Mantanku Majikanku

Mantanku Majikanku
Kesedihan Kalya


__ADS_3

Sudah 2 bulan berlalu Kalya menjalani hari-hari nya seperti sebelumnya, monoton.


Hari ini seperti biasa Kalya berbelanja di tempat langganannya, ia sedang mendorong troli nya dengan pelan sambil mengecek catatan berisi kebutuhan sehari-hari nya.


Tanpa sengaja ia melihat seorang laki-laki menjatuhkan sesuatu dari tangannya, Kalya pun segera memanggil dan mengejar nya.


"Maaf permisi tuan, ini dompet anda jatuh." Ucap Kalya sedikit teriak


Laki-laki itu pun menoleh lalu seketika mengerut kan keningnya.


"Terimakasih ya!." Ucapnya sopan


"Iya sama-sama, lain kali hati-hati."


"Eh tunggu!!."


Kalya berhenti saat laki-laki itu memanggil nya.


"Ya ?."


"Sepertinya kita pernah bertemu ?."


Kalya menautkan kedua alisnya dan berfikir. Namun nihil, ia tidak ingat sama sekali.


"Maaf tuan tapi sepertinya anda salah orang."


"Tidak,, benar kok. kamu Kalya kan ?." tebak laki-laki itu


"Bagaimana bisa anda kenal dengan saya tuan ?."


"Jangan formal begitu, aku Zidan sahabat Daniel." Zidan menyodorkan tangan nya.


Kalya tercengang lalu menjabat tangan Zidan dengan senyum canggung dan sedikit celingak-celinguk seperti mencari seseorang.


"Tidak usah khawatir, aku sendirian kok. Kebetulan Daniel tidak ikut."

__ADS_1


Kalya hanya tersenyum tipis.


"Yasudah kalau begitu saya permisi ya tuan."


"Zidan, panggil saja Zidan atau panggil senyaman nya saja kecuali tuan."


"Mmmhh baik kak, kalau begitu saya permisi."


"Sampai jumpa lagi Kalya." Zidan melambaikan tangannya.


"Kalau aku cerita tentang kejadian hari ini Daniel pasti akan heboh dan menyesal karna tidak ikut." Gumam Zidan


Suara ponsel membuyarkan lamunan Zidan, ia mengecek nama seseorang yang menelpon nya.


"Wahhh panjang umur sekali anak ini."


Kalya sudah berada di rumah sejak 1 jam yang lalu, kini ia sedang duduk menonton kartun sambil makan cemilan.


Sepertinya libur kerja hari ini akan di habiskan dirumah saja, ia malas untuk keluar rumah selain ada hal penting. Contohnya membeli kebutuhan sehari-hari.


"Ayah ibu, apa kau benar-benar tidak menyisakan satu saja keluarga untuk anakmu ini ? Aku benar-benar kesepian."


Kalya menundukkan kepalanya lalu meringkuk di atas sofa yang ia duduki saat ini. Dadanya terasa sesak, matanya memanas dan akhirnya ia kembali meneteskan air mata.


Jika bunuh diri itu tidak dosa mungkin sudah lama Kalya tidak ada di dunia ini, kalau bukan karna Lula yang selalu ada untuknya mungkin Kalya benar-benar sudah tidak sanggup lagi.


Namun terkadang di saat sendiri seperti ini rasa kesepian itu muncul kembali, hanya menangis jalan satu-satunya yang Kalya lakukan. Terkadang ia akan datang ke cafe hanya untuk duduk dan melihat teman-teman nya bekerja.


Terkadang pula Lula akan meminta izin pulang lebih cepat untuk menemani Kalya agar tidak merasa kesepian, untunglah mereka mempunyai atasan yang baik jadi meskipun lelah akibat bekerja mereka tetap merasa bahagia tanpa tekanan dari atasan.


--


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau kau bertemu dengan Kalya ?." Teriak Daniel frustasi


"Menurutmu apa dia akan menunggu dan senang bertemu dengan mu begitu ?."

__ADS_1


Daniel diam, benarkan dugaan Zidan Daniel pasti heboh setelah tahu ia bertemu dengan Kalya.


"Setidaknya aku melihatnya tanpa tahu keberadaan ku."


"mau jadi penguntit ?."


"Sialan!."


"Sudahlah jangan frustasi begitu dan aku lihat seperti nya Kalya hidup dengan baik tanpa kehadiran mu."


"Apa maksudmu ?."


"Hehee kenapa kau berubah menjadi pemarah begitu sih ?."


"Kau selalu menyebalkan."


Zidan hanya menyengir kuda mendengar ucapan sahabat sekaligus atasannya itu. Sejujurnya ia hanya ingin menggoda saja.


"Temui lah sesekali, siapa tahu Kalya sudah bisa menerima kehadiran mu."


Daniel menyentuh kening Zidan dengan punggung telapak tangannya.


"Apaan sih ?." ucap Zidan menepuk tangan Daniel


"Wahhh seperti nya kau salah makan."


"Kau ini!! setidaknya muncul lah dalam keadaan keren."


"Aku selalu keren dan itu semenjak aku di lahirkan di dunia ini."


"Huekkkkkk." Zidan berpura-pura muntah


"Sahabat laknat!!! Ahh aku begitu merindukan nya, semoga saja saat aku menemuinya dia tidak akan mengusir ku."


"Aku akan membantu mu dengan doa."

__ADS_1


Daniel memutar bola matanya pertanda malas mendengar kata-kata Zidan.


__ADS_2