
"Maafkan aku shenna, maafkan aku". Ucapnya lirih menatap punggung shenna yang semakin jauh.
Shenna berjalan dengan deraian air Mata, malam ini dia ingin pulang berjalan kaki saja. Akan lebih baik sampai rumah dengan perasaan yang membaik, shenna tidak menyangka hubungan nya kandas lagi dengan cara seperti ini.
"Sudahlah shenna jangan menangis lagi, Jangan sampai kau menjadi gadis paling menyedihkan di hadapan mereka." Gumam shenna.
"Hubungan ini sudah berakhir, saatnya bangun dari mimpi yang entahlah ini indah atau buruk". Sepanjang jalan shenna bergumam sendiri hingga tidak memperhatikan jalan. saat hendak menyeberang sebuah mobil hampir menyerempet diri nya.
"Aaaaaaaaaaaaa".
Tinnnnnnnnnnnnnnn....... Suara klakson panjang berbunyi dengan keras.
Shenna berjongkok menutup telinga dengan kedua tangannya.
"Hei bosan hidup ya ?". Suara keras mendekat dari sang pengemudi mobil.
Shenna tidak bergeming ia masih di posisi yang sama, tubuhnya bergetar hebat.
"Kau tuli ya ?." Masih membentak membuat shenna semakin takut.
Melihat shenna yang masih terdiam sosok itu berjongkok tepat di depan shenna, memperhatikan dan sadar melihat tubuh shenna gemetar sosok itu menarik nafas panjang.
"Hei kau tidak apa-apa ?". Ragu untuk menyentuh. "Tenanglah aku tidak akan memarahi mu!." Mencoba menenangkan. "Kau mau kemana ? berdirilah biar aku antar".
Dengan perlahan shenna menatap sosok itu, air matanya mengalir tanpa permisi. Membuat sosok itu semakin merasa bersalah karna sudah membentaknya.
"Ayo aku antar, berdirilah! aku bantu". Shenna masih terdiam. "Tenanglah aku bukan orang jahat! sumpah." shenna menerima uluran tangan dari sosok itu dan masuk ke dalam mobil.
"Minumlah! tenangkan dirimu. Maaf ya aku sangat panik, jadi meneriaki mu Barusan." Mencoba menjelaskan dengan lembut.
"A,aku aku yang minta maaf, aku tadi melamun.". Shenna berbicara saat ia sudah sedikit tenang.
"Kau mau kemana ? ohh iya aku Daniel, dan kau ?". Mengulur kan tangan.
"Aku shenna". membalas uluran tangan Daniel.
"Oke shenna, sekarang kau mau kemana ?".
"Aku mau pulang". Suara shenna sudah semakin tenang di telinga Daniel.
"Biar aku antar".
"Ti,tidak perlu! sebenarnya sebentar lagi juga sampai."
"Kau tidak perlu sungkan, aku juga ingin berkunjung ke rumah bibi ku di komplek ini."
"Ta,tapi Tuan".
"Hei kenapa kau memanggilku seformal itu ? panggil saja aku Daniel oke, Daniel!".
"Ba,baik tu maksud ku Daniel."
"Naahhh itu lebih enak di dengar nya. Oke shenna tunjukkan rumahmu!".
Tanpa menunggu jawaban, Daniel menancapkan gas.
Hanya butuh waktu 5 menit mereka sudah sampai tepat di depan pintu gerbang.
"Ini rumah mu ?."
"Sebenarnya ini bukan rumah ku, tapi rumah majikan ku."
"Jadi, kau bekerja di sini ?."
Shenna mengangguk.
Tin..tin..
__ADS_1
"Kenapa kau menyalakan klakson ?". Shenna terlonjak kaget.
"Aku mau masuk." Ucapnya santai.
"Ke,kenapa kau harus masuk, ini rumah majikan ku nanti apa kata mereka aku membawa laki-laki kesini ?". Jantung shenna berdebar hebat.
"Kenapa kau panik begitu ?". Daniel memasukkan mobil nya setelah gerbang di buka oleh salah satu tim keamanan.
Shenna terkejut melihat salah satu tim keamanan membuka pintu mobil Daniel dan menyambut nya.
"Selamat datang Tuan Daniel." Ucap pak Doni.
"Terimakasih pak, bapak apa kabar ?". menjabat tangan pak Doni.
"Saya baik Tuan, Kepala pelayan sudah menunggu sedari tadi."
"Jadi, dia keponakan kepala pelayan. Itu artinya dia dengan Dyoza....
"Iya pak, kalau begitu aku masuk ya pak. Ayo shenna!".
"A,aku lewat pintu belakang saja. Terimakasih atas tumpangannya tuan." Shenna berlari menuju kamar tanpa menoleh lagi.
"Pak apa tugas shenna dirumah ini ?".
"Nona shenna bertugas melayani kebutuhan tuan Dyoza, apa tuan Daniel mengenal Nona shenna ?".
"Aku baru mengenal nya beberapa menit yang lalu, baiklah kalau begitu aku tinggal ya pak ?".
"Silahkan tuan".
--
"Selamat malam bibi".
"Daniel". Bibi Hanum melebarkan kedua tangan nya. Mereka saling berpelukan.
"Aku merindukan mu bi".
"Bi kau ini selalu membuat rambut ku berantakan, nanti para wanita di sini tidak menyukaiku bagaimana ?". terkekeh
"Kau ini anak nakal, jangan menganggu para wanita ku ya!".
"Tidak bisa bi, wanita di sini cantik-cantik. Ah ampun Bi ampun." bibi Hanum menjewer telinga Daniel.
"Anak nakal".
Di dalam kamar, Dyoza yang sudah melihat kedatangan sepupunya sedikit merasa aneh, karna saat keluar dari mobil ia melihat shenna bersama Daniel.
"Bi, kemana kakak sepupuku yang manja itu ?".
"Dia ada di kamar, kau temuilah dia. Akhir-akhir ini Dyoza sedikit murung." Mata bibi hamun terlihat sendu.
"Ada apa Dengan nya bi ? apa dia putus cinta ? hahahaha".
"Kau ini, sepertinya lebih parah dari itu."
"Hah benarkah ?." Daniel menggeser duduknya lebih dekat. "Ceritakan padaku bi". Bersemangat." aku ingin tahu siapa wanita yang membuat nya seperti itu, setelah aku tahu aku ingin mencium tangan wanita itu bi, hehe. Awww sakit bi, kenapa senang sekali menjewer telinga ku sih". Daniel mengusap telinganya yang sudah berubah warna kemerahan.
"Kau jangan menggoda Dyoza, dia itu kakak mu juga."
"Ayolah bi walaupun dia lebih tua dari ku tapi aku merasa aku lebih tua darinya".
"Tetap saja kau harus sopan dengannya, jangan membuat nya marah. Bibi yang pusing juga kan ?".
"Hehe iya bibi, aku sangat menyayangi nya walaupun dia kakak sepupu yang paling menyebalkan".
"Kau bilang apa barusan ?". Suara yang tidak asing bagi Daniel membuat nya terlonjak kaget.
__ADS_1
"Hehe". Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tidak bertemu selama beberapa tahun kau sudah tidak sopan seperti ini ?". Ucapnya datar.
"Aaaahhh kakak aku kan hanya bercanda, kenapa serius begitu ?". Menggelayuti pundak Dyoza.
"Lepaskan!."
"Kau marah ?".
"Aku bilang lepas!".
"Hei aku baru datang, kau tidak merindukan ku ?". Merengek
"Bibi pulangkan anak ini kembali ke orang tuanya, baru datang sudah buat onar". Dyoza hendak meninggalkan tempat, Daniel gelagapan.
"Bibi". Merengek lagi.
"Dyoza jangan menakutinya seperti itu!".
"Aku tidak menakutinya bi, aku bersungguh-sungguh". Masih dengan wajah datar.
"Kakak ayolah, aku kan hanya bercanda kenapa kau jadi sensitif begini". Mulai kesal sendiri.
"Bibi aku nanti akan mengadu pada ibuku, biar dia dimarahi. Adiknya datang bukannya di sambut malah mengusir. Dasar kakak kejam".
"Dyoza". Ucap bibi Hanum sambil mengusap punggung Daniel.
Dyoza masih terdiam dan melirik adik sepupunya yang sudah ia anggap sebagai adik kandung, Dyoza memang menyayanginya.
"Dyoza". Masih merayu.
"Hah menyebalkan, kemarilah!". Dyoza melebarkan kedua tangan nya tanda ingin memeluk adik sepupunya yang membuat nya jengkel.
"Hehe, kakak aku merindukan mu". Kegirangan.
"Dasar menyebalkan, kau sudah besar jangan merengek seperti bayi". Menjitak Kepala Daniel.
"Awww sakit kak, bibi!!".
"Dyoza".
"Apa bi ? anak ini memang menyebalkan".
"Tapi, kau merindukanku kan ?".
"Tidak!".
"Bibi". Merengek lagi.
"Sudah ku bilang jangan merengek seperti bayi".
"Makanya jawablah dengan jujur".
"Iyaa iyaa aku merindukan mu".
"Nahh begitu kan enak di dengar".
Bibi hanum tersenyum melihat dua keponakan nya yang saling menyayangi satu sama lain, sungguh bahagia melihat nya. Andai saja...
Ah sudahlah, melihat dua keponakan nya saja ia sudah sangat bahagia.
--
Like
komen positif
__ADS_1
🥰🥰
Happy reading..