Mantanku Majikanku

Mantanku Majikanku
Daniel bodoh


__ADS_3

Kalya menutup mulutnya dengan kedua tangannya, matanya membulat. Seketika tubuhnya bergetar. Sedangkan Daniel membeku di tempatnya, Zidan menghampiri dengan perasaan berkecamuk.


"Kalya kau tidak apa-apa." Ucap sang manager


"Maaf pak saya tidak sengaja." Ucap Kalya bergetar


"Tidak apa-apa Kalya. Jangan Kalya nanti tanganmu terkena pecahan beling." Ucap Rian saat Kalya hendak membersihkan


"Tapi pak."


"Sudah biarkan saja!."


Tidak lama kemudian staff laki-laki datang membawa peralatan untuk membersikan pecahan gelas, tatapan para tamu sudah beralih ketika sang manager meminta maaf atas kejadian yang membuat para pengunjung merasa tidak nyaman.


"Sebenarnya ada apa ini Tuan ?." Ucap Rian menatap wajah Daniel


"Maaf aku tidak sengaja, aku hanya ingin berbicara dengan Kalya."


"Mohon maaf Tuan jika saya lancang, tapi apakah anda tidak bisa menunggu saat Kalya pulang ?."


"Tidak bisa, karna ini sangat penting."


"Tapi urusan kita sudah selesai." Ucap Kalya sedikit berteriak


"Kalya pelan kan suaramu." Titah Rian


"Ma,maaf pak."


"Ada apa ini ?." Ucap bara yang sengaja menghampiri


Kalya terkejut mendapati bara yang datang menghampiri.


Saat Rian hendak memberikan penjelasan tiba-tiba Daniel menyerobot.


"Ini bukan urusanmu. Tidak ada hubungannya Dengan mu, cepat pergi!."


"Tentu saja ini menjadi urusanku, karna cafe ini milikku."


Sontak saja mata Kalya membulat penuh mendengar ucapan bara barusan.


"Hah kau pikir aku percaya padamu ?." Ucap Daniel mengejek


"Aku tidak butuh kepercayaan mu, jadi tidak perlu membuang-buang waktu."


"Maaf pak saya akan menyelesaikan masalah ini." Ucap Rian formal


"Tidak perlu, masalah dengan dia aku anggap selesai. Sekarang karyawan ku perlu di kasih pelajaran karna sudah mencampur adukkan masalah pribadi ke tempat kerja."


Air mata Kalya tanpa permisi mengalir setelah mendengar ucapan bara, kini ia pasrah dengan keputusan bara. Ia yakin ini adalah hari terakhir nya bekerja.


"Mau kau apakan Kalya, hah ?."


"Itu bukan urusan anda Tuan." Ucap bara dingin


"Kalau kau berani macam-macam aku akan buat perhitungan padamu."


"Daniel sudahlah, kau hanya memperburuk keadaan ini." Zidan menengahi


"Diam kau sialan."


"Lanjutkan makan kalian, itu pun kalau masih berselera."


Bara menarik tangan Kalya agar ikut bersamanya, sedangkan Daniel hanya menatap geram sang pemilik Cafe. Ia sadar pemilik cafe itu mengusirnya secara halus.


Sedangkan Rian pergi tanpa permisi.


Kini Kalya sudah berada di ruang manager, ia berdiri di hadapan Bara dan Rian.


Rian sedikit takut kalau Bara akan memecat Kalya, sebab Kalya salah satu staff yang kinerjanya sangat baik. Bahkan tidak pernah perhitungan dengan waktu.


"Bara Kalya itu salah satu staff terbaik kita di sini." Bisik Rian


"Kau boleh keluar."


Rian terkejut karna ia di usir dari ruangan nya sendiri.


"Ta, tapi."

__ADS_1


"Keluar." Titah nya lagi


"Baiklah." Rian berdiri lalu menepuk pundak Kalya


"Apa-apaan Rian pake pegang-pegang segala."


Bara berdiri setelah memastikan Rian sudah keluar dari ruangan, tentu saja Kalya sangat ketakutan saat ini. Ia hanya bisa pasrah dan menahan air matanya yang sedari tadi mencelos begitu saja.


"Kalya."


"Maafkan sa,saya kak eh ma,maksud saya pak."


"Panggil saja saya senyaman nya kamu."


Mendengar bara yang berkata dengan sangat lembut membuat Kalya mendongak menatap Bara, Kalya semakin bingung karna bukannya marah justru sekarang Bara sedang tersenyum padanya.


"Kakak." Ucap Kalya lirih


"Kau baik-baik saja Kalya ?."


Hiks....


Kalya kembali menangis karna bara adalah orang kedua yang bertanya apakah dirinya baik-baik saja, tentu orang pertama yang selalu mengkhawatirkan dirinya adalah Lula.


"Hei kenapa menangis ?."


"Maaf, aku tidak bermaksud mencampur adukkan masalah pribadi ku."


"Sudahlah aku yang harusnya minta maaf karna sudah menakuti mu."


"Maksud kakak ?."


"Duduklah!."


Bara mengamit kedua tangan Kalya dan menatapnya.


"Aku hanya menggertak Tuan sombong itu, agar ia sadar ia telah menyusahkan orang lain."


"Jadi, kakak tidak akan memecat ku ?".


Bara terkekeh mendengar ucapan Kalya.


"kakak."


Kalya tersipu, kini wajahnya memerah karna malu.


"Aku sedikit terkejut karna ternyata laki-laki yang kamu ceritakan itu adalah Tuan Daniel ?."


"Kakak mengenalnya ?."


"Siapa yang tidak mengenalnya ? dia itu anak tunggal dari pengusaha sukses. Bahkan yang ku dengar dia akan menggantikan posisi ayahnya menjadi pemimpin di perusahaan ayahnya sendiri. Bahkan yang mengajari Tuan muda itu adalah kakak sepupu nya."


"Tentu sama arogannya dengan si Daniel itu."


Kalya semakin terkejut mendengar penjelasan dari bara, ia semakin menciut.


"Kenapa kau terkejut begitu, apa kamu tidak tahu siapa dia ?."


Kalya mengangguk pelan.


"Hahahaha."


"Kenapa kakak tertawa ?."


"Jadi selama ini kamu tidak pernah menanyakan siapa dirinya ?."


"Pentingkah ?."


"Kalau dia berniat jahat padamu bagaimana Kalya, kau ini perempuan. Bahkan dia sering main kerumah mu untuk makan malam."


"Ya aku bersyukur dia tidak sejahat itu kak."


"Ya kau benar, walaupun dia sedikit arogan tapi dia di didik dengan baik oleh orangtuanya."


"Kakak tahu banyak tentang Tuan Daniel ?."


"Tidak begitu pasti tapi Ayah dan ibunya berteman dengan orang tua ku. Aku hanya tahu dia saat dia masih sangat kecil dan aku pernah bermain dengannya. Setelah itu dia pergi sekolah ke luar negri, dan tentu saja dia tidak akan mengingat ku karna aku dan dia hanya bermain bersama beberapa kali saja."

__ADS_1


"Sudahlah tidak perlu membahas lagi, sekarang kau sudah baik-baik saja kan ?".


Kalya mengangguk


"Terimakasih kak, kau sudah menenangkan ku untuk kedua kalinya." Ucap Kalya sedikit canggung


Bara tersenyum dan mengusap puncak kepala Kalya, sontak saja hal itu membuat jantung Kalya berdesir.


"Sialan pemilik cafe itu, beraninya dia mengusir kita" Ucap Daniel kesal


"Sudahlah Daniel, kan sudah ku bilang jangan gegabah. Kenapa kau tidak menunggu nya sampai pulang kerja. Sekarang kita kan tidak tahu apa yang terjadi pada Kalya, kalau dia di pecat bagaimana ?."


Daniel tercengang dan merasa frustasi. Ia sadar berkat dirinya Kalya menjadi susah dan sekarang Kalya pasti semakin membencinya.


"Kenapa aku bodoh sekali." Ucap Daniel lirih


"Kenapa kau baru sadar ?." Zidan menggeleng


"Hahhhhhh." Daniel membuang nafas kasar


"Lalu apa rencanamu sekarang ?." Sambung Zidan


"Kerumahnya."


"Kerumah siapa ?."


"Tentu saja Kalya, kenapa kau jadi bodoh begini sih ?." Daniel berdecak kesal


"Hei aku bodoh karna kamu, heran aku kenapa bisa punya sahabat seperti mu Daniel. Untuk membersihkan otak sendiri saja kau tidak bisa."


"Kau ini benar-benar sialan!!."


"Aku tidak mau ikut, aku akan pulang sekarang. Aku lelah mengikuti caramu!."


"Pergi sana!!!."


Daniel kesal dengan sahabatnya itu yang hari ini seperti tidak mendukungnya sama sekali.


Dan saat ini ia sedang berada di depan rumah Kalya, menunggu Kalya.


"Aku akan meminta maaf padanya, aku akan mengajaknya bekerja di perusahaan milik ayah. Aku akan menjadikan Kalya sekretaris ku nanti, dia pasti tidak akan menolaknya." Sungguh rencana yang bagus menurutnya.


Tidak lama kemudian Kalya pun tiba dengan wajah lelahnya, saat melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya ia pun bergegas mendekat.


"Kalya."


"Ada apa lagi tuan, masih belum puas menyusahkan saya hari ini ?." Ucap Kalya seraya memasukkan kunci pada pintu.


"Aku hanya ingin minta maaf."


"Sudahlah tuan, silahkan pulang saya mau istirahat. Saya sangat lelah hari ini."


"Aku mohon, aku minta maaf. Sungguh aku benar-benar minta maaf, maaf untuk kejadian hari ini. Aku ingin kau menjadi sekretaris ku, bekerja lah dengan ku."


"Apa maksudmu ?."


"Aku tahu kau sekarang menganggur karna ulahku tadi, pasti pemilik cafe sialan itu sudah memecatmu kan ? dasar tidak berguna."


Kalya mengeram kesal mendengar celotehan Daniel yang semakin tidak jelas itu.


"Cukup!!! Apa tidak bisa kau diam sedikit saja ?."


Daniel terkejut mendapati Kalya yang membentaknya, bahkan ini untuk pertama kali.


"Saya tidak akan pernah bekerja dengan anda, dan apa yang tadi tuan katakan ? sialan ? tidak berguna ? Tuan pemilik cafe itu bahkan mengampuni saya karna dia sadar siapa yang salah. Apa Tuan tidak malu dengan dia ? bahkan dia bisa berpikir jernih. Argh sudahlah, silahkan pergi saya benar-benar kehabisan tenaga menghadapi anda."


Daniel melongo melihat wajah Kalya yang sangat kesal padanya, Lalu ia terkejut saat Kalya sedikit membanting pintu saat menutup.


"Astaga, kenapa dia menyeramkan seperti itu saat sedang marah ?." Daniel bergidik ngeri lalu dengan berat hati ia menyeret kakinya menjauh dari sana.


-


-


-


Bersambung...

__ADS_1


...Sadar banget sih tulisan aku ini datar-datar aja tidak seperti author hebat lainnya tapi, aku cuma mau menuangkan imajinasi ku ini yang tidak semenarik novel lainnya. Bahkan cenderung membosankan, tapi gak apa-apa semoga sedikit membantu kalian menghilangkan jenuh saat dirumah aja meskipun cerita nya biasa-biasa aja....


__ADS_2