Mantanku Majikanku

Mantanku Majikanku
Amarah Dyoza


__ADS_3

Dyoza sudah selesai mengganti pakaiannya yang basah, ia kembali duduk dan menikmati makanan yang tersedia masih di temani oleh Arkan.


Suara petikan gitar dari salah satu pelayan laki-laki membuat kepala mereka mengangguk-angguk mengikut irama musik yang merdu.


mereka semua bernyanyi bersama sambil menikmati santapan nikmat malam ini.


Malam semakin larut udara semakin dingin membuat acara pesta barbeque semakin nikmat di rasa, shenna sangat ceria malam ini bersama para pelayan lain.


Dyoza pun sedang asyik mengobrol dengan para chef dan tim keamanan, mereka begitu akrab antara satu dengan yang lainnya. Arkan melirik ke arah shenna yang sedang menggosok kedua tangan nya tanda ia sedang kedinginan.


Arkan menghampiri shenna yang saat itu sedang duduk sendiri menikmati keindahan alam di malam hari namun masih dekat dengan kerumunan pelayan lainnya.


"Pakailah ini."


Arkan menyodorkan jaketnya pada shenna.


"Tu,tuan Arkan."


"Pakailah nanti kau sakit!."


"Ba,baik. terimakasih tuan."


Shenna pun memakai jaket milik Arkan dengan penuh rasa canggung. Aroma ciri khas Arkan menyeruak di hidung shenna yang mancung.


"Apa-apaan ini, kenapa seperti di peluk oleh pemilik jaket ini."


"kenapa apa jaket ku tidak membuat mu hangat ?."


"hah ? ah, tidak tuan ini sangat membuatku hangat. Terimakasih."


Senyum merekah shenna membuat hati Arkan terenyuh.


"Akhir pekan apa kau sibuk ?."


"Seperti biasa saya akan dirumah belakang menghabiskan waktu liburan saya, ada apa tuan ?."


"Aku mau mengajak mu liburan diluar, apa kau bersedia ?."


"Tuan mau mengajak saya berlibur ?."


"Ya. Apa kau mau ?."


"Sa,saya mau tuan."


"Baiklah."


"Tuan." Langkah Arkan terhenti saat hendak meninggalkan shenna.


"Lalu bagaimana dengan tuan Dyoza jika ia membutuhkan mu ?."


"Kau tidak perlu khawatir."


Arkan kembali melangkahkan kakinya tanpa menoleh pada shenna, tanpa shenna sadari ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka.


"Kenapa tuan Arkan begitu terang-terangan, jantungku jadi melompat-lompat setiap ia melakukan hal di luar dugaan ku, Apa ia menyukaiku ??."


Shenna menggeleng keras kepalanya.


"Tidak! sadar shenna kau hanya seorang pelayan. Dia hanya kasihan padamu, ya! tentu saja kasihan, laki-laki mana yang tega melihat seorang wanita kedinginan. hufff."


Shenna tampang murung setelah mendapat perlakuan manis dari Arkan, shenna merasa ia harus jaga jarak terhadap laki-laki manapun. Ia merasa Tidak percaya diri karna posisinya saat ini.


**


Acara pesta barbeque sudah usai satu jam yang lalu dan saatnya istirahat karna besok akan bekerja kembali. Dyoza tampak gelisah, ia berguling-guling di atas kasurnya dengan perasaan kacau. Bayangan kejadian Arkan memberikan jaket pada shenna masih terngiang-ngiang di isi kepalanya, bahkan tidak mau pergi saat shenna tersenyum manis untuk Arkan. Tanpa ia sadari seketika Dyoza sudah masuk ke alam mimpinya.


Seperti biasa shenna melakukan kembali aktifitas nya melayani kebutuhan Dyoza, tanpa mengetuk pintu ia menyelonong masuk ke dalam kamar Dyoza. Masih jam 04.35 shenna sudah berada di dalam kamar Dyoza, sengaja ia melakukan pekerjaan nya lebih awal.


"Syukurlah dia belum bangun."


Shenna mengambil pakaian kerja, kaos kaki berserta sepatu yang akan di gunakan Dyoza nanti.


"Kenapa aku merasa seperti menjadi istrinya saja."


"Ya Tuhan aku sungguh masih ingin memejamkan mataku, aku sangat mengantuk."


Gumaman kecil terlontar begitu saja dari bibir mungil shenna. Shenna duduk di sofa memperhatikan Dyoza dari jarak yg lumayan jauh, tanpa terasa ia memejamkan matanya dan tertidur dengan lelap.


Dyoza terbangun dari tidurnya pukul 05.30.


"Haus sekali."


Dyoza hendak mengambil air di atas meja yang tersedia, saat ia sedang minum air itu pun keluar begitu saja dari mulutnya.


"Sedang apa gadis bodoh itu, kenapa tidur di dalam kamar ku ?."


Dyoza beranjak dari tempat tidur nya dan menghampiri shenna yang sedang tertidur pulas.


"Apa dia tidak takut aku akan macam-macam padanya ?."


Dyoza memperhatikan wajah cantik shenna, yang masih setia memejamkan matanya.


"Cantik."


Kata-kata itu terlontar begitu saja dari bibir Dyoza, sampai ia menggeleng keras menyadari apa yang ia ucapkan Barusan.


"Shenna."


Menusuk-nusuk pipi shenna dengan jari.


Shenna tidak bergeming.

__ADS_1


"Shenna."


Masih setia dalam tidurnya.


"Shenna".


Teriak Dyoza begitu kencang.


Shenna mengerjapkan matanya dengan terkejut.


"Astaga tuan apa kau tidak bisa jika tidak berteriak ?."


memegang telinganya.


"Sedang apa kau di sini, kenapa kau tidur di dalam kamar ku ?."


Shenna melebarkan matanya ke arah Dyoza.


"Kenapa kau melototi ku seperti itu, sudah bosan hidup ?."


"Ahh, tidak tuan saya hanya terkejut. Maafkan saya, saya ketiduran."


"Bisa-bisanya kau tidur di saat jam kerja."


Ucapnya sengit


"Maaf."


Shenna menunduk merasa bersalah.


"hmm sudahlah tidak perlu memasang wajah melas begitu, aku tahu kau pasti kelelahan."


"Kau tidak marah padaku ?."


"Tidak!."


Senyum lebar terlukis di wajah shenna membuat Dyoza terpaku menatapnya.


"Sial, aku baru sadar ternyata shenna secantik ini. Ah tidak dia memang cantik dari dulu, tapi sekarang kenapa kadar kecantikannya meningkat ?."


"Tuan, kenapa kau melamun ?."


Dyoza gelagapan.


"Ti,tidak siapa yang melamun ?."


"Yasudah apa kau mau mandi sekarang ? biar ku siapkan air nya."


Dyoza hanya mengangguk .


**


Sedangkan di bawah sudah ada seseorang yang menunggu kehadiran Dyoza , Arkan yang selalu tepat waktu dalam urusan pekerjaan.


Arkan menangkap langkah seseorang menuruni anak tangga, seseorang yang pagi ini belum membalas pesan singkatnya .


Arkan berdiri menghampiri shenna yang tidak sadar sepasang mata milik Arkan sedang memperhatikan nya.


"Nona."


"Tu,tuan Arkan."


"Kau baru selesai melayani tuan Dyoza ?."


"Ya, begitulah."


Shenna tersenyum malu dan Hening tercipta antara mereka, shenna begitu gugup dengan sikap Arkan.


"Sedang apa kalian ?."


Shenna dan Arkan terkejut mendapati dyoza yang berada di antara mereka.


"Tuan kau sudah turun ?."


"Kenapa ? apa kau berharap aku telat hari ini ?."


ucapannya begitu ketus.


"Tidak tuan, bukan begitu."


"Dan kau, sedang apa kau disini ? tidak ada kerjaan ?."


Tatapan tajam Dyoza membuat shenna takut.


"Ma,maaf tuan. Saya permisi."


Tanpa melirik Arkan shenna segera menyelamatkan diri.


Dyoza dan Arkan hanya memandang punggung shenna yang semakin menjauh.


Arkan mempersilahkan Dyoza untuk segera sarapan.


Keheningan di antara mereka pun terjadi begitu saja saat di dalam perjalanan menuju kantor. Seribu pertanyaan masih terpendam di hati Dyoza, banyak sekali rasa penasaran yang ingin Dyoza tanyakan tentang Arkan dan shenna. Namun, Dyoza selalu memungkiri nya.


"Itu bukan urusanmu Dyoza, fokus!".


Begitulah isi hati Dyoza yang selalu terlontar tanpa suara, tanpa ada yang mendengar nya kecuali dirinya dan tuhan.


"ehemm, Tuan makan siang kali ini Nona Giska kembali menghubungi ku untuk bertemu denganmu, apa kau menyetujuinya ?."


Arkan membuyarkan lamunan Dyoza.

__ADS_1


"Kau atur saja."


"Baik, akan saya hubungi nona Giska kembali bahwa tuan mau bertemu dengannya."


Dyoza tidak menjawab ucapan Arkan, entah mengapa mood pagi ini tidak terlalu baik.


Pekerjaan Dyoza hari ini sungguh melelahkan bukan cuma tentang pekerjaan, tapi rasa penasaran tentang Arkan dan shenna masih menjadi salah satu hal yang ia pikirkan.


Beberapa kali ia berusaha tidak peduli namun semua gagal, semakin ia tidak peduli semakin kuat rasa penasaran nya.


"Tuan kau sudah siap ? nona Giska sudah menunggumu."


Tanpa jawaban Dyoza bangun dari duduknya dan keluar mendahului Arkan.


Arkan hanya mengerutkan keningnya, heran dengan sikap bosnya kali ini.


"Ada apa dengan nya ?."


**


Gadis cantik tersenyum lebar saat mendapati seseorang yang ia tunggu kehadirannya, dress soft pink begitu menyerap dengan warna kulitnya yang putih menampakkan keindahan pada dirinya.


Wajah datar Dyoza melukiskan rasa sakit di hati Giska, meskipun begitu Giska tetap berusaha menenangkan hatinya.


Arkan memilih tempat yang berbeda ia tidak mau menjadi nyamuk di antara mereka. Ia segera memesan makanan dan menikmatinya sendiri.


"Dyoza apa kabar ?."


Saat Giska Hendak memeluk, Dyoza lebih memilih duduk tanpa menghiraukan tindakan Giska.


Giska tersenyum getir, lalu ia segera bersikap seolah-olah semua baik-baik saja.


"Kau mau pesan apa ?."


"Tidak usah banyak basa-basi, ada perlu apa kau ingin bertemu denganku ?."


Giska menarik nafas panjang.


"Dyoza, aku rindu padamu. aku hanya ingin bertegur sapa denganmu."


"Untuk apa ? Bukankah kau lebih memilih untuk tidak bertegur sapa lagi denganku ? lalu kenapa kau mengingkari ucapan mu sendiri ?."


Suara datar terdengar di telinga Giska.


"Dyoza, aku...


"Apa kau di kecewakan olehnya ?."


Dyoza melipat kedua tangan di depan dadanya.


"Kenapa kau diam ?."


"Dyoza dengarkan aku!."


"Apa yang harus aku dengarkan ? Alasan kau menemui ku kembali, hah ? dengar Giska!! hatiku sudah mati untuk mu, sudah tidak ada ruang lagi di hatiku untukmu. Jadi, kembalilah seperti dulu yang lebih memilih menjauh dariku dan tidak akan menampakkan wajahmu lagi di hadapan ku!."


Air mata Giska mengalir begitu saja, kata-kata yang sudah ia persiapkan tercekat di tenggorokan. Hanya rasa sesak yang ia dapatkan saat ini.


"Cih, dulu mungkin aku akan menghapus air matamu. tapi sekarang rasanya aku begitu muak melihat nya."


"Dyoza cukup! bisakah kau tidak melontarkan kata-kata menyakitkan untuk ku ?."


"Heh apa kau tidak sadar dengan ucapan mu barusan ?."


Giska kembali terdiam, tatapannya begitu dalam pada Dyoza.


"Aku hanya berharap kau memaafkan ku."


"Aku sudah memaafkan mu."


Giska tersenyum sedikit mendapat harapan lagi.


"Benarkah ?."


"Tentu, aku akan memaafkan mu jika kau tidak pernah muncul lagi di hadapan ku."


"Dyoza, kenapa kau jadi berubah seperti ini ?."


Dyoza tersenyum sinis.


"Aku tidak berubah hanya saja kau tidak mengenal sisi lain dari ku."


"Aku tidak bisa jika harus menjauhi mu."


"Cukup! jangan membuat ku kesal! Dan satu lagi berhenti mengirim pesan pada Arkan, karna aku tidak akan menemui mu lagi. Ini untuk pertama dan terakhir kita bertemu lagi, mulai sekarang dan seterusnya menjauh lah seperti dulu."


Dyoza meninggalkan Giska tanpa menoleh sedikitpun, Arkan yang sedari tadi memperhatikan Dyoza mengerti suasana saat itu.


Giska menitihkan kembali air matanya, ia tidak menyangka Dyoza begitu marah padanya. bahkan sifatnya begitu berubah, tidak selembut dulu padanya. jangankan untuk marah, membentak pun tidak pernah terhadap Giska. Tapi, itu dulu sebelum Giska memutuskan hubungan dengan Dyoza.


_


_


_


Kayak kurang greget gitu yaa cerita nya?


Tapi, tunggu yaaa author lagi ngumpulin ide buat update selanjutnya. Maklum namanya juga emak" gabut kadang muncul ide kadang hilang begitu aja. Kadang lagi nyuci piring ide Dateng , pas beres nyuci piring itu ide hilang entar lari kemana πŸ˜… Bikin frustasi kan jadinya hihi ..


Minta komen positif nyaa biar aku makin semangat up nya, jujur komen kalian bikin mood ku melonjak sampe lompat-lompat πŸ₯°πŸ€—

__ADS_1


Lebaran ke-dua nih, sekali lagi minal Aidzin wal Faidzin ya semuanya πŸ™πŸ™


__ADS_2