Mantanku Majikanku

Mantanku Majikanku
terkejutnya Arkan


__ADS_3

Sudah satu Minggu setelah pertemuan Dyoza dan Giska , kini Dyoza sedang berada di ruang kerja dirumahnya. jari tangannya mengetuk-ngetuk meja kerjanya sambil menatap layar laptop di depan nya dengan malas dan beralih pada email yang berisi undangan reuni SMA .


Arkan yang sedang duduk di depan Dyoza pun masih fokus dengan pekerjaan nya tanpa mengalihkan matanya sedikitpun.


"Ar."


Arkan menatap Dyoza.


"Ada apa tuan ?."


Menutup layar laptopnya.


"Apa kau bisa hadir bersama ku saat reuni nanti ?."


"Haruskah aku ikut tuan ?."


"Entahlah, tapi kalau kau tidak ikut rasanya aku merasa ada yang aneh."


"Bukankah tuan bisa pergi bersama nona shenna ?."


"Hah ? kau yang benar saja, shenna itu pelayan dirumah ini."


"Bukankah nona shenna itu juga teman 1 SMA tuan ?."


"Ya, memang tapi....


"Tapi kau tidak tahu kalau dia mantan kekasih ku."


"Tapi apa tuan ?".


"Sudahlah, lupakan kau tidak akan mengerti!."


Arkan hanya mengangguk pelan, tidak mau memperpanjang masalah reuni itu lagi.


**


Di dalam kamar shenna menatap email yang terus menerus ia baca, rasanya ia enggan sekali datang ke reuni SMA itu. Bukan hanya merasa malu, ia tidak sanggup bertemu dengan sahabat nya yang tidak pernah bertanya kabar padanya saat tahu shenna menjadi miskin.


Entahlah, ia rasa selama ini sebenarnya dirinya memang tidak mempunyai sahabat. Saat masih di atas pun semua orang tidak tulus padanya apalagi saat ini, itu yang selalu ada dalam pikiran shenna.


Shenna beralih memainkan ponselnya, ia membuka kotak pesan. Sepertinya malam ini Arkan tidak mengirim satu pesan pun untuknya, itu yang ada di benaknya sekarang.


"Apa aku yang harus mengirimnya pesan lebih dulu ya ? Tapi, apa tidak memalukan ?."


Shenna menimbang-nimbang keinginannya untuk mengirim pesan pada Arkan.


"Selamat malam tuan, selamat beristirahat."


Klik


Ya, akhirnya shenna memberanikan dirinya mengirim pesan lebih dulu pada Arkan.


Ia memejamkan matanya menyentuh dada kirinya, detak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


Di ruang kerja Arkan membuka pesan dengan penuh senyuman, seperti mendapat harta Karun yang beratus-ratus tahun terpendam di dalam tanah.


Dyoza mengerutkan keningnya melihat reaksi Arkan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


"Apa ada pesan kau mendapatkan hadiah milyaran rupiah sampai kau sebahagia itu ?."


"Ah, tidak tuan hanya sebuah pesan biasa."


"Lalu, kenapa wajah mu memerah seperti udang rebus ?."


"Benarkah ?."


Memegang pipinya.


Dyoza mengangguk.


"Mungkin saya dehidrasi tuan."


Arkan segera meminum air miliknya dan menghabiskan nya.


Dyoza semakin heran dengan tingkah sekretaris nya itu, benar-benar bukan seperti Arkan yang ia kenal.


"Gadis mana yang membuat Arkan jadi seperti itu ?."


"Kau sudah selesai Ar ?."


"Sudah tuan."


"Pulang dan istirahat lah! apa kau mau menginap di sini ?."


Arkan melihat jam di tangannya.


"Sepertinya saya pulang tuan."


"Baiklah kalau begitu."


"Kalau begitu saya permisi tuan, selamat beristirahat."


Dyoza mengangguk dan segera menutup layar laptopnya saat Arkan hilang dari pandangan nya.


Arkan menuruni anak tangga, ia berjalan menuju mobilnya.


"Arkan kau baru mau pulang ?."


"Kepala pelayan. Kau belum tidur ?."

__ADS_1


"Kau ini selalu saja menjawab pertanyaan ku dengan sebuah pertanyaan."


Arkan tersenyum.


"Bibi kenapa belum tidur ?."


"Aku belum mengantuk, apa kau mau menemaniku minum teh ? Dyoza selalu saja menolak saat ku ajak minum teh."


"Banyak pekerjaan beberapa Minggu ini bi, tuan Dyoza butuh istirahat."


"Kau ini terlalu sayang padanya, sampai ia seperti tidak hormat padamu sebagai orang yang lebih tua darinya."


"Aku yang seharusnya menghormati nya bi."


"Ah kau ini sama seperti ayah mu, ayah mu yang selalu membela ayah Dyoza jika aku bilang ia bersalah."


"Sudahlah bi jangan bahas masalah itu, sudah tugasku menjaga Tuan Dyoza kan ?."


"Kau ini selalu saja banyak bicara. Ayo ikut bibi!."


Arkan mengangguk dan menggandeng bibi Hanum menuju taman belakang untuk meminum teh bersama.


Shenna yang sudah di beritahu kepala pelayan hanum untuk menyediakan tiga cangkir teh tampak terkejut melihat Arkan yang duduk bersama kepala pelayan.


"Silahkan kepala pelayan dan silahkan tuan."


"Nona shenna kau mau kemana ?."


Shenna berhenti saat hendak meninggalkan tempat.


"Sa,saya mau kembali ke kamar kepala pelayan."


"Aku kan sudah bilang padamu, temani aku untuk minum teh ?."


"Hah, saya ?."


"Duduklah!."


Arkan melirik shenna dan memberi tanda untuk duduk dan shenna pun mengindahkannya.


"Nah kalau begini suasana jadi semakin hangat bukan ?."


Arkan dan shenna tersenyum manis.


"Arkan, bibi rindu dengan suasana seperti ini."


"Apa ? bibi ?."


Shenna bertanya-tanya.


Kepala pelayan melirik shenna yang wajahnya nampak bingung.


"Sa,saya...


"Kau pasti bingung kan apa yang ku ucapkan Barusan ?."


Shenna mengangguk ragu.


"Arkan itu sudah aku anggap seperti keponakan ku sendiri, dia ini anak dari sahabat nya kakak ipar ku, suami kakak ku. Dari kecil Arkan selalu bermain bersama Dyoza, yang membedakan antara Arkan dan Dyoza adalah Arkan ini anak mandiri dan tidak pernah menyusahkan kedua orangtuanya. Berbeda dengan Dyoza yang selalu merengek minta ini itu."


"Bibi sudahlah, tidak pantas bibi menceritakan hal ini. Tuan Dyoza sudah berubah."


"Kau ini selalu saja begitu, bahkan Dyoza tidak bisa jika tanpamu."


Shenna hanya tersenyum kaku mendengar nya.


"Jadi, tuan Arkan bukan orang biasa."


Shenna menunduk dalam-dalam wajahnya merasa malu dengan dirinya sendiri.


Arkan yang memperhatikan nya pun mengalihkan pembicaraan.


" Nona Shenna bukankah kau satu SMA dengan Tuan Dyoza ?."


"Hah, saya tuan ? i,iya tuan."


"Ar, apa kau tidak tahu ?."


"Apa bi ?."


"Shenna ini mantan kekasih nya Dyoza."


Deg


Jantung Arkan berdesir hebat, matanya membulat lebar pandangan menatap ke arah shenna nampak terkejut. Lalu, ia segera menepis dengan bersikap biasa.


"Benarkah ?."


Kepala pelayan mengangguk pasti.


"Apa itu benar Nona shenna ?."


Dengan Rasa gelisah shenna mengiyakan pertanyaan Arkan.


"Nona shenna, maafkan perlakuan Dyoza saat itu ya. Aku tidak menyangka kau jadi bahan taruhannya, anak itu sungguh memalukan."


Arkan semakin terkejut mendengar perkataan bibi Hanum.


"Sudahlah kepala pelayan, itu sudah lama sekali dan saya tidak mau mengingatnya kembali."

__ADS_1


Shenna berkata dengan sangat lembut dan senyuman yang memaksa. Entah, tiba-tiba rasa sakit itu hadir kembali.


"Maafkan aku ya nona shenna, aku tidak bermaksud untuk mengingatkan kejadian yang sudah lama sekali. aku hanya kesal saat tau Dyoza melakukan hal itu pada seorang wanita."


Shenna tersenyum menutupi luka yang terbuka kembali.


Sedangkan Arkan menatap lurus ke arah lain dan tatapan nya terlihat kosong.


Nafasnya sedikit tercekat di dada, entah rasanya seperti mendapat pukulan telak saat mendengar nya.


"Apa ini memang kebetulan ?."


Arkan nampak bingung.


"Ar, kenapa kau diam ?."


"Ti,tidak bi."


"Tuan Arkan baik-baik saja ?."


"Ya, aku baik."


Tatapannya sendu pada shenna.


.


.


.


**


"Kau sedang apa Shen ?."


"Kak Sinta kau mengagetkanku."


"Hehe maaf, apa kau mau keluar rumah ?."


"Apakah boleh kak ?."


"Tentu, ini kan hari libur."


"Kenapa baju ku jadi terlihat jelek semua begini."


"Kau mau kencan ya ?."


Shenna melirik pelayan senior itu.


"Kak, kau jangan bilang-bilang dengan yang lain ya!!."


"Kenapa, kau malu ya ?."


"Kakak aku mohon!."


"Iya, tenang saja! Apa tuan Arkan sudah menunggu mu ?."


"Kok kakak tahu ?."


"Ya ampun shenna, sikap tuan Arkan itu terlalu menonjol. Hanya orang yang tidak melihat saja yang tidak menyadari nya."


"Ah, kakak."


Shenna merajuk manja pada Sinta yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.


"Tuan Arkan benar-benar bisa jatuh cinta rupanya, hihi."


"Kak, jangan menggodaku seperti itu. aku sungguh malu."


Shenna menutup wajah dengan kedua tangan nya.


"Shenna kau tahu, tuan Arkan itu mempunyai sifat yang hangat jika sedang tidak marah-marah. banyak pelayan disini yang mengaguminya. Dia laki-laki baik selama ini tidak pernah aku mendengar rumor buruk tentang nya. Sini aku bantu untuk mencocokkan pakaian."


"Aku heran kak, kenapa bajuku berubah jelek semua."


"Hahaha bukan berubah jelek, tapi rasa gugup mu yang membuat semuanya terasa seperti itu."


Sinta masih sibuk mencari dan mencocokkan pakaian untuk Shenna.


"Ini semua bagus, kenapa kau bilang jelek ?."


Shenna menyengir ria.


"Nah ini cocok, pakailah!."


Shenna masuk ke dalam kamar mandi dan memakai pakaian yang di pilih kan oleh Sinta. Dan tidak butuh waktu lama untuk Shenna berganti pakaian.


"Kau benar-benar cantik shenna."


"Terimakasih kak."


Sinta tersenyum manis .


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2