedang berada di ruang keluarga, mereka saling melepas rindu dan bersenda gurau.


Shenna tersenyum saat hendak memberikan teh hangat untuk para majikannya itu.


Saat hendak meninggalkan tempat tuan besar memanggilnya.


"Shenna kemarilah".


Dyoza mengernyit memperhatikan ayahnya.


"Ayah mengenal shenna ?". Tanyanya bingung


"Tentu nak, ini shenna anak kerabat ayah".


"Hah ? kerabat ayah ?".


Ayah shenna hanya mengangguk dan tersenyum seraya mengamit lengan shenna mengarahkan agar duduk tepat di samping nya.


"Ada apa paman ?".


"Paman ?". Dyoza bingung lagi


"Apa kamu sudah siap paman memberitahu Dyoza tentang keputusan paman dan ayah mu ?".


Shenna menegang dan begitu gelisah, Dyoza hanya mengerutkan keningnya merasa ada hal yang ayahnya sembunyikan darinya.


"Tenang sayang". Ibu Dyoza mengusap punggung shenna dengan lembut.


Dyoza semakin di buat bingung, kenapa kedua orang tuanya begitu dekat dan menyanyagi shenna ? bukan kah ini kali pertama mereka melihat shenna.


"Tunggu! ada apa ini sebenarnya ? kenapa ayah dan ibu bisa mengenal shenna ? dan hal apa yang ingin kalian bicarakan ?". Dyoza bertanya tanpa jeda


"Sayang kalau bertanya itu satu-satu!". Ucap ibu Dyoza lembut


Ayah Dyoza menarik nafas panjang.


"Dyoza dengarkan ucapan ayah! Shenna ini adalah anak dari Pak Dito teman lama ayah, dulu sekali saat ayah mengalami kesulitan ayah shenna lah yang menolong keluarga kita hingga seperti sekarang."


"Ayah dan beserta yang lain mencari sahabat pak Dito yang telah membawa kabur semua aset perusahaan milik ayah shenna, tapi saat mendengar kenyataan ternyata ia mengalami kecelakaan tunggal, mobilnya masuk jurang dan terbakar. Semua berkas penting ikut terbakar di dalamnya".


"Ayah terlalu fokus mencari orang itu hingga ayah lupa keadaan dan keberadaan pak Dito dan keluarganya, yang membuat ayah menyesal adalah mereka bekerja sebagai pelayan dirumah kita". Ayah Dyoza meneteskan air matanya.


"Maafkan paman ya nak!". Ayah Dyoza mengusap kepala shenna dengan lembut dan penuh kasih sayang, begitupun ibu Dyoza tangannya tidak lepas memeluk shenna.


"Apa ini hal yang ingin ayah bicarakan ?". Tanya Dyoza penasaran


"Bukan hanya ini, tapi ada hal yang lebih penting dari ini".


Dyoza menatap ayahnya dengan tatapan serius.

__ADS_1


"Dulu sekali kalian berdua masih bayi, ayah dan Ayah shenna berjanji akan saling menjaga anak kami dengan cara menikah kan kalian berdua jika besar nanti".


Mata Dyoza membulat penuh dengan mulut menganga. Bibi Hanum seketika mengusap kasar wajah keponakannya itu, sedangkan Daniel begitu terkejut tentang kabar yang baginya sangat buruk.


"Ma, maksud ayah a,aku akan me,menikah dengan shenna ?".


"Apa kau bisa menerima shenna sebagai istri mu nak ? Jangan pandang dia sebagai pelayan disini, karna mulai hari ini Shenna akan ayah berhenti kan. shenna tidak pantas menjadi pelayan. Shenna terlalu berharga".


Shenna hanya menunduk tidak berani menatap orang-orang di sekitarnya, ini terlalu tiba-tiba membuatnya bingung harus bersikap bagaimana.


Dyoza menatap shenna, sebenarnya ia sangat bahagia mendapat kabar ini. Hanya saja ia harus bersikap seolah-olah biasa saja, justru yang ia khawatir kan adalah apakah shenna mau menikah dengan nya.


"Seharusnya ayah bertanya dengan shenna, apakah ia mau menikah denganku ?".


"Ayah juga harus memastikan bahwa anak ayah setuju, karna shenna sudah setuju dengan pernikahan ini".


Mendapat jawaban yang ia harapkan tentu saja hatinya begitu berbunga-bunga, ia tersenyum dan menunduk agar tidak terlalu terlihat bahwa dirinya sangat bahagia.


Daniel menatap shenna dengan penuh rasa kecewa, ia hanya menyandarkan punggungnya lalu menarik nafas dalam.


"Ehhem, ya kalau ini memang sudah menjadi keputusan ayah dan ibu. Aku setuju!."


"Syukurlah ayah senang mendengar nya, nak kau dengar kan Dyoza setuju". Ayah Dyoza memeluk shenna dan mengecup pucuk kepala Shenna.


Dyoza tersenyum bahagia, ia menatap shenna dengan lembut. Bagaimana bisa ini semua terjadi, kalau tahu begini dia tidak akan mengemis meminta kesempatan pada shenna. Toh ternyata mereka sudah di jodohkan sejak bayi, ahhh ayah menyebalkan kenapa tidak pernah bilang dari dulu. begitulah suara hati Dyoza saat ini.


"Ayah tapi ada syaratnya!."


"Dyoza jangan macam-macam". Ucap ibunya mengancam


"Tidak macam-macam Bu".


"Apa syarat nya ?".


"Aku tetap ingin shenna Melayaniku, bukankah ia akan menjadi istri ku dan akan melakukan kewajiban nya sebagai istri ? ya hitung-hitung latihan menjadi istri yang baik untuk ku!".


"Kak, kau ini jangan ngelunjak!". Daniel angkat bicara


"Diam kau anak kecil, tahu apa kau tentang pernikahan!".


Daniel hanya menggerutu mendapat serangan telak dari kakak sepupu nya itu.


"Kalau tentang itu, kau harus bertanya pada shenna sendiri nak! bukan ayah yang memberikan keputusan".


"Bagaimana shenna ?". tanya Dyoza


Shenna menatap Dyoza dingin dan mengangguk kaku.


"Terimakasih ya nak, paman bahagia kamu setuju menikah dengan anak paman yang tidak berguna itu".


"Ayah!!!".


"Shenna yang harusnya berterimakasih pada paman dan bibi, shenna bahagia paman dan bibi sudah mau memberikan perawatan terbaik untuk ayah".


"Tunggu! ayah shenna sakit ?".


Mendengar anaknya bertanya akhirnya ayah Dyoza pun menjelaskan apa yang terjadi pada teman lamanya itu.


"Pergilah berkunjung saat kau libur nak!".


"Baik ayah, aku akan melihat calon mertua ku bersama shenna".


Mendengar kata calon mertua membuat Daniel menahan geram, bisa-bisanya gadis yang ia cintai menikah dengan kakak sepupu nya. Bagaimana ia harus bersikap kalau begini.


--


Shenna menatap wajah Dyoza yang masih terlelap, rasanya begitu tenang. Ia menunggu Dyoza bangun agar bisa segera mandi.


"Kenapa tidak bangun juga ?".


"Dyoza". Dengan terpaksa shenna membangunkan nya.


"Dyoza bangun! kau harus bekerja, ini sudah hampir lewat jam tidurmu".


"Dyoza".


"Kenapa susah sekali ?".


Saat shenna hendak pergi, Dyoza menarik lengan shenna hingga ia terjerembab di atas tubuh Dyoza.


"Ka,kau sudah bangun ?". Tanya shenna terkejut


Bukannya menjawab, justru Dyoza memeluk shenna erat.


"Dyoza a,apa yang kau lakukan ? Dyoza!".


"Sssssttttt aku masih ingin tidur, aku sangat ngantuk".


"Ta,tapi..

__ADS_1


"Diamlah! kenapa kau berisik sekali". kata Dyoza yang masih terpejam memutus ucapan shenna.


Shenna pun menurut, ia tidak bergerak lagi membuat Dyoza tersenyum tipis. dan mengarahkan shenna ke sampingnya lalu memeluknya seolah shenna adalah guling.


Detak jantung shenna berdebar begitu cepat, ia menahan dada Dyoza dengan kedua tangannya agar tidak menempel langsung pada tubuhnya.


"Dyoza kau harus bekerja". Bisik shenna


"Tentu, kalau tidak bagaimana bisa aku menafkahi mu nanti". jawabnya lirih


"Bangunlah! aku bukan guling". shenna memberontak


"Kau harus terbiasa nanti karna aku akan seperti ini saat tidur bersama mu, anggap saja ini latihan".


Shenna membulatkan matanya menatap sang empu yang masih memejamkan matanya dengan setia.


"Kau sudah mulai jatuh cinta padaku ?". Ucap Dyoza membuka matanya tiba-tiba.


Shenna terkejut seperti seseorang yang ketahuan mencuri, ia pun menunduk dengan rona merah diwajahnya.


"Kenapa wajahmu memerah ?".


"Dyoza lepas!! mau sampai kapan kau memelukku seperti ini ?".


"Kenapa, kau Gugup ya ?".


"Lepas tidak ?".


"Tidak!".


Dyoza semakin mempererat pelukannya membuat shenna merasa gerah, padahal AC di kamar Dyoza cukup dingin.


"Dyoza kau jangan macam-macam!!".


"Siapa yang mau macam-macam ? kenapa otak mu berfikiran kotor!".


"Siapa yang berfikiran kotor ?".


"Kamu, masa aku ?".


Dyoza membungkam mulut shenna dengan telapak tangannya, karna sedari tadi shenna begitu berisik apalagi shenna memberontak terus ingin di lepaskan.


"Awww kau gila ya! Awwww aargghh".


Dyoza mengerang kesakitan karna tangannya di gigit oleh shenna dengan keras, hingga meninggalkan bekas gigitan. Saat Dyoza sedang kesakitan, shenna mengambil kesempatan untuk kabur.


"Shenna kemari kau!!".


Shenna lari terbirit-birit dan segera keluar dari kamar Dyoza.


"Dasar gila!". Ucap shenna menggerutu sambil mengusap dadanya saat sudah berada di luar kamar.


Ia berjalan menuju dapur berniat untuk membantu kepala pelayan, namun niatnya terurung saat tuan besar memanggilnya.


"Ada apa paman ? apa paman butuh sesuatu ?".


"Tidak nak! kemarilah". Ayah Dyoza menepuk sofa agar shenna duduk di sampingnya.


Shenna menurut dan melihat Arkan sedang duduk di depannya.


"Ada apa paman ?".


"Kau pasti sudah mengenal Arkan bukan ? arkan ini anak dari ajudan paman, Arkan sudah paman anggap sebagai anak paman sendiri."


Shenna mengangguk menatap Arkan. Bahkan bukan cuma mengenalnya, apa yang akan ayah Dyoza pikirkan ya jika ia tahu aku dan Arkan adalah mantan kekasih. Begitulah suara hati shenna.


"Jika kau butuh sesuatu bilang saja pada Arkan, karna ia yang akan mengurus keperluan kau dan Dyoza."


"Ta,tapi paman shenna bisa mengurus kebutuhan shenna sendiri".


"Kau bisa minta antar Arkan jika kau ingin membeli sesuatu".


"Tidak perlu ayah! karna aku yang akan mengantarkan shenna kemanapun ia mau".


Mereka menoleh ke sumber suara bersamaan dan menemukan Dyoza berjalan menghampiri mereka.


"Tapi nak kau kan pasti sibuk".


"Apa bedanya dengan Arkan ayah ? bukankah Arkan harus selalu bersamaku saat bekerja ?".


"Baiklah! kau atur saja bagaimana enaknya, ayah mau ke taman dulu."


Ayah Dyoza beranjak meninggalkan mereka bertiga, shenna segera berdiri dan izin untuk kebelakang. Sedangkan Dyoza menatap Arkan sekilas dan menuju mobil di ikuti oleh Arkan.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komentar positif nya yaaaa 🥰


__ADS_2